Dua Musim Dua Jiwa Dua Rasa

Musim Kemarau

Kau merayuku saat matahari menyengat indah di langit biru yang cerah tanpa ada awan. Diam-diam kau menyiratkan bahwa kau menyukaiku sebagaimana aku menyukai dirimu. Demikian dengan hati dan mulut kami yang menyelaraskan keinginan kami masing-masing. Mengungkapkannya dan melepaskan semua yang menghambat untuk mengikat suatu hubungan khusus di antara kami.

Begitulah kami dengan segala bentuk sederhana yang mempunyai arti yang luar biasa. Berjalan dengan matahari yang menemani kami setiap siang, membuat kulit mengeluarkan hasil keluaran yang dihasilkan tubuh. Menyelaraskan kami dalam berbagai kegiatan yang kami sukai. Renang. Kami penuh kebahagiaan di antara petani-petani yang menunggu kapan air menetes dari langit untuk semua sawah saat aliran irigrasi kering.

Musim Penghujan

Kau menarik ucapan awal yang kau ucap membuat aku merasa menyesal telah menerimamu dalam kehidupanku. Diam-diam kau memainkan apa yang telah kita setujui sebagaimana kau berjanji atas nama Tuhan. Demikian dengan tindakan kita yang tak selaras dengan yang kami inginkan. Membiarkan dan melupakan semua yang telah mengikat kami.

Begitu kami dengan segala bentuk luar biasa yang mempunyai arti yang sederhana. Berjalan dengan rintik hujan yang menemaniku setiap kali hujan menghampiri kota yang penuh dengan kenangan tentang dirimu. Menyelaraskan aku dengan langit yang menghitam kelam yang tak aku sukai. Kesedihan. Aku dipenuhi kepedihan di antara petani-petani yang menunggu hasil panen setelah langit memberikan sawah mereka air yang melimpah.

Lampau

Selama ini aku menunggu

Senja hilang di antaranya

Mungkin saja aku tak tahu

Apa yang kau maksud dengan purba

 

Malam terus berganti

Hingga aku lelah mencari

Aku menyerah

Bukan untuk arti tentang purba

 

Mungkin cuma aku yang merasakan

Mungkin juga kau

Tapi apa yang telah kita lakukan

Pada masa lampau

Hanya (Pada) Kamu

Kamu seperti candu yang tak bisa kutinggal. Kamu seperti buku-buku yang selalu kubaca. Tak peduli membaca hingga selesai atau setengah bila tak menarik. Hidup dengan ada kehadiranmu memang selalu membuatku tak tahu bila di laut sana masih ada ribuan ikan yang berenang.

Mungkin tak ada yang salah bila mereka para pecandu (obat-obatan) hampir sama seperti pecandu seperti ku. Katakan saja begitu. Apa mereka sama atau tidak denganku itu sebuah misteri tersendiri.

“Apa mereka (pecandu obat-obatan) bila mereka melakukan rehabilitasi akan benar-benar sembuh?”

Dulu kamu merasa penasaran dengan itu. Kini aku tahu jawabannya.

“Apa mereka (pecandu obat-obatan) bisa mengganti obat-obat tersebut dengan permen karet layaknya terapi tidak merokok selama satu bulan?”

Dulu kamu ingin tahu tentang itu. Kini aku tahu jawabannya.

Tapi apa perlu aku memberitahumu. Kalau perlu bagaimana caranya?

Aku merasa di sini selalu sepi bila siang begini. Apa memang tidak musimnya orang-orang datang ke sini? Aku tak tahu, tapi di sini aku berusaha memberitahu jawaban tersebut.

“Mereka gak betul-betul sembuh dan mereka susah mengganti obat-obat itu. Kau tahu, mungkin tingkatan candu juga mempengaruhi.”

Jadi tingkat canduku seberapa tinggi hingga tak bisa sembuh darimu dan tak bisa menggantikan dirimu dengan yang lain?

Ya, nisan itu pun tak dapat memberi jawaban tentang hal tersebut. Mungkin hanya kamu yang tahu, ya dirimu yang sudah tertidur pulas dengan unsur dirimu terbuat.

One More (Last) Chance

Waktu. Terkadang menjadi musuh dalam hidup kita ini. Begitulah menurutnya, Andy. Berjalan menyusuri sisa-sisa detik yang perlahan berdetak sejalan dengan detak jantungnya.

Tekanan serta pikiran mempengaruhi apa yang ada. Tertekan sedikit saja fatal akibatnya. Bisa saja udara sekitarnya meredup dan ia pun mulai mendelikan matanya demi mencari cara terakhir untuk dapat melakukan satu hal yang belum ia lakukan.

Perlahan tapi pasti. Mungkin itu tak berlaku untuknya saat ini. Cepat tapi nikmat, ya mungkin ini yang cocok. Kalau yang menurunkannya dalam panggung megah dan besar ini cepat menariknya kembali ia tak perlu merasakan kehidupannya yang telah ia jalani.

Disampingnya kini berdiri seorang yang menyerupai malaikat, yang pernah ia ajak bicara sebelumnya. Ia mengeluarkan benda yang paling tak ingin kulihat tetapi aku pernah melakukan sesuatu hingga benda itu keluar. Benda itu berkilap dengan kelip yang dihasilkan cahaya yang memantul.

“Kau, bisakah kau meninggalkanku?”

Malaikat itu mendadak tegang seperti tak tahu musti melakukan apa selain menggenggam jemariku erat.

“Tolong, aku tak cukup punya waktu bila kau menggenggam jemariku erat.”

Tiba-tiba malaikat itu mendelik. Apa aku berbicara salah? Tapi perlahan ia mengendurkan genggamannya.

“Terima kasih.”

Lalu apa? Sekarang aku hanya memejamkan mata hingga wujud malaikat itu terbayang. Perlahan udara di sekitarku mulai menipis.

“Maaf.”

Ya hanya itu, lalu.

Aku kedatangan satu malaikat lagi. Semoga engkau bahagia, ujarku dalam hati dan menatap malaikat yang baru datang tersebut.

Selamat datang, Malaikat Maut…

Senja yang Tak Teraih

Bagaikan senja yang meluapkan keindahan yang dipancarkan sang surya

Membias biru laut menjadi sewarna dengan senja

Hangat sinarnya yang menyentuh permukaan tanah menjalar ke tubuh

Burung-burung yang pulang menjadi penghias unsur senja

Mungkin itu seperti dirimu

Keindahan yang dipancarkan dari kedua bola mata hitam

Membiaskan gerakan mata untuk menatapnya

Hangat aura kesempurnaannya menjalar hingga ke sendi-sendi tubuh

Rambutnya yang tergurai menghias kesempurnaan tersebut

Mungkin dirinya seperti senja

Mungkin juga tak hanya sekedar itu

Dirimu sebuah kesempurnaan yang tak teraih

Atau mungkin belum teraih

Tapi siapa aku?

Apa aku pantas bersanding dengan senja?

Aku hanya menjadi semut kecil yang tak mungkin bersanding dengan senja

Selalu seperti pengecut bila surya bersinar, semut hanya mencari tempat yang sejuk

Mencari aman apabila dirinya tak kuat bersanding dengan senja

Bahkan senja tak ingin tahu dengan semut tersebut

Tapi ada beberapa semut yang ingin menikmati senja dari kejauhan

Dan mungkin itu aku…