The Eyes (Prologue)

Godich City 

Bila dahulu ada yang ingin melihat kota mati, inilah tempatnya. Godich, kota mati di selatan Pulau Netton. Tak ada yang lebih buruk dari kota ini, tanda-tanda kehidupan pun tak ada.

Gedung-gedung tinggi yang terbelah entah oleh apa terlihat sangat menyeramkan, setidaknya bukan untukku tetapi partner-ku.

“Kau yakin ini tempatnya, Fick?” tanyanya sambil menatap sekelilingnya.

“Ya, aku sudah menyelidikinya beberapa bulan yang lalu.”

Fredie hanya menolehku bertanya dalam matanya yang berbicara itu. Bahkan aku sempat tak bisa menangkap sirat matanya itu, aku mempelajarinya sejak aku menjadi partner-nya tetapi matanya masih susah kutangkap.

“Kau masih mempunyai bibir dan lidahmu, gunakanlah!” seruku menasihatinya. “Aku merasa kerepotan menjadi partner-mu kalau tetap berinteraksi dengan matamu itu.”

“Tapi mungkin kau akan lebih kerepotan bila Kattie yang menjadi partner-mu, bersumpahlah pada hal itu.”

Dia benar, Kattie memang akan membuat teman partner-nya repot dibuatnya. Tidak beruntunglah mereka yang menjadi partner Kattie.

“Tapi kau menangkapnya barusan, bukan? Apa Boss…”

“Ssst!” potongku sambil menahan langkahnya.

Fredie hanya menolehku kembali, matanya berbicara. Aku hanya menganggukan kepala. Aku memejamkan mataku dan Fredie siap siaga dalam mode bertahan.

Satu… Dua… Empat… Enam… Sembilan… Sembilan buah. Penyambutan yang lumayan meriah sepertinya.

“Sembilan, setiap arah mata angin satu. Sisanya binatang pelacak,” bisikku pelan. Fredie hanya menghela napas panjang.

Aku membuka mataku kembali. Menghirup udara yang berdebu kota mati ini, sambil memilih akan bermain-main terlebih dahulu atau langsung menyelesaikannya cepat.

“Bagaimana matamu? Nomor satu atau dua?” tanya Fredie sambil bersiap mengambil senjata andalannya.

“Dua.”

Fredie tak jadi mengambil senjatanya, ia bertolak pinggang sambil menatapku. “Sesukamu!”

Kedelapannya maju serentak dengan cepat. Fredie hampir terjebak di antara kepungan mereka kalau saja matanya tak cepat menangkap reaksi mereka. Binatang pelacak itu lah yang mengejar Fredie.

Tapi itu bagus setidaknya Fredie tidak tak harus merasakan apa yang mereka rasakan nanti. Aku memejamkan mata kiriku di antara kepungan mereka yang mulai menyerang dengan pedang mereka.

*SHOCK WAVE*

Aku menghembuskan napas panjangku,  tak hampir setengah yang kupakai melawan mereka yang jumlahnya tak adil bila melawan satu-dua orang. Mereka tergeletak begitu saja.

“Fick!” teriak Fredie dari kejauhan. Tak menyangka ia melawan benda mekanik itu dengan cepat juga.

“Mission Completed.”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s