Sepanjang Jalan Braga

Bragaweg, ya aku akhirnya di sini sekarang. Ternyata betul seperti yang orang-orang bilang. Kawasan ini sangat elit, lihat saja mobil-mobil dan kereta kuda para londo itu melintasi kawasan ini setiap harinya.

Rumah perlelangan kopi pun penuh dengan orang-orang berada. Didominasi oleh orang-orang berambut pirang. Bendera merah-putih (dan biru) masih setia melambai-lambai di sepanjang jalan ini.

Saat kereta kuda milik Mister Van Sieg ini berhenti aku mulai turun dan mengangkat tasku. Gedung ini seperti tempat tinggal tetapi mengapa terlalu sepi. Dan tempatnya berada di dalam gang, sehingga tidak terlihat jelas dari jalan pusat.

“Mulai hari ini kau sudah bisa berkerja,” ucap Mister Van Sieg, beliau memang sudah fasih untuk mengucapkan Bahasa. Tetapi aku tetap aneh mendengarnya dengan aksennya tersebut.

Memang aku diajak Mister Van Sieg ini untuk berkerja, tetapi aku tak mengetahui pekerjaan apa yang akan ku kerjakan nanti. Dia hanya bilang cukup bermurah senyum saja. Mungkin menjadi pramusaji sebuah rumah makan mewah di kawasan ini.

Aku mulai memasuki gedung, awalnya aku mengira ini tempat tinggal berbayar itu. Dan sepertinya memang begitu. Banyak sekali laki-laki londo ini berada di sini.

Aku mengikuti Mister Van Sieg menaiki tangga. Ia terlihat berbicara dengan rekannya dengan Bahasa negara asalnya itu. Dan aku tak mengerti itu. Aku tetap mengikutinya dari belakang.

Kami berhenti di depan kamar mandi.

“Kamu pakai ini!” suruhnya.

Aku masuk dan memakai baju yang diberi oleh Mister Van Sieg. Tapi mengapa bajunya seperti ini? Agak ketat dan terbuka. Apa memang ini baju kerjanya? Aku pun tak hiraukan walau menjadi kepikiran terus.

Aku pun keluar dan mengikuti Mister Van Sieg, berjalan di lorong koridor. Dan berhenti di depan sebuah kamar. Mister Van Sieg pun membuka pintu.

“Kamu masuk sana, layani klien,” ucapnya. Aku sedikit terdiam sejenak. Layani? Siapa? Akupun mengintip dari luar. Ternyata dia yang tadi berbicara pada Mister Van Sieg dan memberikannya uang.

Sebentar.

Layani?

Baju kerja yang ketat dan terbuka?

Kamar?

Aku melihat Mister Van Sieg yang mulai meracau suruh masuk ke kamar. Tanpa panjang lebar akupun langsung berlari melewati koridor tadi, menurun tangga, serta keluar dari gedung tersebut.

Keluar gang dan berlari menelusuri Jalan Braga ini. Tak menghiraukan orang-orang londo itu yang mengumpat saat bahuku bertabrakan keras dengan bahu-bahu mereka.

Aku tetap berlari sepanjang Jalan Braga ini tanpa melihat ke belakang sekalipun. Entah Mister Van Sieg akan mengejarku atau tidak. Aku tak peduli. Siapa pula yang ingin berkerja bukan di jalanNYA?

Aku tak ingin!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s