Dua Musim Dua Jiwa Dua Rasa

Musim Kemarau

Kau merayuku saat matahari menyengat indah di langit biru yang cerah tanpa ada awan. Diam-diam kau menyiratkan bahwa kau menyukaiku sebagaimana aku menyukai dirimu. Demikian dengan hati dan mulut kami yang menyelaraskan keinginan kami masing-masing. Mengungkapkannya dan melepaskan semua yang menghambat untuk mengikat suatu hubungan khusus di antara kami.

Begitulah kami dengan segala bentuk sederhana yang mempunyai arti yang luar biasa. Berjalan dengan matahari yang menemani kami setiap siang, membuat kulit mengeluarkan hasil keluaran yang dihasilkan tubuh. Menyelaraskan kami dalam berbagai kegiatan yang kami sukai. Renang. Kami penuh kebahagiaan di antara petani-petani yang menunggu kapan air menetes dari langit untuk semua sawah saat aliran irigrasi kering.

Musim Penghujan

Kau menarik ucapan awal yang kau ucap membuat aku merasa menyesal telah menerimamu dalam kehidupanku. Diam-diam kau memainkan apa yang telah kita setujui sebagaimana kau berjanji atas nama Tuhan. Demikian dengan tindakan kita yang tak selaras dengan yang kami inginkan. Membiarkan dan melupakan semua yang telah mengikat kami.

Begitu kami dengan segala bentuk luar biasa yang mempunyai arti yang sederhana. Berjalan dengan rintik hujan yang menemaniku setiap kali hujan menghampiri kota yang penuh dengan kenangan tentang dirimu. Menyelaraskan aku dengan langit yang menghitam kelam yang tak aku sukai. Kesedihan. Aku dipenuhi kepedihan di antara petani-petani yang menunggu hasil panen setelah langit memberikan sawah mereka air yang melimpah.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s