Melipat Ungkapan

Aku terdiam. Menatap kumpulan awan yang melayang-layang di langit yang cerah itu. Danau yang selalu aku lewati pun menjadi godaan tersendiri untuk melarikan diri dalam cuaca yang panas hari ini. Ya, walaupun aku tak dapat berenang.

Di sini aku selalu bersamamu, hingga akhirnya aku selalu ingin berada di sini. Akupun berusaha supaya dapat berada di sini setiap saat, tidak pada setiap weekend bila kamu jemput aku di rumahku yang lumayan jauh itu.

Teman-temanku mungkin menyebut tempat ini Kelas Terbuka atau lebih dikenal dengan nama Klaster. Aku sendiri menyebutnya ini tempat kita berdua, tempat aku dan kamu memainkan kertas-kertas origami ini menjadi sebuah pesawat terbang. Sekarangpun aku sedang membuatnya satu untukmu.

Orang-orang di sekitar Klaster pun bingung melihatku. Orang-orang yang menyebrangi danau di jembatan yang menghubungkan dua fakultas, yang lebih dikenal dengan Jembatan Tek-Sas juga ikut melihatku. Mungkin karena aku mahasiswa baru mereka melihatku  di tempat kita. Teman-temanku yang lain lagi berada di Balairung, sepertinya mereka sudah mulai bernyanyi.

Pesawat kertasnya sudah jadi, untukmu. Satu lagi untukku.

Lalu aku mulai menerbangkannya ke arah danau.

“Itu untukmu, Bram. Selamat ya sudah wisuda.”

Tak terasa air mataku mulai mengalir. Air mata bahagiakah atau sedih? Akupun tak tahu dengan air mataku ini.

“Apa aku perlu menyanyi seperti teman-temanku yang lain di Balairung untukmu yang sudah damai di Surga?” Aku bahkan sudah mengenakan jaket kuning dengan makara putih.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s