Segenggam Kacang Asin

Aku perlahan sadar, aku sedang duduk di sebuah bangku yang terbuat dari semen. Di tepi danau. Danau yang selalu aku lewati saat aku berangkat kuliah dari Fakultas Teknik ke Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya. Sesaat aku melihat jembatan yang menjadi penghubung dua fakultas tersebut dari tepi danau. Dari sini aku melihat langit yang mulai menggelap, sinar senja perlahan mulai menghilang.

Pada akhirnya aku bingung. Mengapa aku di sini? Aku memutar kembali ingatanku, tapi tak satupun kuingat. Hanya ingatan sosok Frans yang berhasil kuingat.

Aku masih memandang jembatan yang selalu kami sebut Tek-Sas tersebut. Sangat sepi. Tidak ada yang melewati danau ini. Biasanya kalau sedang sore mahasiswa banyak yang lalu lalang di jembatan tersebut. Termasuk Frans yang sering menjemputku di Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya. Biasanya aku menunggu di Kelas Terbuka yang sering dikenal dengan sebutan Klaster.

Tiba-tiba aku baru sadar sedang mengenggam beberapa kacang di tangan kananku. Semakin aku heran dengan semua ini, sejak kapan aku menggengam kacang ini. Terlihat menggoda untuk mencicipi satu, aku membuka kulit kacang itu. Asin. Aku tidak suka terlalu asin.

Selintas aku menangkap sosok Frans di jembatan itu. Sedang menatap keruhnya air danau.

“Frans!” teriakku dari tepi danau. Frans tak mendengar.

Aku berusaha berteriak beberapa kali tetapi ia tak mendengarku. Aku melihat Frans yang mulai mendekat pada tepi jembatan itu, aku mulai khawatir hingga kekhawatiran itu benar terjadi.

“Aaaaaaah,” teriakku. Terakhir yang kuingat sebelum semua menjadi gelap, aku melihat Frans jatuh dari jembatan tersebut.

***

Aku terbangun dengan nafas yang tersengal-sengal dengan keringat yang membanjiri seluruh tubuhku. Aku berada di salah satu ruang kelas yang berada di Gedung IV. Aku baru tersadar, aku tertidur saat mata kuliah tadi. Semua temanku sudah tak ada, mereka meninggaliku pergi saat aku tertidur.

“Ternyata hanya mimpi,” ucapku pelan pada diriku sendiri.

Dua kejadian yang memang gak masuk akal, aku dan Frans diculik makhluk asing dan Frans yang jatuh dari Jembatan Tek-Sas tersebut. Memang sangat tak masuk akal.

Aku mulai mengelap keringat di dahiku dengan punggung tanganku dan menyadari aku sedang menggenggam sesuatu. Perlahan aku membuka genggamanku.

“Kacang,” seruku kaget dan mulai bergidik ngeri.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s