Dua Belas Pas

Siang itu matahari sangat terik sekali, mengingat tidak terlalu banyak awan di langit sana hari itu udara sangat panas. Akupun terheran, di udara yang panas itu banyak sekali orang-orang berdatangan ke tempat yang penuh sejarah ini. Bangunan-bangunan di sekelilingku ini bangunan jaman penjajahan Belanda. Tempat ini selalu ramai pengunjung.

Terakhir aku ke sini bersama dengan perempuan yang selalu kucintai hingga sekarang. Tempat ini menjadi memori tersendiri di antara kami berdua. Kau tahu bagaimana hidup bahagia dengan seorang yang kau cintai? Aku merasakan itu di tempat ini bersamanya.

Tapi bukan itu yang kurasakan bersamanya saat terakhir aku berada di sini bersamanya. Saat itu aku menjadi muak dengan tempat ini. Di sini, tempat di mana aku kehilangan apa yang dimaksud dengan bahagia.

Aku kehilangannya. Orang yang kucintai, di tempat ini.

“Dua belas!”

Aku mendengar suara yang menggema. Aku menoleh ke sekelilingku, tak ada orang yang sedang berbicara. Aku mengambil tempat yang sudah aman dari jangkauan orang di tempat wisata kota tua ini. Lalu, suara siapa tadi?

“Sudah pas, satu lusin. Bawa dia!”

Aku melihat makhluk raksasa di depanku. Mengerikan. Dia tadi yang berbicara dan menyuruh beberapa pengawal yang sama mengerikannya.

“Kau yang ke dua belas yang bunuh diri di tempat ini. Siap-siap dengan siksaan alam kubur.”

Aku baru mengetahui bahwa dia adalah malaikat kematian saat dia mengiringku ke alam kubur. Bukankah seharusnya aku dapat menemui kekasihku saat aku telah mati?

Doa Jumat Keramat

Hari ini menjadi sangat spesial sekali. Jumat. Dimana semua menjadi serba menyenangkan. Aku menulis seperti yang selalu kulakukan setiap kali aku berada di depan layar monitor.

Tuhan. 

Apa kau mendengarkan apa yang hamba ingin?

Hari ini menjadi hari terakhir aku meminta, dari karuniamu.

Kau tahu aku bahkan selalu memujimu, setiap saat.

Tuhan, aku ingin… 

“Kau menulis apa?”

Aku mendengar perempuan itu berbicara di belakangku sambil membaca tulisanku yang sedang kutulis. Rambutnya basah, sepertinya ia habis mandi beberapa menit yang lalu.

“Aku menulis flash fiction. Aku belum menemukan twist-nya, kau bisa membantuku?”

Ia sempat berpikir beberapa detik, lalu ia terlihat menyerah dengan pikiran tersebut.

“Bagaimana kalau menulis apa yang sering kita lakukan?”

Aku berpikir panjang atas ucapannya. Apa yang dia pikirkan saat itu? Perlahan dia mulai mengajakku ke tempat dimana kami sering melakukan hal yang ia maksud tersebut.

Lilin-lilin di sekelilingku membawa ragaku pergi seolah tak berada di tempat aku berada. Raga yang lain sedang berteriak lepas dengan rintihan yang selalu kudengar setiap kita melakukan ini.

Tuhan.

Ini hari yang sangat tepat untukku meminta atau kita sebut saja ini doa. 

Doa yang sangat engkau idamkan, bukan? 

Kau senang mendapat doa dariku? 

Masuklah! Engkau dapat merasakan apa yang kami rasakan di dunia.

Aku perlahan melihat kalendar yang berada di ruangan. Hari ini. 13. Apa kau senang Tuhan? Kami melakukan apa yang diharuskan sepanjang malam ini.

Onky Wiryawan

Aku merasa sangat ingin mengeluarkan dompetku untuk membeli beberapa buku di toko buku ini. Niat itu kuurungkan, uangnya tak cukup dan masih banyak kebutuhan yang perlu dibayar. Aku hanya ingin melihat-lihat buku yang terpajang di semua rak toko buku ini.

Aku mulai merambah ke rak buku bestseller. Buku-buku tersebut menggodaku dengan cover buku yang menarik. Mereka semua seolah berteriak padaku, “Beli aku! Beli aku!” Aku bahkan ingin menutup telingaku bila itu benar terjadi. Bayangkan buku-buku itu saling berkompetisi bila mereka mempunyai mulut yang sama dengan kita.

Selintas aku melihat buku dengan cover hitam dan bertuliskan Destiny dengan warna putih. Nama penulisnya berada di bawah judul tersebut. Onky Wiryawan.

Aku mengambil buku tersebut dan ternyata sebuah novel. Aku membaca blurb di bagian cover belakang. Dari penampilan dan blurb aku tak begitu tertarik dengan novel tersebut.

“Bagus loh, Mbak. Dibeli aja, Mbak.”

