Untitled

Sekian lama ku mengendapkannya, sekian lama ku ingin mengungkapkannya. Tapi sayang, aku ini terlalu takut untuk itu. Terlalu pengecut untuk semua yang telah kupendam sekian lamanya.

Bahkan untuk menghilangkannya, aku tak berani bila semua itu menghilang. Masih jelas bila ku masih merasakannya. Merasakan sesuatu yang kata orang hal yang sangat luar biasa.

Mungkin itu untuk mereka, bukan untukku. Untuk orang yang terlalu pengecut untuk mengatakan apa yang kurasa, apa yang tak kuasa untuk hanya sekedar bermimpi.

Bertemu saja mungkin sudah menjadi suatu yang sangat indah bagiku, sekedar untuk dapat melihat senyum yang terurai indah itu. Tetapi sekali lagi, aku terlalu pengecut untuk sekedar menemuinya.

Tapi lihatlah, ada yang menjaganya. Terasa lega tapi terpikir mengapa bukan aku yang menjaganya?

Mungkinkah masih ada kesempatan untuk menjaganya, terlebih karena aku masih tak bisa melupakannya. Aku seperti berada di perangkapnya, tak bisa keluar untuk melupakannya.

Ya, aku tak bisa keluar dari itu untuk melupakannya.

Advertisements

Sehangat Serabi Solo

Udara masih sangat bersih sekali, burung-burung baru saja meninggalkan sarangnya mencari makan untuk sang anaknya. Orang-orang pun mulai keluar membawa tas keranjangnya yang nantinya akan diisi oleh banyak bahan untuk masakan mereka di rumah nanti.

Dan aku jogging perlahan menemani mereka-mereka untuk ke pasar yang sudah terkenal di kota yang juga banyak sekali memproduksi Batik.

Sepanjang jalan aku selalu berbicara pada Ibu-Ibu tetangga yang ikut denganku bergabung dalam jalanan pagi ini. Karena mereka suka membicarakan orang yang dianggap mereka patut untuk dibicarakan, akupun sampai tahu apa yang sedang jadi buah bibir di sekitar kawasan ini.

“Ya sudah Nak Bagus, Ibu-Ibu belanja ke dalam dulu,” ucap salah satu dari mereka bila sudah berada di pasar dan masuk untuk berbelanja.

“Ya Bu, hati-hati.”

Setelah mereka menjauh dan menghilang di antara kerumunan orang-orang aku langsung meregangkan otot-otot ku. Dan terdiam sejenak, sudah enam bulan aku melakukan aktifitasku ini. Ya, sejak aku mulai tinggal di kota ini dan sepertinya aku sudah lumayan mengenal kota ini.

Tiba-tiba perutku berbunyi, tidak biasanya seperti ini. Aku mulai mengedarkan pandangan sekeliling pasar ini. Dan tanpa sengaja aku melihat pedagang serabi. Apa tidak terlalu pagi berjualan serabi?

“Serabinya berapaan Bu?” tanyaku.

“Satunya tiga ribu lima ratus rupiah.”

“Saya pesan tiga, Bu. Yang satunya dibungkus!”

Ibu tersebut mengangguk, beliau langsung menyiapkan serabinya untukku. Terlihat masih panas kuahnya.

“Ini Nak,” ucapnya sambil memberi sepiring yang berisi dua serabi bersama kuahnya.

Aku menyicipinya. Enak. Setelah kenyang memakan serabi, aku membayarnya dan mengambil yang terbungkus untuk kubawa pulang. Saat pulang aku bertemu kembali pada Ibu-Ibu tetanggaku.

“Wah Nak Bagus beli serabi ya? Beli dimana?” ucap salah satu dari mereka.

“Tadi di depan gapura Pasar Klewer tadi, Bu.” Setelah itu Ibu-Ibu terlihat bingung mendengarnya. Mereka berbisik-bisik.

