Selimut Sang Rembulan

Hening tak kentara walau tak selalu angin bersua

Sepi tak senada walau tak ada gugur air berserakan

Gelap tak benderang walau tidak menjadi sinar yang menyala

Awan hitam melambung jauh tak tercapai nian 

Kini hanya separuh sinar tak menampak

Sendu tak memanggil dirinya terjun di bawahnya 

Walau angin berhembus tak lebih hanya sekedar menyanyi

Nada-nada malam menemaninya di dalam keheningan

Dingin hanya menyentuh kulit, sayatan tak begitu berarti

Menggigil di antaranya hanya memahaminya

Kini selimutnya lah sebuah harapan

Terang di antara hitam kelabu menjadi nyata

Tak hilang oleh malam, menunggu hingga senja

Dirinya ditunggu untuk hidup nyata

Sinarnya diolah untuk penerang jiwa sang tersesat

Kini engkau berarti, mahal tak terbayarkan

Dirimu seolah dengungan indah di antara gelap

Rembulan, itukah engkau? 

Bersama selimutmu yang berkibar indah

 

Advertisements

Melodi Purnama

Ini hanya alunan melodi purnama, beberapa berakhir disini

Ombak yang bergulung serta karang yang siap diterjangnya

Suara gemuruh yang menggebu, jantung ini terdengar lirih

Angin yang menari-nari serta awan hitam yang menggumpal dibawanya

Darah mengalir deras, pasir ini terasa perih

Dingin tak hanya sebuah selimut malam, kini setitik fajar sebuah harapan

Belari melihat sinar rembulan yang membeku terang

Kini hanya kristal yang mengalir lembut, sendu tak tertahan

Membuka kotak pandora hitamnya bersama iringan melodinya

Mereka menarik perhatian, hati pun terkoyak lezat 

Kini apa sudah berakhirkah walau fajar masih menunggu detik per detik

Pilihan hanya sebuah ajang memilih, perselisihan batin tak mampu tertahan

Penyesalan tak akan berada di awal, kini semua terlambat

Hanya fajar yang dapat menolong

Walau hati tetap ingin terkoyak

Bertuan

Aku bingung, dinding ini tak berdiri

Seraya tak menyambut suara angin menerjangnya

Kau tak hanya sebuah mimpi

Yang tak ingin kuingat kehadirannya

 

Hanya langit yang tak bertiang

Melawan gravitasi yang tak kunjung hilang

Entah masih adakah engkau yang ku kenang

Kini hanya pertanyaan kapan kita dapat seiring

 

Rindu mungkin, apa darah ini memanggilnya

Waktu yang tak berdetik, mungkin mereka istirahat

Kini semua terasa sama saja

Engkau masih tetap seperti mimpi-mimpi yang kasat

 

Demi sebuah mawar yang tak diinginkan

Demi senja yang memudar hilang

Aku hanya ingin bilang

Aku masih berharap akan puteri yang bertuan

MERDEKA (dengan tanda tanya)

Ketika hanya kata MERDEKA yang membangkitkan semangat nasionalisme para pendahulu kita. Bagaimana dengan kita? Kita hanya menikmati kata MERDEKA tersebut tanpa dapat melakukan apa pun untuk negeri kita ini. Malukah kita? Berpijak pada hasil suara MERDEKA mereka tanpa bisa memberikan hal yang terbaik untuk bangsa ini. Pantaskah kita?

Sudah saatnya kita sadar bahwa negeri ini belum sepenuhnya MERDEKA. Kita sebagai penerus kata MERDEKA harus melakukan yang terbaik. Penyambung antar generasi saat ini tak menyadari apa yang mereka lakukan untuk negeri ini. Apa yang telah mereka perbuat hanya untuk kepentingan mereka, sadarkah kita ada yang salah dengan negeri ini?

Tanah subur? Hasil tambang melimpah? Ikan di lautan menyerupai semut? Hutan lebat? Kita ini kaya, tapi mengapa? Mengapa masih banyak yang belum merdeka. Merdeka dari pendidikan, kesehatan, ekonomi, sosial, serta budaya dan agama. Apa yang perlu dimasalahkan bila kita kaya tetapi masih ada yang belum merdeka?

Apa bedanya kita dengan mereka kalau kita tak menyadari apa yang telah terjadi dengan negeri ini? Apa bedanya kita dengan mereka bila tak melakukan apapun untuk negeri ini? Merdeka, hanya sebuah kata dari para pendahulu untuk negeri ini. Kita hanya dapat meneruskan kata itu untuk membangkitkan rasa nasionalisme yang mati bukan untuk negeri ini. Kata yang tepat untuk kita yang hidup setelah para pendahulu adalah KONTRIBUSI.

Sadarkah kita bahwa kita belum memberikan kontribusi untuk negeri ini? Sadarkah kita bahwa mereka tak banyak memberi kontribusi untuk negeri? Jadi masih dapatkah kita bermalas-malasan untuk negeri ini?

Sedikit perubahan untuk perubahan yang besar. Sedikit cahaya untuk penglihatan yang terang. Sambut 67 tahun dengan introspeksi diri. Apa yang dapat kita berikan untuk negeri ini? Sudah cukupkah kontribusi kita untuk negeri? Saat inilah kita para generasi muda yang harus memberikan lebih negeri ini.

Jadi apalah arti MERDEKA untuk negeri ini?