Kisah Tentang Hujan

Bila bicara tentang hujan, aku menyebutnya memori.

Bila bicara tentang angin, aku menyebutnya kenangan.

Bila bicara tentang dingin, aku menyebutnya ciuman.

Bila bicara tentang petir, aku menyebutnya pelukan.

Bila bicara tentang basah, aku menyebutnya kehangatan.

Tapi bila bicara tentang aku, apakah kamu akan menyebutnya cinta?

Writer’s Block, Stuck, atau Malas?

Ada yang pernah merasakan apa yang tertulis di judul post kali ini? Writer’s Block? Stuck? Malas? Sebagai penulis amatir slash pemula, saya ingin beropini atau mungkin lebih bermaksud sharing pada pembaca blog tentang situasi di mana kita penulis terpaksa berhenti dari kegiatan menulis. Entah itu sementara atau beberapa hari lamanya. Base on situations. Ingat post ini tidak bermaksud menggurui, hanya sekadar berbagi apa yang saya dapat.

Pertama yang harus saya katakan adalah Writer’s Block hanya mitos. Kenapa ditulis di judul kalau begitu? Oh, come on, siapa di sini yang menggunakan writer’s block sebagai alasan semata?

Contoh deh, lagi ada lomba cerpen tingkat nasional. Kalian pengen ikut nih, udah niat banget pas lihat informasi lomba atau poster lomba. Pas lagi nulis, enggak ada yang ditulis and mereka bilang, “Aduh kena writer’s block nih.” Ada? Ohh Ada, hal semacam ini ada. Bahkan sering ditemukan.

So, menurut saya “Writer’s Block” ini hanya sebuah alasan yang membuat orang percaya bahwa mereka sedang dapat situasi writer’s block.

Lalu, apa yang harus dilabelkan atas situasi di atas? Hmm, coba kalian pikir gini. Kalian punya tugas, apapun itu entah tugas kantor, sekolah, rumah, dan lain sebagainya. Lalu kalian enggak mengerjakan tugas-tugas itu dan mereka bilang, ” Ada urusan penting jadi enggak kerjain tugas.” Padahal enggak tahu urusan penting itu apa, just saying it to make a reason. What’s we called it? Mencari alasan lain untuk tidak mengerjakan tugas? Mungkin bisa kita jelaskan dengan satu kata. MALAS. Bisa? Bisa? Oh bisa jadi, bisa jadi!

Situasi seperti itu bisa dikategorikan sebagai malas. Mereka tak mau mencoba memulai untuk menulis walau itu hanya satu paragraf. Malas untuk tidak mengembangkan kreativitas yang ada pada diri mereka. Bukan malas untuk menulis, saya yakin semua orang bisa untuk menulis. Malas atau tidaknya dilihat dari mengembangkan kreativitas tersebut dan kemauan.

Lalu bagaimana kalau situasinya kita sudah mulai mencoba untuk menulis beberapa paragraf dan terhenti di tengah jalan, tidak dapat melanjutkan tulisannya sama sekali. Writer’s Block? Stuck? Oh no, itu hanya kekurangan ide untuk mengolah kata. Kekurangan ide untuk tulisan.

Banyak juga yang menggunakan kata stuck untuk situasi tersebut. Yang sebenarnya terjadi cuma kekurangan ide untuk menulis. Kalau dibilang stuck gak juga, karena apa? Begini, pernah enggak merasakan pas nulis lalu terhenti di tengah jalan tapi pikiran kita langsung bereaksi pada tulisan kita? Sebenarnya kita itu ingin melanjutkan tulisan yang terhenti itu tapi kita kekurangan ide untuk mengolah kata plus kita malas atau jenuh di depan layar. That’s it. Itu yang saya alami beberapa kali. Stuck itu kalau memang sudah enggak ada jalan lagi, jalan buntu. That’s stuck.

Bukan stuck, bukan writer’s block. BUKAN.

Bagaimana mengatasi hal-hal semacam itu? Banyak juga loh dari kita yang mengalami situasi tersebut hingga berminggu-minggu lamanya, bahkan saya pribadi pernah mengalami hal-hal tersebut.

Sederhana saja.

Pertama dimulai dari membaca. Oh baca apa saja. Entah itu komik, novel, bahkan artikel berita. Dari sana kita dirangsang untuk mengembangkan kreativitas kita dan rasanya ingin cepat-cepat menulis lagi. Ada yang pernah merasakan hal semacam itu?

Kedua, makan dan minum. Oh siapa sangka kedua aktivitas rutin ini membantu kita untuk dapat menulis? Dari makan dan minum tubuh kita mempunyai asupan untuk dapat bertahan lama di depan layar komputer. Jelas bahwa kedua hal ini diperlukan untuk me-refresh sejenak kerja otak dan tubuh. Jika sudah fresh wah ide bisa muncul di mana saja yang mereka suka.

