Lima Menit Kemudian

Sepi, setelah ditinggal oleh laki-laki bertopi hitam itu aku terdampar di sebuah ruangan gelap. Aku tak tahu, tetapi yang jelas sepertinya aku berada di sebuah aula besar di gedung paling mewah di kota ini. Oh iya laki-laki bertopi hitam itu membawaku sampai ke ruangan ini dengan sangat hati-hati. Bahkan melewati beberapa tempat yang menurutnya aman. Entah tujuannya apa yang jelas sepertinya ia ingin melindungiku.

Sinar, aku melihat sinar kecil yang mengarahku. Mungkin sinar dari senter kecil. Siapa?

“Oh di sini kau rupanya? Aku hampir lupa tempatmu berada?”

Ternyata laki-laki bertopi hitam itu. Dia membawa tas hitam yang lumayan besar. Tak lama kemudian aku tak dapat melihat apa-apa.

Walau begitu aku dapat mendengar samar-samar suara yang ada dan juga sinar kecil dari senter yang terlihat tak silau walau sinarnya mengarah padaku seperti saat ini. Setelah itu sinar itu benar-benar hilang. Kembali gelap.

Detik  kembali berdetik hingga menjadi menit bahkan jam. Aku tahu betul sudah berapa jam aku berada di sini. Hampir empat jam aku sudah berada di sini. Sendiri. Dalam kegelapan.

Oh tunggu. Aku melihat sebuah sinar, sepertinya dari ruangan aula itu. Lampu-lampunya sudah dinyalakan. Ah iya, aku mendengar dari laki-laki bertopi itu kalau aula ini akan digunakan untuk sebuah acara, orang-orang penting kota ini bahkan negara sepertinya akan berada di dalamnya. Sepertinya acaranya akan mewah sekali.

Tak beberapa lama kemudian terdengar banyak suara dari aula itu. Dari tempatku berada sepertinya aku sudah tak berada di aula. Walau begitu aku tahu tempatku dari aula itu tak terlalu jauh jaraknya. Aku masih dapat melihat sinar dan mendengar suara dari aula tersebut walau samar-samar.

Sejam kemudian, ah aku sangat yakin atas keberadaan waktu walau aku tak melihat jam sama sekali. Sepertinya acaranya sudah mulai, terlebih lagi tadi aku mendengar samar-samar dari wakil presiden. Hampir lima menit beliau berbicara untuk sambutan. Aku yakin tapi aku tak terlalu dengar apa yang beliau katakan.

Dua puluh menit kemudian suara dari aula itu terdengar gaduh. Aku tak tahu apa yang terjadi di sana. Aku juga mendengar beberapa orang berteriak-teriak. Sepertinya terjadi sesuatu di sana.

Tak lama kemudian aku melihat sinar kecil yang sepertinya sinar senter seperti beberapa jam yang lalu aku lihat. Laki-laki bertopi hitam itu kah?

“DI SINI!”

Aku mendengar jelas teriakan seseorang. Sangat dekat.

Dia membawaku ke tempat yang lebih terang. Hmm, bukan laki-laki bertopi itu ternyata. Walau begitu ternyata ada beberapa orang yang memandangiku dengan raut muka yang terlihat seperti menonton film horor.

“SIAL. Tinggal lima menit lagi. Bagaimana ini?” kata seseorang di antara mereka yang kini mulai cemas.

Detik per detik menjadi menit. Benar seperti orang berpakaian lengkap sekali untuk melindungi dirinya itu katakan. Lima menit lagi.

“Aku baru melihat ini selama aku berkerja. Jenis baru. Ketua bagaimana?”

“Ah gawat! Waktunya semakin cepat berdetik.”

Mereka cemas. Aku juga cemas dan aku sudah tak melihat apa-apa lagi saat jantungku berhenti berdetik. Yang kuingat terakhir kali orang-orang tadi berlari menjauh dan sepertinya mereka tak berhasil menyelamatkan diri mereka.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s