Hanya Menjemput

Bunyi petikan gitar menemaniku bersama ombak pantai. Langit selalu berkelipan seperti malam yang lainnya. Angin selalu membawa apa yang seharusnya mereka bawa. Sebuah rindu, mungkin?

Selalu kunanti setiap malam, menyambutnya secara riang bila waktunya tiba. Mungkin sebaiknya begitu bila sesuatu yang tak diinginkan tidak terjadi. Aku selalu menanti di setiap ombak yang menerjang bibir pantai.

Ingin rasanya aku menyanyikan lagu yang sudah kupersiapkan untuk menyambutmu pulang. Tapi apa aku siap menyambutnya pulang atau aku yang harus menjemputnya pulang. Aku pun berdiri di atas tebing dan melihat pantai di bawah. Indah bukan pasir yang selalu ditemani air laut itu? Aku ingin seperti itu, denganmu. Selamanya.

Jadi sepertinya aku yang harus menjemputmu pulang.

“Tuhan, bimbing aku.”

Aku pun melemaskan badanku dan aku merasa seperti terbang. Aku hanya memejamkan mata dan melihat dirimu sudah berada dalam bayanganku. Bertahun lamanya aku menunggu dan kini aku sudah tak kuat menunggu, jadi aku menjemputmu pulang.

Terakhir yang kulihat hanya pasir dan air laut, selanjutnya hanya gelap dan sebuah bayanganmu yang sudah berada di alam yang berbeda dan aku menjemputmu di sana.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s