Ketiga, mandi. Mandi? Oh ini untuk sebagian orang yang merasa bahwa mandi dapat me-refresh pikiran kita dan tubuh. Enggak salah untuk dicoba.

Keempat, keluar rumah. Di luar rumah kita banyak sekali kejadian-kejadian yang mungkin dapat menjadi sumber ide kita. Jadi keluar lah dari rumah kalian, pergi ke mana saja yang kalian suka atau yang belum kalian kunjungi. Cari apa yang menarik untuk kalian.

Kelima, menonton. Wah siapa yang enggak suka nonton, entah itu sekadar menonton video klip sebuah lagu hingga drama dan juga berita. Hal ini juga dapat mengistirahatkan sejenak otak kita yang selama tadi kita pakai untuk menulis dan juga sumber ide dan inspirasi.

Keenam, cari caramu sendiri. Wow, cobalah untuk bereksperimen untuk mencari idemu sendiri, mengistirahatkan otakmu sendiri. Entah itu tidur, olahraga, mendengarkan musik, bahkan menari dan memasak. Buatlah hal senyaman mungkin untuk diri kalian karena setiap orang berbeda-beda mengatasinya.

Jadi dalam menulis itu enggak ada yang namanya writer’s block atau stuck. Kita hanya kekurangan ide dalam menulis, malas untuk memulai, bahkan takut untuk mulai menulis. Terganggu oleh pikiran-pikiran negatif seperti, “Aduh tulisan gue enggak bagus nih, pasti enggak ada yang mau baca.”, “Gue takut tulisannya jelek nih.”, dan sebagainya.

Itu semua wajar saja, hampir semua penulis mungkin mengalami itu semua dan gak ada yang salah untuk itu. Yang menjadi pertanyaannya adalah bagaimana kita mengatasi itu semua? Itu yang harus kalian jawab dan temukan caranya sendiri.

Hal yang terpenting adalah jangan pernah takut untuk mulai menulis, jangan juga minder dengan tulisannya. Wajar saja kalau tulisan kita jelek, kita masih bisa mengeditnya kok. Jangan takut akan hal itu dan itu gunanya editing. Cari cara kalian sendiri untuk mengatasi situasi-situasi yang sudah dipaparkan atau situasi yang lain. There are many ways.

Keep Writing!

Lima Menit Kemudian

Sepi, setelah ditinggal oleh laki-laki bertopi hitam itu aku terdampar di sebuah ruangan gelap. Aku tak tahu, tetapi yang jelas sepertinya aku berada di sebuah aula besar di gedung paling mewah di kota ini. Oh iya laki-laki bertopi hitam itu membawaku sampai ke ruangan ini dengan sangat hati-hati. Bahkan melewati beberapa tempat yang menurutnya aman. Entah tujuannya apa yang jelas sepertinya ia ingin melindungiku.

Sinar, aku melihat sinar kecil yang mengarahku. Mungkin sinar dari senter kecil. Siapa?

“Oh di sini kau rupanya? Aku hampir lupa tempatmu berada?”

Ternyata laki-laki bertopi hitam itu. Dia membawa tas hitam yang lumayan besar. Tak lama kemudian aku tak dapat melihat apa-apa.

Walau begitu aku dapat mendengar samar-samar suara yang ada dan juga sinar kecil dari senter yang terlihat tak silau walau sinarnya mengarah padaku seperti saat ini. Setelah itu sinar itu benar-benar hilang. Kembali gelap.

Detik  kembali berdetik hingga menjadi menit bahkan jam. Aku tahu betul sudah berapa jam aku berada di sini. Hampir empat jam aku sudah berada di sini. Sendiri. Dalam kegelapan.

Oh tunggu. Aku melihat sebuah sinar, sepertinya dari ruangan aula itu. Lampu-lampunya sudah dinyalakan. Ah iya, aku mendengar dari laki-laki bertopi itu kalau aula ini akan digunakan untuk sebuah acara, orang-orang penting kota ini bahkan negara sepertinya akan berada di dalamnya. Sepertinya acaranya akan mewah sekali.

Tak beberapa lama kemudian terdengar banyak suara dari aula itu. Dari tempatku berada sepertinya aku sudah tak berada di aula. Walau begitu aku tahu tempatku dari aula itu tak terlalu jauh jaraknya. Aku masih dapat melihat sinar dan mendengar suara dari aula tersebut walau samar-samar.

Sejam kemudian, ah aku sangat yakin atas keberadaan waktu walau aku tak melihat jam sama sekali. Sepertinya acaranya sudah mulai, terlebih lagi tadi aku mendengar samar-samar dari wakil presiden. Hampir lima menit beliau berbicara untuk sambutan. Aku yakin tapi aku tak terlalu dengar apa yang beliau katakan.

