19 Tahun Sudah, Lalu Apa?

google doodle 26Tepat tanggal 26 Juli kemarin saya menginjak umur 19 tahun dan akan menjalani umur belasan terakhir. Tak terasa waktu cepat sekali bergulir tiap tahun. Rasanya kemarin baru bisa naik sepeda roda dua setelah nabrak pohon taman komplek. Ingatnya baru kemarin galau-in kakak kelas di tingkat sekolah dasar. Baru kemarin juga bercita-cita jadi pengusaha dan buat sekolah yang saya menjadi gurunya. Padahal itu semua sudah berpuluh tahun yang lalu. Rasanya terlalu cepat bahkan beberapa saudara saya kaget mengetahui saya sudah menginjak 19 tahun.

Makin bertambah tahun makin mengerti kehidupan, tiap tahun makin tahu tentang perkembangan. 19 tahun sudah, lalu apa?

Tak ada apa-apa, semua baik-baik saja. Hanya saja yang namanya hidup selalu berubah setiap waktu. Tak ada yang tahu apa yang akan terjadi ke depannya. Saya berdoa untuk masih dapat merasakan apa yang telah dirasakan 19 tahun ini. Tiba-tiba saya mengingat kejadian-kejadian selama 19 tahun ini, rasanya ingin menertawakan diri sendiri.

Ada yang bilang umur 19 tahun sudah mendekati yang namanya dewasa. Bagi saya sendiri dewasa tak dihitung dari umur seseorang. Jadi umur berapa saja anda bila tindakannya mencerminkan kedewasaan, umur tak lagi dilihat. Apa saya dewasa? Tidak, bagi saya. Masih terlalu dini dengan tindakan-tindakan saya yang tak mencerminkan kedewasaan itu.

Saya hanya ingin berterima kasih pada kalian yang masih mengingat saya, yang masih mengenal saya selama 19 tahun ini. Saya tersadar banyak yang sudah tak mengenal dan mengingat saya. Bukan salah mereka, itu salah saya. Selama 19 tahun ini terima kasih sudah menjadi bagian dari perjalanan hidup saya. It’s nice to know all of you.

Advertisements

DIGITAL LOVE: Kisah Kasihnya Dunia Maya

Jangan lihat yang lain, lihat bukunya saja! :p

Jangan lihat yang lain, lihat bukunya saja! :p

Kali ini berbeda, saya akan mencoba me-review buku ini dengan cara yang berbeda. Ya, seperti para anggota komunitas Blogger Kancut Keblenger yang mereka sebut dirinya Kawancut. Jangan tanyakan saya mengapa nama komunitas ini Kancut Keblenger, tetapi dari situlah terlihat beberapa Blogger komunitas ini sangat unik dan kreatif. Beberapa hari ini saya melihat beberapa blog mereka yang di-share oleh twitter @KancutKeblenger. Jadi kalau traffic blog kalian nambah satu, mungkin itu dari saya. Mereka semua kreatif semua, isi konten blog mereka bervariasi. Jadi dari situ saya mencoba dengan me-review buku perdana mereka dengan cara yang berbeda dari review buku-buku sebelumnya.

Well, nama buku mereka ini Kancut Keblenger: Digital Love. Yang pertama kali dipikiran saya adalah percintaan para robot-robot di tahun 2105 yang semua akan serba digital. Salah, buku ini bercerita tentang cerita beberapa anggota mereka yang pernah dan mengalami yang namanya relationship melalui internet. Ya, entah dari yang PDKT hingga ngajak pacaran lewat blog atau chatting. Saya sendiri enggak begitu akrab dengan hal seperti itu atau lebih ke arah enggak percaya. Setelah baca buku ini saya mengetahui bahwa hal-hal seperti itu memang ada.

