Sepasang Sepatu Tua

Hari ini aku kembali melihat kakinya, Aku tak dapat melihatnya sedang melakukan apa, tetapi firasatku sama seperti sebulan yang lalu. Membuka lemari kaca kecil dan memasukkan sepatu barunya. Hampir setiap bulan dia membeli sepatu baru, entah itu baru atau sudah tangan kedua.

“Ma, Ma, sepatu yang bulan lalu aku beli di mana? Kok di lemari enggak ada,” teriaknya pada Ibunya yang kemungkinan sedang berada di dapur jika matahari mulai tenggelam.

“Di lemari enggak ada??!” teriak Ibunya yang sibuk memasak untuk makan malam.

“Enggak ada!!” beberapa detik kemudian rumah menjadi seperti hutan, saling teriak sahut menyahut yang mungkin dapat merusak telinga.

Perlahan aku melihat langkahnya, mondar-mandir di depan lemari kaca. Kakinya mulai terlihat menurun hingga aku dapat melihat dengkulnya. Perlahan pula aku dapat melihat wajahnya yang sudah lama tidak aku lihat. Semakin cantik, pikirku. Mungkin kalau aku dapat merona merah seperti dia saat pertama kali melihatku, aku akan terlihat seperti itu. Aku bahkan ingat matanya yang berbinar-binar itu, sekarang matanya sudah semakin indah.

Aku kini malah mengingat-ingat kisah kita berdua. Mungkin seharusnya aku menyebutnya kisahku sendiri, entah dia menganggapi aku sebagai kisahnya atau tidak.

Tiba-tiba aku kembali sedih. Ya entah sejak kapan aku berada di sini, walaupun ingat sepertinya aku tak kuat untuk mengingat cerita pertama kalinya aku dapat berada di sini.  Lucu, aku bahkan mengingat kembali cerita itu setiap kali aku melihatnya setiap bulan.

“Ma, Ma, apa ini bagus?” tanyanya waktu itu saat pertama kalinya. Aku hanya melihat dia dan Ibunya yang terlihat senang. Saat itu pula aku mengikuti mereka, khususnya dia.

Dia pergi, aku juga pergi. Bersama. Seirama langkah. Seharmonis bunyinya. Seindah aku melindunginya. Ya seperti itu kisahku. Romantis bukan? Aku menikmatinya dan mungkin dia juga ikut menikmatinya keberduaan kita. Ah, aku rindu masa-masa itu. Bahkan saat aku melihat matanya kembali aku dapat merasakan masa-masa itu.

Perlahan aku melihat tangannya diletakkan di lantai.

Apa dia melihatku?

Sepertinya tidak. Tangan itu tidak berusaha menggapaiku.

Dan kemungkinan pula aku baru akan melihatnya lagi sebulan kemudian, ya walau hanya sekadar kakinya dan sepatu yang mungkin juga akan berganti lagi saat yang sekarang kulihat perlahan menjauh dari lemari kaca. Saat tahu Ibunya sudah menemukan sepatu yang tadi ia cari dan menyuruhnya juga makan malam.

Semoga aku dapat melihat wajahnya lagi sebulan kemudian.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s