Dua puluh menit kemudian suara dari aula itu terdengar gaduh. Aku tak tahu apa yang terjadi di sana. Aku juga mendengar beberapa orang berteriak-teriak. Sepertinya terjadi sesuatu di sana.

Tak lama kemudian aku melihat sinar kecil yang sepertinya sinar senter seperti beberapa jam yang lalu aku lihat. Laki-laki bertopi hitam itu kah?

“DI SINI!”

Aku mendengar jelas teriakan seseorang. Sangat dekat.

Dia membawaku ke tempat yang lebih terang. Hmm, bukan laki-laki bertopi itu ternyata. Walau begitu ternyata ada beberapa orang yang memandangiku dengan raut muka yang terlihat seperti menonton film horor.

“SIAL. Tinggal lima menit lagi. Bagaimana ini?” kata seseorang di antara mereka yang kini mulai cemas.

Detik per detik menjadi menit. Benar seperti orang berpakaian lengkap sekali untuk melindungi dirinya itu katakan. Lima menit lagi.

“Aku baru melihat ini selama aku berkerja. Jenis baru. Ketua bagaimana?”

“Ah gawat! Waktunya semakin cepat berdetik.”

Mereka cemas. Aku juga cemas dan aku sudah tak melihat apa-apa lagi saat jantungku berhenti berdetik. Yang kuingat terakhir kali orang-orang tadi berlari menjauh dan sepertinya mereka tak berhasil menyelamatkan diri mereka.

Tombol Pengingat

Apa yang kuingat dari kamu? Bibirmu? Wajahmu? Badanmu? Aku tak ingat. Benar-benar tak ingat. Apa perlu aku bersumpah pada Tuhan? Lalu, siapa kamu? Aku bahkan tak pernah melihatmu. Ini pertama kali aku bertemu denganmu, tapi kamu selalu berkata, “Aku kekasihmu? Kamu tak ingat?”

Aku hanya mengerutkan keningku. Aneh, entah itu aku atau dia. Sejak pertemuan pertama itu dia selalu mengikutiku, awalnya aku tak memperdulikannya, tapi lama-kelamaan aku risih. Dia mengikuti terus bahkan hingga sekarang.

“Berhenti! Aku tak suka ini!” teriak aku padanya yang sekarang hanya diam terpaku di tempatnya. Matanya terlihat sendu, aku jadi tak enak hati telah membentaknya seperti tadi. Kalau tidak begitu ia pasti akan terus mengikutiku kalau perlu ikut melompat bersama dari menara tower listrik. Apa dia akan mengikutinya, ya? Pikirku setelah berimajinasi seperti tadi.

Walau begitu ia tetap mengikuti aku berjalan, mengikuti terus hingga aku lelah. Mengapa dia selalu mengikutiku? Terakhir yang ku ingat hanya kegelapan.

Keesokan harinya dia bertemu denganku. Aku bahkan mengajaknya pergi bersama. Entah hanya ke rumah makan atau bahkan ke rumahku hanya sekadar menonton film, biasanya ia memilih untuk genre action. Aku ingat semuanya hingga ke film-film favoritnya.

Apa yang dia lakukan padaku?

Waktu itu ia pernah bertanya padaku, “Kamu enggak sadar? Kemarin kamu seperti tak tahu apa-apa, bahkan aku.” Entahlah aku tak ingat persis perkataannya waktu itu atau memang aku yang tak mau mengingatnya.

Ada yang salah? Aku tidak tahu, tapi tunggu! Mengapa aku berada di dunia ini? Aneh, aku tak ingat mengapa aku berada di dunia ini. Orang-orang menyebutnya Bumi II, sebuah planet yang tak banyak daratannya. Hampir didominasi air, begitulah yang aku lihat di buku yang berada di lemari dia. Banyak sekali buku-buku  yang berhubungan dengan listrik, fisika, kimia, dan teman-temannya itu.

Dari situ juga aku menemukan kalau ternyata Bumi mengalami perubahan karena sesuatu yang rumit kujabarkan, mungkin bisa sebuku yang kubaca. Intinya setelah berperangan yang besar dan perubahan cuaca paling ekstrim yang mempengaruh pada bencana yang luar biasa. Kini namanya pun berubah menjadi Bumi II karena fase tersebut sudah dilewati beberapa tahun yang lalu.

Beberapa jam kemudian aku sudah berada di sebuah ruangan, aku tak tahu mengapa aku berada di sini. Dia juga berada di sampingku tapi aku tak dapat melihatnya, aku hanya dapat merasakannya.

“Berhasil,” katanya samar-samar atau memang fungsi pendengaranku yang tak begitu berfungsi.

“Tombol ini berhasil aku ciptakan. Akhirnya kamu hidup kembali, sayang. Selamanya.”