Di salah satu bab ada tips dan trik pacaran online oleh Blogger ternama yaitu Alitt Susanto. Jadi memang ada cara-cara yang jitu untuk melakukan pacaran online tersebut. Lebih ke arah sinyal dan pulsa modem yang mencukupi sih. Tanpa kedua itu mungkin tak akan berjalan lancar yang namanya LDR (Long Distance Relationship)Β  Alitt juga berpesan kalau yang paling susah dari pacaran online itu adalah mempertahankan hubungannya setelah kopi darat.

Ada lagi cerita tentang Firdaus yang ternyata dia tertipu dengan pasangannya di dunia maya. Tertipu apa? Menurut saya ini kejadian yang memang aneh tapi ajaib dan mengenaskan. Jadi Firdaus ini tertipu oleh gender pasangannya, yang mengakunya perempuan, eh ternyata adalah laki-laki. Engak semua cyber love yang berakhir indah, tetapi ada yang mengenaskan seperti yang Firdaus katakan dan ceritakan.

Singkat kata, cerita dari beberapa Blogger ini menarik dan humor khas blog. Iya, jadi saya merasa seperti membaca blog mereka bukan seperti sedang membaca buku. Apa kalian juga ada yang merasa seperti ini? Walau begitu ciri dari masing-masing anggota memang bervariasi, dari gaya bertuturnya hingga humor yang tersaji. Mungkin itu yang menyebabkan saya merasa seperti membaca blog. A good point.

Nah, sesuai lombanya juga, kalau saya berada di beberapa cerita dari mereka saya pilih ceritanya Mutia Han (@mutialhanan). Iya jadi saya yang jadi operator warnetnya. Siapa tahu jodoh? Haha, bukan-bukan, ini bukan modus, bukan salah lagi. Ah balik lagi ke ceritanya, jadi kalau saya jadi Mutia mungkin saya akan mencoba untuk modus ke operator warnet yang lainnya, siapa tahu jodoh? Jadinya seperti pemburu operator warnet. Mungkin bisa dibikin FTV-nya segala, judulnya Cintaku di Bilik Warnet. Eh, ada yang aneh sama judulnya. Ah sudahlah yang penting formatnya jangan 3gp aja. :p

Sudah-sudah jangan bicara tentang jodoh, penulis review-nya jomblo sejak lahir. Agak sensitive sama kata jodoh dan kawan-kawannya. Overall buku ini memberi wawasan saya tentang yang namanya cyber love atau pacaran online. Mungkin sewaktu-waktu saya juga ingin mencobanya mungkin sama salah satu anggota Kancut Keblenger atau salah satu penulis Digital Love-nya. Haha, yang jelas buku ini gak hanya memberi wawasan pada saya tetapi menghibur dan tema yang diangkat menarik. Saya memberi 4 dari 5 bintang untuk buku ini.

PS: Jangan lupa approve saya di Kancut Keblenger ya? Sukses terus para anggotanya semoga bisa berpartisipasi di buku kedua nanti. :p Salam Kancut!

[Review] Always, Laila

Source: bukubukularis.com

Judul: Always, Laila

Penulis: Andi Eriawan

Penerbit: Gagasmedia

Cetakan: Kedua, 2013

Tebal: 240 halaman

Gemuruh di hatiku mereda sendirinya,

langit menjadi lebih cerah,

dan udara tak lagi menyesakkan dada.

Mungkin karena kutemukan

definisi lain dari cinta.

Makna tak lagi berasal dari pertemuan

dan rasa rindu membuatku bahagia.

Melihat cover dan blurb pada novel Always, Laila ini membuat saya bimbang saat berada di sebuah toko buku di Jakarta Pusat. Waktu itu saya memang sedang mencari-cari novel yang saya cari dan ketemu, tetapi saat itu juga di sebelah novel yang saya cari saya menemukan Always, Laila ini. Hal itu hanya masalah penghematan pengeluaran saja, walau begitu pada akhirnya saya membeli kedua novel tersebut termasuk Always, Laila ini.

