Untuk Kamu

Bisakah kita menjadi satu bila jarakmu terlalu jauh.

Sudah setahun terakhir ini kita berpisah. Banyak sekali momen yang terlewatkan bersamamu di sini. Seperti sebuah reuni SMP kita dulu, hampir semua alumni datang dan mereka mencarimu. Di reuni itu aku jadi tahu ternyata banyak sekali penggemar rahasiamu. Mereka berterus terang dan bercerita padaku, aku tersenyum mendengarnya.

Aku juga bertemu dengan teman-teman band-mu saat SMA. Kau ingat Fredy? Dia sekarang berada di Jepang, menjadi sound engineer. Mereka semua berkumpul saat tanggal di mana kalian perform untuk pertama kalinya di panggung. Mereka mengundangku sebagai perwakilanmu.

Terakhir saat pergantian tahun. Aku hanya pergi sendiri melihat pesta kembang api. Oh iya, Ibu juga meneleponku. Menanyakan kabar tentangku dan mengucapkan selamat tahun baru. Beliau sangat baik, tak lama setelah itu aku bertemu dengannya. Menemaninya jalan-jalan di pusat perbelanjaan.

Dan kini sudah setahun kita berpisah. Entah kenapa aku selalu merasa kamu masih berada di sampingku. Apa kamu juga merasakan hal yang sama? Kemungkinan gaya magnet kita juga menipis, aku merasakan itu. Perlahan mulai redup dan mungkin akan hilang.

Aku rasa sudah waktunya aku menjalani lembaran baru. Semoga kamu senang dengan keputusanku.

Terakhir dariku, jangan cemaskan aku di sini. Semoga istirahatmu di sana masih selalu damai bersamaNYA.

Di pusaramu, 01-12-2013.

Advertisements

Melodi September

Pernahkah kau mengharapkan sesuatu yang mungkin tak akan pernah ada?

Aku pernah

Saat ini, setahun yang lalu, tiga tahun yang lalu, dan saat tahu aku tak bisa

Layaknya melodi sebuah lagu

Mendayu-dayu galau

Aku tak mengharapkan itu

Melodi yang bertempo tinggi, Rock, Electro, semacam itu

Setiap ketukannya membuatku berdebar-debar

Yang ketukannya membuatku susah untuk bernapas

Itu yang kuharapkan, melodi September

September yang berdebar

Aku menunggunya

Berharap aku yang memainkan melodinya

Walau aku tahu aku tak bisa

Untuk alasan tertentu.

Kisah Tentang Hujan

Bila bicara tentang hujan, aku menyebutnya memori.

Bila bicara tentang angin, aku menyebutnya kenangan.

Bila bicara tentang dingin, aku menyebutnya ciuman.

Bila bicara tentang petir, aku menyebutnya pelukan.

Bila bicara tentang basah, aku menyebutnya kehangatan.

Tapi bila bicara tentang aku, apakah kamu akan menyebutnya cinta?