Kerudung Merah

Ternyata cuaca tak mendukung. Langit mulai tertutup gumpalan-gumpalan awan cumulonimbus. Ayah yang baru saja menyiapkan sampannya tiba-tiba terhenti melihat awan-awan itu mulai berkumpul.

Kabut pun mulai menyelimuti bibir danau, sehingga jarak pandang terbatasi. Ayah langsung berhati-hati jalan di atas sampannya, kemudian meloncatinya.

“Bah, bagaimana ini? Jarang sekali cuaca buruk begini? Kalau begini kita akan dimarahi Ibu Kau.” Ayah langsung bergumam tentang nanti bila Ibu memarahi kita karena tak mendapatkan ikan.

Kabut mulai menebal, Ayah bersiap-siap untuk merapikan jala-jala untuk disimpan kembali. Menunggu cuaca membaik.

Di sela-sela merapikan jala, Ayah memandang sampannya yang terlihat kabur karena kabut.

“Nak! Kau lihat itu?”

“Lihat apa?” Aku mengikuti arah pandang Ayah, sampannya. Aku melihat dengan sedikit bingung karena kabut ini menghalangi semuanya.

Ah, iya. Ada bayangan.

Seperti tubuh perempuan?

Siapa?

“Ini seperti yang di film-film itu Ayah.” Aku mulai merinding, detak jantungku mulai tak beraturan.

“Ah, Kau itu kebanyakan nonton film, mana ada yang seperti itu.” Ayah menggubris ucapanku.

Ayah mulai mendekati sampan dan memeriksa siapa. Mungkin teman nelayannya yang baru balik dan karena tak melihat daratan ia menemukan sampan Ayah dan menaikinya.

“Hoi, Kau itu, Taufik?” Ayah mulai berteriak memanggil salah satu temannya yang tadi belum balik. Tapi bila itu Paman Taufik, mengapa ia tak menyapa balik sahutan Ayah.

Saat Ayah ingin menaiki sampan tiba-tiba bayangan itu hilang. Ayah mulai berhenti melangkah saat melihatnya.

“Nak, Kau lihat itu?”

Aku yang melihatnya semakin merinding. Baru pertama kali aku melihat yang seperti itu barusan. Dan tiba-tiba pula kabut mulai menipis. Kami perlahan-lahan bisa melihat Danau kebanggan Tanah Batak ini.

Saat itu kami berdua langsung memeriksa sampan Ayah. Dan aku membesarkan mataku dan mengucek-uceknya, melihat apa yang berada di sampan. Ayah pun juga terlihat kaget.

Ada Paman Taufik, dengan kulit yang terlihat pucat dan tak bernapas. Di sampingnya tergeletak kerudung merah. Dan kami pun berpandangan-pandangan, tak tahu apa yang ingin dikatakan. Dan tetap bulu kudukku berdiri melihatnya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s