Aku mendengar suara dari belakangku yang menyuruh membeli novel yang sedang kupegang ini. Aku melihat ke belakang, seorang pria berambut cepak dan tinggi itu sedang melihat-lihat novel yang sama kupegang.

“Gak ah, udah mahal, cover-nya gak menarik, isi blurb-nya gak menarik juga.” Aku menjelaskan kalau aku tidak mau membeli novel tersebut.

“Kalau aku illustrator-nya cover-nya aku perbaiki dengan macam-macam elemen yang ada di novelnya.” Aku ini seorang illustrator. 

“Kalau begitu, aku boleh minta kontakmu? Aku sedang butuh illustrator mendadak. Ya, benar-benar mendadak. Kau mau?”

Aku langsung memberikan nomor kontakku yang dapat dihubungi.

“Ini kartu nama saya, telepon saja kalau butuh pertanyaan tetang penawaran barusan, Saya permisi.”

Laki-laki tersebut pergi dengan cepat, langkah kakinya yang panjang yang membuatnya dapat berjalan lebih cepat dari yang lain. Sejenak aku terdiam lalu teringat kartu nama laki-laki tersebut.

Onky Wiryawan S.Hum

Nama itu yang tercetak di kartu nama tersebut. Seketika aku merasa lemas untuk dapat berdiri kurang dari lima detik. Apa aku tadi keterlaluan, ya?

Pelangi September

Aku terjebak dalam sebuah kafe yang tak pernah kudatangi. Bila saja tak ada air mata sang langit, aku sudah berada di rumahku yang hangat dan tidur dengan sangat lelap.

Dua jam sudah kuhabiskan waktu dengan secangkir kopi dan roti bakar keju. Menikmati apa yang terjadi di luar kafe dengan butir-butir air yang menghujam tanah.

Aku melihat seorang pria yang kukenal di seberang kafe ini sedang memeluk tubuhnya sendiri yang kedinginan. Tak lama ia berada di sana, ia mulai menyeberang dan memasuki kafe.

“Bagaimana kau tahu aku ada di sini?” tanyaku ketika ia sudah duduk di depanku.

“Apa kau tak tahu kalau hati kita menyatu?” ia bertanya balik sambil tertawa lepas. Sudah lama aku merindukan tawa itu.

Aku berbicara banyak dengannya, bahkan orang-orang yang berada di kafe tersebut melihatku dengan aneh. Mungkin suaraku terlalu keras sehinga mereka merasa terganggu.

Ini sudah kutunggu sejak setahun yang lalu saat ia berulang tahun di bulan September tersebut. Dan kini tepat pada setahun yang lalu dan aku sudah menyiapkan hadiah ulang tahunnya hari ini.

Hujanpun sudah berhenti, ia mengajakku keluar dan aku siap-siap dengan hadiahku tersebut.

“KYAAA!!” teriak orang-orang di sekelilingku. Terakhir yang kulihat sebelum semua menjadi gelap adalah pelangi.

“Selamat ulang tahun, Tom.” Kini aku telah pergi ke tempatnya berada. Apa kau senang bila aku dapat berada di sisimu selamanya?

Segenggam Kacang Asin

Aku perlahan sadar, aku sedang duduk di sebuah bangku yang terbuat dari semen. Di tepi danau. Danau yang selalu aku lewati saat aku berangkat kuliah dari Fakultas Teknik ke Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya. Sesaat aku melihat jembatan yang menjadi penghubung dua fakultas tersebut dari tepi danau. Dari sini aku melihat langit yang mulai menggelap, sinar senja perlahan mulai menghilang.

Pada akhirnya aku bingung. Mengapa aku di sini? Aku memutar kembali ingatanku, tapi tak satupun kuingat. Hanya ingatan sosok Frans yang berhasil kuingat.

Aku masih memandang jembatan yang selalu kami sebut Tek-Sas tersebut. Sangat sepi. Tidak ada yang melewati danau ini. Biasanya kalau sedang sore mahasiswa banyak yang lalu lalang di jembatan tersebut. Termasuk Frans yang sering menjemputku di Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya. Biasanya aku menunggu di Kelas Terbuka yang sering dikenal dengan sebutan Klaster.

Tiba-tiba aku baru sadar sedang mengenggam beberapa kacang di tangan kananku. Semakin aku heran dengan semua ini, sejak kapan aku menggengam kacang ini. Terlihat menggoda untuk mencicipi satu, aku membuka kulit kacang itu. Asin. Aku tidak suka terlalu asin.

Selintas aku menangkap sosok Frans di jembatan itu. Sedang menatap keruhnya air danau.

“Frans!” teriakku dari tepi danau. Frans tak mendengar.

Aku berusaha berteriak beberapa kali tetapi ia tak mendengarku. Aku melihat Frans yang mulai mendekat pada tepi jembatan itu, aku mulai khawatir hingga kekhawatiran itu benar terjadi.