Sepasang Sepatu Tua

Hari ini aku kembali melihat kakinya, Aku tak dapat melihatnya sedang melakukan apa, tetapi firasatku sama seperti sebulan yang lalu. Membuka lemari kaca kecil dan memasukkan sepatu barunya. Hampir setiap bulan dia membeli sepatu baru, entah itu baru atau sudah tangan kedua.

“Ma, Ma, sepatu yang bulan lalu aku beli di mana? Kok di lemari enggak ada,” teriaknya pada Ibunya yang kemungkinan sedang berada di dapur jika matahari mulai tenggelam.

“Di lemari enggak ada??!” teriak Ibunya yang sibuk memasak untuk makan malam.

“Enggak ada!!” beberapa detik kemudian rumah menjadi seperti hutan, saling teriak sahut menyahut yang mungkin dapat merusak telinga.

Perlahan aku melihat langkahnya, mondar-mandir di depan lemari kaca. Kakinya mulai terlihat menurun hingga aku dapat melihat dengkulnya. Perlahan pula aku dapat melihat wajahnya yang sudah lama tidak aku lihat. Semakin cantik, pikirku. Mungkin kalau aku dapat merona merah seperti dia saat pertama kali melihatku, aku akan terlihat seperti itu. Aku bahkan ingat matanya yang berbinar-binar itu, sekarang matanya sudah semakin indah.

Aku kini malah mengingat-ingat kisah kita berdua. Mungkin seharusnya aku menyebutnya kisahku sendiri, entah dia menganggapi aku sebagai kisahnya atau tidak.

Tiba-tiba aku kembali sedih. Ya entah sejak kapan aku berada di sini, walaupun ingat sepertinya aku tak kuat untuk mengingat cerita pertama kalinya aku dapat berada di sini.  Lucu, aku bahkan mengingat kembali cerita itu setiap kali aku melihatnya setiap bulan.

“Ma, Ma, apa ini bagus?” tanyanya waktu itu saat pertama kalinya. Aku hanya melihat dia dan Ibunya yang terlihat senang. Saat itu pula aku mengikuti mereka, khususnya dia.

Dia pergi, aku juga pergi. Bersama. Seirama langkah. Seharmonis bunyinya. Seindah aku melindunginya. Ya seperti itu kisahku. Romantis bukan? Aku menikmatinya dan mungkin dia juga ikut menikmatinya keberduaan kita. Ah, aku rindu masa-masa itu. Bahkan saat aku melihat matanya kembali aku dapat merasakan masa-masa itu.

Perlahan aku melihat tangannya diletakkan di lantai.

Apa dia melihatku?

Sepertinya tidak. Tangan itu tidak berusaha menggapaiku.

Dan kemungkinan pula aku baru akan melihatnya lagi sebulan kemudian, ya walau hanya sekadar kakinya dan sepatu yang mungkin juga akan berganti lagi saat yang sekarang kulihat perlahan menjauh dari lemari kaca. Saat tahu Ibunya sudah menemukan sepatu yang tadi ia cari dan menyuruhnya juga makan malam.

Semoga aku dapat melihat wajahnya lagi sebulan kemudian.

Mudik? Sekalian Wisata

image

Kali ini berkesempatan lagi untuk mudik setelah dua tahun lebaran di Jakarta yang jadi sepi tiba-tiba. Akhirnya tahun ini mudik ke Jawa Timur seperti biasa. Kali ini berbeda, sebelum mudik ke Batu kami sekeluarga berwisata dulu.

Kalau melihat foto di atas, kalian sudah dapat mengetahui ke mana kami berwisata. Jadi posting-an kali ini bermuat foto-foto kawasan Bromo yang saya dokumentasikan.

image

image

image

image

image

image

image

Sekian hasil wisata kami sebelum berada di Batu. Mungkin akan share lagi tempat wisata di Batu-Malang ini. Itu pun kalau kesempatan pergi ke tempat wisata. Atau kalian ingin cerita mudik kalian sambil wisata di blog kalian? Yuk kalau begitu. Hehe. Terima kasih.

Pagi, Agustus

Source Pict: Google

Apa benar malam itu sendu?

Tak ada yang tahu hati seorang perindu

Apalah hidup bila hanya menyesali

Berharap sakit tertusuk duri

Tak peduli hidup hanya sekali

Ingatkah engkau pada kelabu

Mengapa tak kau ingat tentang langit biru

Lalu mengapa engkau bersedih

Hanya karena seorang kekasih

Tak lihatkah engkau pada seseorang

Yang mungkin tulus sayang

Apa engkau masih dibutakan olehnya?

Bila begitu aku hanya dapat berdiri

Menatap birunya langit

Berharap suatu hari nanti

Aku menemukan pengganti

Atau masih terus menanti.