Sehangat Serabi Solo

Udara masih sangat bersih sekali, burung-burung baru saja meninggalkan sarangnya mencari makan untuk sang anaknya. Orang-orang pun mulai keluar membawa tas keranjangnya yang nantinya akan diisi oleh banyak bahan untuk masakan mereka di rumah nanti.

Dan aku jogging perlahan menemani mereka-mereka untuk ke pasar yang sudah terkenal di kota yang juga banyak sekali memproduksi Batik.

Sepanjang jalan aku selalu berbicara pada Ibu-Ibu tetangga yang ikut denganku bergabung dalam jalanan pagi ini. Karena mereka suka membicarakan orang yang dianggap mereka patut untuk dibicarakan, akupun sampai tahu apa yang sedang jadi buah bibir di sekitar kawasan ini.

“Ya sudah Nak Bagus, Ibu-Ibu belanja ke dalam dulu,” ucap salah satu dari mereka bila sudah berada di pasar dan masuk untuk berbelanja.

“Ya Bu, hati-hati.”

Setelah mereka menjauh dan menghilang di antara kerumunan orang-orang aku langsung meregangkan otot-otot ku. Dan terdiam sejenak, sudah enam bulan aku melakukan aktifitasku ini. Ya, sejak aku mulai tinggal di kota ini dan sepertinya aku sudah lumayan mengenal kota ini.

Tiba-tiba perutku berbunyi, tidak biasanya seperti ini. Aku mulai mengedarkan pandangan sekeliling pasar ini. Dan tanpa sengaja aku melihat pedagang serabi. Apa tidak terlalu pagi berjualan serabi?

“Serabinya berapaan Bu?” tanyaku.

“Satunya tiga ribu lima ratus rupiah.”

“Saya pesan tiga, Bu. Yang satunya dibungkus!”

Ibu tersebut mengangguk, beliau langsung menyiapkan serabinya untukku. Terlihat masih panas kuahnya.

“Ini Nak,” ucapnya sambil memberi sepiring yang berisi dua serabi bersama kuahnya.

Aku menyicipinya. Enak. Setelah kenyang memakan serabi, aku membayarnya dan mengambil yang terbungkus untuk kubawa pulang. Saat pulang aku bertemu kembali pada Ibu-Ibu tetanggaku.

“Wah Nak Bagus beli serabi ya? Beli dimana?” ucap salah satu dari mereka.

“Tadi di depan gapura Pasar Klewer tadi, Bu.” Setelah itu Ibu-Ibu terlihat bingung mendengarnya. Mereka berbisik-bisik.

“Nak Bagus gak salah beli kan? Terakhir yang Ibu ingat yang jualan di depan gapura Pasar itu sudah setahun meninggal dan tak ada yang lagi yang menepati tepat itu satupun berjualan di sana. Namanya Bu Ayu.”

Jantungku terasa berhenti, tadi kalau tak salah lihat di keranjang Ibu yang tadi berjualan serabi, ada tulisan Ayu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s