Lenyapnya Rasa

Apa dirinya tahu bila semua yang terjadi hanya sebuah perasaan? Perasaan yang selalu mengalir layaknya sungai dan berlabuh ke pantai. Selalu begitu, mungkin selama ini mereka yang menganalogikannya seperti itu. Tidak ada yang salah.

Apa yang perlu dipermasalahkan dengan perasaan? Perasaan yang selalu berlari layaknya pelari cepat dan mencapai garis akhirnya. Selalu begitu, mungkin selama ini mereka yang memperhatikan gerak pelari itu. Tidak ada yang salah.

Seperti aku misalnya. Dia selalu mengerti, apapun itu. Ilmu pasti serta sosial ia menguasainya. Tapi apa?

“Apa aku melukaimu?” tanyanya hati-hati.

“Tidak, kau tidak melukaiku sama sekali. Apa kau mencemaskan hal itu?”

“Ya, tentu. Oh iya, kau jadi akan datangkan?”

Aku hanya berpikir. Datang? Jawabannya sudah pasti bukan.

“Ya, tentu.”

Begitulah hingga aku tak berlabuh dengan seharusnya dan tak mencapai garis akhirnya. Aku hanya menjadi penikmat sungai dan menonton lomba lari. Aku pun datang, ke upacara pernikahan seorang sahabat yang selalu kucinta. Entah sampai kapan, mungkin Tuhan yang menjawabnya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s