“Nak Bagus gak salah beli kan? Terakhir yang Ibu ingat yang jualan di depan gapura Pasar itu sudah setahun meninggal dan tak ada yang lagi yang menepati tepat itu satupun berjualan di sana. Namanya Bu Ayu.”

Jantungku terasa berhenti, tadi kalau tak salah lihat di keranjang Ibu yang tadi berjualan serabi, ada tulisan Ayu.

Sepanjang Jalan Braga

Bragaweg, ya aku akhirnya di sini sekarang. Ternyata betul seperti yang orang-orang bilang. Kawasan ini sangat elit, lihat saja mobil-mobil dan kereta kuda para londo itu melintasi kawasan ini setiap harinya.

Rumah perlelangan kopi pun penuh dengan orang-orang berada. Didominasi oleh orang-orang berambut pirang. Bendera merah-putih (dan biru) masih setia melambai-lambai di sepanjang jalan ini.

Saat kereta kuda milik Mister Van Sieg ini berhenti aku mulai turun dan mengangkat tasku. Gedung ini seperti tempat tinggal tetapi mengapa terlalu sepi. Dan tempatnya berada di dalam gang, sehingga tidak terlihat jelas dari jalan pusat.

“Mulai hari ini kau sudah bisa berkerja,” ucap Mister Van Sieg, beliau memang sudah fasih untuk mengucapkan Bahasa. Tetapi aku tetap aneh mendengarnya dengan aksennya tersebut.

Memang aku diajak Mister Van Sieg ini untuk berkerja, tetapi aku tak mengetahui pekerjaan apa yang akan ku kerjakan nanti. Dia hanya bilang cukup bermurah senyum saja. Mungkin menjadi pramusaji sebuah rumah makan mewah di kawasan ini.

Aku mulai memasuki gedung, awalnya aku mengira ini tempat tinggal berbayar itu. Dan sepertinya memang begitu. Banyak sekali laki-laki londo ini berada di sini.

Aku mengikuti Mister Van Sieg menaiki tangga. Ia terlihat berbicara dengan rekannya dengan Bahasa negara asalnya itu. Dan aku tak mengerti itu. Aku tetap mengikutinya dari belakang.

Kami berhenti di depan kamar mandi.

“Kamu pakai ini!” suruhnya.

Aku masuk dan memakai baju yang diberi oleh Mister Van Sieg. Tapi mengapa bajunya seperti ini? Agak ketat dan terbuka. Apa memang ini baju kerjanya? Aku pun tak hiraukan walau menjadi kepikiran terus.

Aku pun keluar dan mengikuti Mister Van Sieg, berjalan di lorong koridor. Dan berhenti di depan sebuah kamar. Mister Van Sieg pun membuka pintu.

“Kamu masuk sana, layani klien,” ucapnya. Aku sedikit terdiam sejenak. Layani? Siapa? Akupun mengintip dari luar. Ternyata dia yang tadi berbicara pada Mister Van Sieg dan memberikannya uang.

Sebentar.

Layani?

Baju kerja yang ketat dan terbuka?

Kamar?

Aku melihat Mister Van Sieg yang mulai meracau suruh masuk ke kamar. Tanpa panjang lebar akupun langsung berlari melewati koridor tadi, menurun tangga, serta keluar dari gedung tersebut.

Keluar gang dan berlari menelusuri Jalan Braga ini. Tak menghiraukan orang-orang londo itu yang mengumpat saat bahuku bertabrakan keras dengan bahu-bahu mereka.

Aku tetap berlari sepanjang Jalan Braga ini tanpa melihat ke belakang sekalipun. Entah Mister Van Sieg akan mengejarku atau tidak. Aku tak peduli. Siapa pula yang ingin berkerja bukan di jalanNYA?

Aku tak ingin!

Kerudung Merah

Ternyata cuaca tak mendukung. Langit mulai tertutup gumpalan-gumpalan awan cumulonimbus. Ayah yang baru saja menyiapkan sampannya tiba-tiba terhenti melihat awan-awan itu mulai berkumpul.