“Aaaaaaah,” teriakku. Terakhir yang kuingat sebelum semua menjadi gelap, aku melihat Frans jatuh dari jembatan tersebut.

***

Aku terbangun dengan nafas yang tersengal-sengal dengan keringat yang membanjiri seluruh tubuhku. Aku berada di salah satu ruang kelas yang berada di Gedung IV. Aku baru tersadar, aku tertidur saat mata kuliah tadi. Semua temanku sudah tak ada, mereka meninggaliku pergi saat aku tertidur.

“Ternyata hanya mimpi,” ucapku pelan pada diriku sendiri.

Dua kejadian yang memang gak masuk akal, aku dan Frans diculik makhluk asing dan Frans yang jatuh dari Jembatan Tek-Sas tersebut. Memang sangat tak masuk akal.

Aku mulai mengelap keringat di dahiku dengan punggung tanganku dan menyadari aku sedang menggenggam sesuatu. Perlahan aku membuka genggamanku.

“Kacang,” seruku kaget dan mulai bergidik ngeri.

[Bukan] Bintang Jatuh

Angin selalu menemaniku, terlebih untuk hari ini. Di malam penuh bintang-bintang yang berpijar serta bulan purnama yang terlihat indah. Ombak laut juga menjadi melodi tersendiri dengan deburannya pada batu-batu karang.

Terlebih sekarang aku berada di kehangatanku, malam ini terasa indah penuh dengan apa yang sering aku impikan.

“Kau tahu, kalau bintang-bintang di atas sana saling bersahutan dengan sesama dengan kerlap-kerlipnya itu?”

“Ah? Benaran?” ucapku penasaran, biasanya ia suka bercanda, tetapi kali ini matanya terlihat sangat serius.

“Entahlah? Tapi mungkin ada benarnya juga.”

Malam yang sangat indah, pikirku. Bersamanya di sebuah pantai pada malam hari. Bahkan aku berharap lebih dari ini. Apa dia bisa merasakan hal itu?

“Lihat! Bintang jatuh,” ucapnya sambil menunjukkan sinar yang bergerak ke bawah.

Aku langsung make a wish ya walaupun aku tidak percaya pada hal-hal seperti itu. Untuk malam ini, aku ingin impian terbesarku menjadi kenyataan.

“Rin,” panggilnya. Apa permintaanku akan diwujudkan? Ternyata khasiat bintang jatuh ini sangat berguna.

“Ya,” ucapku sambil menoleh padanya. Berharap kata-kata itu diucapnya saat aku akan menatap matanya.

Tiba-tiba terdengar suara gaduh semacam suara-suara electric. Apa itu? Aku menoleh apa yang dilihat oleh Frans.

“Aaaaah.”

Aku seperti tersedot cahaya kuning. Yang terakhir kuingat aku melihat Frans ikut tersedot oleh cahaya kuning itu dan semua menjadi gelap. Dan aku baru mengerti tadi itu bukan bintang jatuh.

Aku dan Frans diculik.

Melipat Ungkapan

Aku terdiam. Menatap kumpulan awan yang melayang-layang di langit yang cerah itu. Danau yang selalu aku lewati pun menjadi godaan tersendiri untuk melarikan diri dalam cuaca yang panas hari ini. Ya, walaupun aku tak dapat berenang.

Di sini aku selalu bersamamu, hingga akhirnya aku selalu ingin berada di sini. Akupun berusaha supaya dapat berada di sini setiap saat, tidak pada setiap weekend bila kamu jemput aku di rumahku yang lumayan jauh itu.

Teman-temanku mungkin menyebut tempat ini Kelas Terbuka atau lebih dikenal dengan nama Klaster. Aku sendiri menyebutnya ini tempat kita berdua, tempat aku dan kamu memainkan kertas-kertas origami ini menjadi sebuah pesawat terbang. Sekarangpun aku sedang membuatnya satu untukmu.

Orang-orang di sekitar Klaster pun bingung melihatku. Orang-orang yang menyebrangi danau di jembatan yang menghubungkan dua fakultas, yang lebih dikenal dengan Jembatan Tek-Sas juga ikut melihatku. Mungkin karena aku mahasiswa baru mereka melihatku  di tempat kita. Teman-temanku yang lain lagi berada di Balairung, sepertinya mereka sudah mulai bernyanyi.

Pesawat kertasnya sudah jadi, untukmu. Satu lagi untukku.

Lalu aku mulai menerbangkannya ke arah danau.

“Itu untukmu, Bram. Selamat ya sudah wisuda.”

Tak terasa air mataku mulai mengalir. Air mata bahagiakah atau sedih? Akupun tak tahu dengan air mataku ini.

“Apa aku perlu menyanyi seperti teman-temanku yang lain di Balairung untukmu yang sudah damai di Surga?” Aku bahkan sudah mengenakan jaket kuning dengan makara putih.