The Eyes (Part 1)

New Team

Center Eyes Tower, 46th 

Entah bagaimana aku selalu tak suka melewati koridor lantai ini. Entah karena takut akan sesuatu di ujung sana nantinya atau karena selalu dipanggil tengah malam seperti ini. Sampai saat ini beliau memang selalu memanggilku tengah malam saat semuanya sedang pada tidur.

Tapi bagaimanapun aku tak menyukai koridor ini, walau saat sensing lantai ini tidak ada apa-apa yang negatif. Dan seingatku tower ini selalu dijaga barrier oleh Obelisk Eyes users dan tak mungkin Aour negative menyerang tempat yang terbilang suci ini.

“Fick?”

 Sudah kuduga bukan satu orang saja yang dipanggil malam ini.

“Kau dipanggil juga, Rein?” Aku menoleh ke belakangku, rambut merah panjangnya itu menjadi objek pertama yang kulihat. Setelah itu, matanya.

“Menurutmu?” ucapnya sambil menguap.

Kami melanjutkan berjalan menelusuri koridor ini, berdua. Ya, setidaknya sampai ujung koridor ini.

“Tapi jarang sekali dari divisimu dipanggil tengah malam begini. Apalagi keamanan sedang aman terkendali, bukan?”

Ini aneh, bahkan seorang Rein dari divisi pertahanan ikut dipanggil tengah malam seperti ini. Ia termasuk dalam group pembuat barrier bersama Obelisk Eyes users. 

“Entahlah, tapi mungkin ini juga menyangkut mata ini,” ucapnya sambil show off Mirage Eyes-nya.

“Ya, ya… Mungkin saja, tetapi bisakah kau tak memamerkannya?”

Rein hanya tertawa dalam barrier uniknya itu, hasil dari transplantasi mata gabungan Obelisk Eyes dengan Air Eyes oleh professor. Barrier uniknya itulah yang menjadikannya wakil pimpinan di divisi pertahanan. Barrier yang membuat suatu objek tak terlihat termasuk dirinya. Menurutku ini akan menjadi hasil percobaan professor yang luar biasa bila Air Eyes ini tidak terbilang langka. Hanya ada dua puluh pasang mata di jagad raya ini.

Beberapa langkah lagi sampailah di ruang pimpinan yang sering kita sebut Decision Room.  Segalanya ditentukan di sana. Tim, misi, strategi, dan sebagainya.

“Sampai kapan kamu memamerkannya, sisakanlah untuk nanti jika terjadi sesuatu. Apalagi kita sudah di depan pintu.”

Barrier-nya dilepas, terlihat kembali rambut panjangnya yang merah tersebut. Aku selalu menyukai rambutnya tersebut entah kenapa.

Dia menoleh padaku, aku hanya menatap matanya yang punya keunikan tersebut. Aku tahu dia pasti merasa sedikit takut, mungkin ini pertama kalinya ia dipanggil di tengah malam seperti ini.

“Tak apa,” ucapku menyakinkannya.

Sebenarnya aku juga tak yakin dengan ucapanku tersebut tidak seperti biasanya, terlebih Rein juga ikutan dipanggil. Aku menatap pintu itu sejenak, aku juga melirik Rein yang menatap pintu juga. Saat sudah yakin aku mengetuk pintunya.

“Masuk!” Dan aku membukanya.

Aku terdiam melihat suasana di dalam, ternyata bukan hanya aku dan Rein yang dipanggil. Hampir lima orang berada di ruangan ini dan belum termasuk pimpinan dan wakilnya.

“Fick? Rein?”

“Fredie? Kattie juga?” ucapku melihat berdua, aku dan Rein hanya saling menatap. Bingung.

“Sepertinya sudah berkumpul semua. Welcome, new team.”

Aku mengerutkan keningku, membesarkan kelopak mataku, dan ingin mengeluarkan seruan kaget tetapi didahului oleh Fredie. Dan cuma Fredie tetapi hampir semuanya.

“Ya, kalian berdelapan akan menjadi satu tim.”

Delapan? Sebentar. Aku, Rein, Fredie, Kattie, Rex, Vany, Bowie, satu lagi. Siapa?

“Jangan panik begitu Fick, Aku yang kedelapan.” ucap X sang tangan kanan Pimpinan. Dan perlu dicatat, kami bertujuh benar-benar merasa kaget oleh Pimpinan.

Ada apa ini?

To be continue

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s