Awal membaca novel ini saya baru mengetahui bahwa novel ini pernah terbit tahun 2004 dengan cover yang berbeda. Gagasmedia merilis ulang novel ini dengan cover baru. Tidak heran bila latar waktu tempat dalam novel ini pada tahun 1990-2000-an. Singkat cerita novel ini menceritakan tentang kehidupan Laila sejak bertemu dengan Pram hingga pada akhirnya berpisah dengannya. Simple? Yeah benar, terlihat simple kalau melihat secara garis besar seperti itu, tapi bila kalian membaca utuh novel ini kalian menemukan sesuatu yang baru, sesuatu yang menurut saya fresh dan tidak klise sama sekali.

Gaya tulisannya pun dibuat semudah mungkin untuk dimengerti oleh semua kalangan pembaca, tidak tergantung umur dan juga jenis bacaannya. Yang menarik bagi saya adalah chemistry dari kedua tokoh dalam novel ini Laila dan Pram. Kalau kalian membaca dari awal hingga akhir mungkin kalian akan menyayangkan ceritanya karena kedua tokoh ini saling mengisi satu sama lain, bisa kita bilang mereka memang berjodoh. Bahkan di ending cerita pun kekuatan dari kedua tokoh ini sangat kuat, bahkan saya tersadar bahwa blurb di belakang novel tersebut adalah sebuah puisi yang ditulis Pram.

Hal yang menarik lagi adalah bagaimana penulis menyisipkan beberapa adegan yang mempunyai sense humor sendiri. Saya membacanya terkikik geli karena walau tingkat humornya kecil tapi dapat membuat saya tersenyum saat membacanya dan masuk akal. Humor yang cerdas menurut saya dan tidak berlebihan. Entah apa memang ini gaya penulisnya atau bukan karena saya tidak membaca novel beliau yang lain. Yang jelas kalian tidak akan dibuat serius mungkin untuk membaca novel ini.

Keseluruhan cerita ini membuat saya penasaran apa yang akan terjadi di adegan berikutnya saat membaca. Bahkan saya menebak-nebak ending cerita ini, banyak adegan yang saya tebak untuk ending cerita tetapi hampir meleset semua yang mendekati benar hanya sebuah perpisahan abadinya. Dengan gaya penuturan penulis, endingnya membuat saya terkagum membacanya. Kedua tokohnya punya kekuatannya sendiri di ending.

Saya berharap menemukan cela tetapi mungkin saya kurang jeli jadi novel ini almost perfect menurut saya. Mungkin hanya saat di awal masih belum punya gambaran keseluruhan ceritanya jadi saya sempat berhenti membaca. Beberapa hari kemudian dibuat penasaran oleh review-review yang ada sehingga melanjutkan membacanya. Yang jelas saya menikmati membaca novel ini walaupun tengah malam sekalipun. I give 4,5 stars for this novel.

Challenge?

Source: google.com

Sudah lama rasanya tidak menantang diri untuk menulis novel kembali. Sejak 30 hari menulis novel bersama Noura Books Academy saya tak lagi menulis novel, cukup lama. Sudah setengah tahun yang lalu, tak terasa. Bukan berarti selama setengah tahun itu saya tak menulis. Saya coba menulis beberapa cerpen dan plot walau pada akhirnya tak dirampungkan. Selama itu pula saya mencari inspirasi di mana-mana, hasilnya tergelincir pada entertainment negeri ginseng sana. Tak lupa dengan kegiatan membacanya, saya lebih sering membaca manga di banding novel selama setengah tahun tersebut.

Selama setengah tahun itu juga saya kangen dengan menulis intens seperti saat menulis novel. Saya sendiri sudah merencanakan tantangan sendiri untuk saya dan itu bertepatan dengan bulan suci Ramadhan. Namanya Ramadhan40K. Yaa mirip-mirip konsepnya NaNoWriMo lah tapi ini bulan Ramadhan.

