Pelangi September

Aku terjebak dalam sebuah kafe yang tak pernah kudatangi. Bila saja tak ada air mata sang langit, aku sudah berada di rumahku yang hangat dan tidur dengan sangat lelap.

Dua jam sudah kuhabiskan waktu dengan secangkir kopi dan roti bakar keju. Menikmati apa yang terjadi di luar kafe dengan butir-butir air yang menghujam tanah.

Aku melihat seorang pria yang kukenal di seberang kafe ini sedang memeluk tubuhnya sendiri yang kedinginan. Tak lama ia berada di sana, ia mulai menyeberang dan memasuki kafe.

“Bagaimana kau tahu aku ada di sini?” tanyaku ketika ia sudah duduk di depanku.

“Apa kau tak tahu kalau hati kita menyatu?” ia bertanya balik sambil tertawa lepas. Sudah lama aku merindukan tawa itu.

Aku berbicara banyak dengannya, bahkan orang-orang yang berada di kafe tersebut melihatku dengan aneh. Mungkin suaraku terlalu keras sehinga mereka merasa terganggu.

Ini sudah kutunggu sejak setahun yang lalu saat ia berulang tahun di bulan September tersebut. Dan kini tepat pada setahun yang lalu dan aku sudah menyiapkan hadiah ulang tahunnya hari ini.

Hujanpun sudah berhenti, ia mengajakku keluar dan aku siap-siap dengan hadiahku tersebut.

“KYAAA!!” teriak orang-orang di sekelilingku. Terakhir yang kulihat sebelum semua menjadi gelap adalah pelangi.

“Selamat ulang tahun, Tom.” Kini aku telah pergi ke tempatnya berada. Apa kau senang bila aku dapat berada di sisimu selamanya?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s