Ketika Hari Menyambut Satu Perjalanan

Mungkin waktu yang terlalu cepat berjalan atau memang kita yang terlalu banyak berpikir ketika waktu berjalan sangat lambat. Ketika waktu mulai berdentang mengingatkan akhir dari satu perjalanan pendek ternyata aku baru bangun dari semua pikiran serta lamunan. Mengingat apa yang telah terjadi dalam satu perjalanan pendek yang akan mulai berganti dengan perjalanan yang baru dan mungkin akan lebih susah untuk dijalankan.

Apa sudah berhasil meraih yang diinginkan dalam satu perjalanan ini? Apa sudah merasa membuat bangga dengan hasil yang ada kepada kedua orang yang selalu berjasa ini? Apa sudah keinginan-keinginan mereka sudah ku penuhi? Pertanyaan-pertanyaan mulai bermunculan di akhir perjalanan pendek ini.

Selasa delapan belas tahun yang lalu, ketika pertama kalinya menghirup udara kehidupan, mereka menangis bahagia. Mungkin, karena itu hanya imaginasi. Ketika itu tak ada ingatan yang menyangkut pada otak ini. Otak ini masih terlalu baru untuk diisi dengan ingatan-ingatan kecil maupun besar. Yang ada hanya air mata yang mungkin keluar serta teriakan meraung-raung kehausan maupun kelaparan. Atau pula hanya sekedar meminta kehangatan dalam peluk mereka. Ya, seperti kehadiran yang lain pada kehidupan ini.

Perlahan mereka mulai menyebutkan nama panggilan mereka, mungkin supaya otak ini cepat merespon bila saat nantinya sudah bisa lidah dan pita suara  mengucapkan satu-dua buah kata. Seperti halnya, pa-pa atau ma-ma. Ya, mereka mungkin bahagia mendengarkan panggilan mereka saat itu. Apakah mereka bahagiakah waktu itu? Ingin rasanya merasakannya bersama mereka.

Lalu mulai mereka melatih untuk berpindah tempat dari satu titik ke titik yang lain. Mungkin supaya otak serta otot-otot yang bergerak merespon saat nantinya sudah bisa kaki dan tangan bergerak satu-dua langkah. Mereka mungkin menepuk tangannya supaya menarik untuk bergerak ke arah mereka. Saat sudah berada di tempat yang dituju itu mereka berteriak senang. Lihat ia berjalan, mungkin itu yang terucap. Senangkah mereka waktu itu? Berharap, iya.

Berjalan waktu dengan cepat saat mulai otak ini sudah biasa mengingat hal-hal yang kecil maupun besar. Mereka membawa ke tempat orang-orang sebut tempatnya ilmu. Perlahan orang-orang disana mengajarkan ini dan itu, dan juga mereka di rumah mengajarkan berbagai hal tentang norma, nilai, dan sebagainya. Berhitung, membaca, menulis. Saat itu status baru juga muncul. Orang yang dianggap tua oleh seseorang yang berhubungan darah dengan mereka.

Berjalan kembali waktu saat dimana tingkat tempat ilmu bertambah satu tingkatan. Mereka tetap mengajar tentang ini dan itu, orang-orang di tempat ilmu itu pun mulai mengajarkan sosial, negara, alam, dan sebagainya dengan ukuran yang pas. Saat itu pula mengenal apa yang namanya hubungan suatu yang dianggap menyenangkan. Satu per satu mulai menjalani hubungan itu. Teman.

Satu tingkat lagi naik. Disini semuanya menjadi terlihat bahwa banyak yang harus dilalui nantinya. Mereka membantuku saat pilihan mana yang harus kupilih dan mana yang bukan kupilih. Apa mereka bangga melihatku saat tingkatan ini? Apa pilihan-pilihan ini sudah benar yang mereka harapkan? Kuharap, iya.

Kembali waktu berjalan, tingkatan naik satu. Disini masa depan mulai terlihat, apa yang akan dituju nantinya, bagaimana memilih tujuan-tujuan itu dengan cermat, dan sebagainya. Masa-masa peralihan dimana akan mulai menghadapi hidup yang jauh lebih susah untuk dihadapi.

Kini satu lagi perjalanan pendek telah usai. Dan mulai naik satu tingkatan lagi dari tingkatan sebelumnya. Mulai dengan perjalanan yang baru, rintangan yang bertambah banyak serta sulit, lalu semua unsur yang tergabung dalam hidup harus dijunjung tinggi. Apa aku siap menjalankannya? Apa mereka sudah bangga melihat ini semua? Mereka yang dari awal hingga akhir ini tetap selalu memberikan jasa-jasanya sudahkah terbayar dengan hasil yang sudah diraih ini?

Delapan belas bukan waktu yang singkat, didalamnya sudah berapa ribu cerita yang terjadi. Yang jelas sutradaranya benar-benar menguji pemain-pemain dalam cerita tersebut.

Terima kasih Tuhan yang selalu memberikan nikmatnya walau makhluk yang satu ini masih melakukan dosa.

Terima kasih Orang Tua yang bersedia memberikan kasih sayang, jasa, pendidikan, serta yang lainnya.Kuharap engkau tak pernah letih melakukannya, tetapi aku akan berusaha untuk tidak menyusahkan kalian.

Terima kasih orang-orang yang berada di dekatku maupun di kehidupanku. Kalian benar-benar yang membuat cerita ini bertambah indah. Guru, teman, sahabat, keluarga, serta yang lainnya. Berharap kalian tetap berjalan dengan penuh semangat.

Tanpa kalian delapan belas tahun ini tak akan tercapai dengan begitu menariknya. Suka, duka, haru, cinta, marah, dan yang lainnya menjadi satu di dalam delapan belas tahun ini.

Kini satu perjalanan telah diakhiri dengan hasil yang memuaskan. Kembali memulai satu perjalanan pendek kembali dengan semua target-target yang akan diraih nantinya.

18. It is not about age, it is about maturity and responsibility.

Perjalanan baru telah dimulai.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s