Di samping bulan suci, enggak ada salahnya kan mengisi ngabuburit dengan menulis atau sehabis sahur/subuh di masjid. Banyak katanya penulis yang menulis di pagi hari. Mungkin bisa jadi kegiatan rutin selama berpuasa sebulan nantinya. Gak hanya itu, saya juga mencoba untuk sesekali nulis blog juga, mengingat blog sedang jarang diupdate. Terakhir adalah lebih banyak membaca novel, saya bahkan sudah menyusun novel mana saja yang akan dibaca.

Pokoknya tantangan ini menjadi kegiatan di bulan Ramadhan dan mengisi liburan yang ada. Accomplished or not tak mengapa, yang terpenting sudah ada niat dan dijalankan. Bagi yang mau ikutan silakan saja, saya hanya berbagi ini di blog dan mungkin ada yang ikutan mencoba hal semacam ini atau membuat tantangan sendiri.

Selamat mencoba tantangannya.

Remaja Fiksi Indonesia

Bicara tentang fiksi saya terpikir oleh dua hal, film dan novel. Saya penikmat fiksi, tak jarang juga membedakan fiksi dengan kenyataan.Β  Saya tidak bisa melabelkan diri saya sebagai penikmat film ataupun penikmat novel. Fiksi di Indonesia mulai merasuk ke kalangan masyarakat. Kenapa? Ya, media fiksi ini sudah tersebar di seluruh Indonesia. Film dan novel Indonesia. Mereka berjasa untuk menyebarkan fiksi Indonesia kepada penikmatnya.

Kini banyak sekali judul fiksi yang dapat dinikmati oleh masyarakat, terutama fiksi yang terbuat oleh anak-anak bangsa. Kalau kita putar kembali beberapa tahun silam fiksi di Indonesia diambil alih oleh fiksi luar, produk luar. Film dan novel Indonesia sendiri yang berkualitas tak begitu banyak, kalah dengan produk luar tersebut.

Saya kini menyadari bahwa film dan novel Indonesia sedang melalui masa transisi. Di mana fiksi Indonesia sedang beranjak ke masa remaja yang penuh dengan warna-warni, penuh dengan ceria, penuh dengan masalah, mirip dengan seorang remaja. Mengapa? Ya, fiksi Indonesia kini penuh dengan warna-warni cerita, penuh dengan penghargaan, penuh dengan kritikan dan saran. Kita sedang berada di masa remaja fiksi Indonesia.

Kita dapat melihat banyaknya film-film buatan anak bangsa sekarang yang terpajang posternya di bioskop beberapa bulan ini. Kita dapat melihat banyaknya novel-novel penulis Indonesia sekarang yang tersusun di rak toko buku. Dari yang sudah lama mendalami seluk beluknya (senior) hingga yang baru masuk ke dalamnya (junior).

Saya pribadi melihat ini menjadi suatu proses di mana nantinya karya-karya fiksi buatan anak bangsa ini akan mempunyai ciri khas sendiri dan dikenal oleh penikmat fiksi di luar. Saya mengenal Korea dengan dramanya, mengenal Jepang dengan manganya, mengenal Thailand dengan filmnya. Saya bermimpi nantinya Indonesia dikenal dari salah satu fiksinya juga. Why not? Bila negara-negara asia yang lain saja bisa mengapa kita tidak?

Saat ini melihat bioskop dipenuhi dengan film-film buatan anak bangsa dan novel-novel penulis Indonesia di toko buku membuat saya sadar bahwa kita juga harus memilih. Ya memilih yang harus diutamakan dan harga terjangkau karena dari banyak pilihan membuat bingung penikmatnya. Walau begitu ini memang salah satu proses menemukan ciri khas tersebut. Suatu saat nanti saya ingin bertemu dengan orang-orang luar yang mengenal Indonesia melalui fiksinya. Ya, suatu saat nanti.