The Blue Jacket

“Iya sayang, ini juga lagi di kereta. Kamu tunggu aja ya!”

Suara itu nyaring terdengar di antara bunyi gesekan roda-roda kereta dan bisingnya suara mesin kereta yang dihasilkan. Hampir semua penumpang mendengar dan menoleh pada perempuan berjaket biru yang sedang menelepon. Aku yang duduk di sebelahnya tak dapat tak mendengar semua percakapan yang saya percaya dengan kekasihnya.

Setelah menutup teleponnya, perempuan itu menoleh padaku. Aku yang tak ingin ketahuan sedang memperhatikannya langsung menghadap ke arah berlawanan. Selama perjalanan dari Pondok Cina ke arah Kota perempuan itu beberapa kali mengangkat handphone-nya dan menerima telepon dari orang yang sama. Keingintahuanku makin menjadi saat telepon terakhir diangkatnya.

“Yang tadi itu pacarnya?” tanyaku setelah perempuan itu menghelakan napasnya.

Perempuan itu menoleh ke arahku kembali seraya memasukan handphone-nya ke dalam tas.

“Iya, kenapa?” tanyanya balik dengan ketus. Apa yang salah menanyakan orang yang meneleponnya beberapa kali tersebut? Aku hanya kembali diam sambil sesekali mencoba untuk memejamkan mata sejenak.

“Apa salahnya dengan cinta yang datang tak jelas begini?”

Ucapnya pelan walau masih dapat terdengar karena aku duduk di sampingnya. Aku yang sudah hampir menuju alam mimpiku menoleh padanya yang sedang menundukan kepalanya.

“Saya tak pernah membayangkan bahwa cinta serumit ini,” ucapnya kembali. Kali ini ia menoleh padaku. Aku yang menatapnya merasa tak tahu apa yang terjadi.

“Kalian sedang bertengkar?”

“Tidak, tidak sama sekali. Kami saling menyayangi.”

“Kalau begitu tak ada yang rumit, bukan?”

Aku tak tahu arah pembicaraan ini yang jelas entah mengapa aku merasa kasihan pada perempuan tersebut. Perempuan tersebut diam setelah terakhir aku berbicara. Aku sendiri tak memikirkannya, aku hanya mempersiapkan diri untuk turun di stasiun selanjutnya.

Saat aku berdiri dan memeriksa barang-barang yang dibawa dan menyakinkan tak ada yang tertinggal aku melihat perempuan tadi berdiri juga. Sepertinya turun di stasiun yang sama.

“Turun di Juanda juga?” tanyaku dan hanya dijawab oleh anggukan kepalanya.

Setelah turun entah mengapa aku mengikuti perempuan itu berjalan di belakangnya. Sempat aku tertarik dengan jaket biru yang dikenakannya, aku merasa tak asing dengan jaket tersebut. Setelah beberapa langkah mengikuti dari jarak yang lumayan jauh aku melihat seseorang yang kukenal sedang menghampiri perempuan tersebut dan memeluknya.

Aku berdiri sejenak lumayan dekat dari mereka. Perempuan yang kukenal tersebut menatapku tak percaya. Dia Sinta, mantan pacarku dan jaket biru yang dikenakan perempuan di kereta itu adalah pemberianku dulu. Sejenak aku paham pembicaraan di kereta tadi, tiba-tiba aku hanya kagum melihat meraka karena ini kali pertamaku melihat cinta yang benar-benar rumit.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s