Dua Belas Pas

Siang itu matahari sangat terik sekali, mengingat tidak terlalu banyak awan di langit sana hari itu udara sangat panas. Akupun terheran, di udara yang panas itu banyak sekali orang-orang berdatangan ke tempat yang penuh sejarah ini. Bangunan-bangunan di sekelilingku ini bangunan jaman penjajahan Belanda. Tempat ini selalu ramai pengunjung.

Terakhir aku ke sini bersama dengan perempuan yang selalu kucintai hingga sekarang. Tempat ini menjadi memori tersendiri di antara kami berdua. Kau tahu bagaimana hidup bahagia dengan seorang yang kau cintai? Aku merasakan itu di tempat ini bersamanya.

Tapi bukan itu yang kurasakan bersamanya saat terakhir aku berada di sini bersamanya. Saat itu aku menjadi muak dengan tempat ini. Di sini, tempat di mana aku kehilangan apa yang dimaksud dengan bahagia.

Aku kehilangannya. Orang yang kucintai, di tempat ini.

“Dua belas!”

Aku mendengar suara yang menggema. Aku menoleh ke sekelilingku, tak ada orang yang sedang berbicara. Aku mengambil tempat yang sudah aman dari jangkauan orang di tempat wisata kota tua ini. Lalu, suara siapa tadi?

“Sudah pas, satu lusin. Bawa dia!”

Aku melihat makhluk raksasa di depanku. Mengerikan. Dia tadi yang berbicara dan menyuruh beberapa pengawal yang sama mengerikannya.

“Kau yang ke dua belas yang bunuh diri di tempat ini. Siap-siap dengan siksaan alam kubur.”

Aku baru mengetahui bahwa dia adalah malaikat kematian saat dia mengiringku ke alam kubur. Bukankah seharusnya aku dapat menemui kekasihku saat aku telah mati?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s