Tak Kuat

Malam ini aku memandang bintang-bintang itu. Berkelip indah dengan penuh rasa yang selalu tumbuh di setiap kelipan. Mengejar tatapan cahaya yang berada di kanvas hitam abadi semalam itu. Penuh dengan seni yang bernilai luar biasa.

Aku berangan sesuatu di malam ini. Dirinya. Yang selalu aku rindukan. Wajahnya sampai terbayang bersama bintang-bintang di langit hitam. Kelam. Begitulah yang penyair tulis untuk sebuah rasa yang tak perlu kuucap.

“Hai.” Aku mendengarnya suaranya memanggil.

Aku pun tersenyum mendengarnya, rindu sekali mendengarnya ia memanggil. Apa yang aku perlu jawab bila ia memanggilku? Terkadang aku menjadi bodoh seperti ini saat merindukannya. Salahkah itu?

“Hai,” jawabku sedetik kemudian.

Sampai ucapan yang berikutlah aku menitikkan air mataku kembali. Bintang-bintang itu pun mungkin sudah muak menjadi saksi yang melihatku malam ini. Seharusnya aku malu pada mereka yang berkelip.

“Silakan tinggalkan pesan setelah bunyi pip,”

“Pip.”

Apa yang sedang ia lakukan di seberang lautan sana tersebut? Apa kau tahu aku merindukanmu. Kemana dirimu?

“Aku merasa tak kuat lagi, Roy,” ucapku setelah bunyi pip terdengar di telingaku yang dingin oleh angin malam yang kelam ini.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s