Kabut pun mulai menyelimuti bibir danau, sehingga jarak pandang terbatasi. Ayah langsung berhati-hati jalan di atas sampannya, kemudian meloncatinya.

“Bah, bagaimana ini? Jarang sekali cuaca buruk begini? Kalau begini kita akan dimarahi Ibu Kau.” Ayah langsung bergumam tentang nanti bila Ibu memarahi kita karena tak mendapatkan ikan.

Kabut mulai menebal, Ayah bersiap-siap untuk merapikan jala-jala untuk disimpan kembali. Menunggu cuaca membaik.

Di sela-sela merapikan jala, Ayah memandang sampannya yang terlihat kabur karena kabut.

“Nak! Kau lihat itu?”

“Lihat apa?” Aku mengikuti arah pandang Ayah, sampannya. Aku melihat dengan sedikit bingung karena kabut ini menghalangi semuanya.

Ah, iya. Ada bayangan.

Seperti tubuh perempuan?

Siapa?

“Ini seperti yang di film-film itu Ayah.” Aku mulai merinding, detak jantungku mulai tak beraturan.

“Ah, Kau itu kebanyakan nonton film, mana ada yang seperti itu.” Ayah menggubris ucapanku.

Ayah mulai mendekati sampan dan memeriksa siapa. Mungkin teman nelayannya yang baru balik dan karena tak melihat daratan ia menemukan sampan Ayah dan menaikinya.

“Hoi, Kau itu, Taufik?” Ayah mulai berteriak memanggil salah satu temannya yang tadi belum balik. Tapi bila itu Paman Taufik, mengapa ia tak menyapa balik sahutan Ayah.

Saat Ayah ingin menaiki sampan tiba-tiba bayangan itu hilang. Ayah mulai berhenti melangkah saat melihatnya.

“Nak, Kau lihat itu?”

Aku yang melihatnya semakin merinding. Baru pertama kali aku melihat yang seperti itu barusan. Dan tiba-tiba pula kabut mulai menipis. Kami perlahan-lahan bisa melihat Danau kebanggan Tanah Batak ini.

Saat itu kami berdua langsung memeriksa sampan Ayah. Dan aku membesarkan mataku dan mengucek-uceknya, melihat apa yang berada di sampan. Ayah pun juga terlihat kaget.

Ada Paman Taufik, dengan kulit yang terlihat pucat dan tak bernapas. Di sampingnya tergeletak kerudung merah. Dan kami pun berpandangan-pandangan, tak tahu apa yang ingin dikatakan. Dan tetap bulu kudukku berdiri melihatnya.

Jingga di Ujung Senja

Memang matahari mulai tergelincir di arah barat. Seakan ingin tenggelam di batas horizon yang tak terlihat tersebut. Warna biru langitpun tersamar oleh cahaya matahari dan membentuk warna jingga yang indah.

Lampu-lampu jembatan ini pun mulai menyala dan lampu-lampu di sekitarnya. Jembatan yang menjadi lambang kota pempek ini mulai terhiasi indah karenanya.

Dan aku disini, di tepi tengah jembatan yang katanya dulu bisa terangkat dan membelah supaya kapal besar yang melintasi Sungai Musi ini bisa melewati jembatan.

Kendaraan mulai lalu-lantang melintasi sungai, pendagang mulai mencoba menawarkan dagangannya yang di dominasi oleh pedagang pempek.

Mereka pun mencoba menawari dagangannya kepadaku juga. Tapi aku acuhkan. Entahlah tapi aku mendengar beberapa orang mulai mengumpat karena aku tak memperhatikan langkah-langkahku.

Aku tak peduli pada mereka.

Aku bahkan tak mempunyai hubungan pada mereka semua.

Hidupnya, keluarganya, pekerjaannya, hartanya.

Masa bodoh buat semuanya itu. Aku tak peduli pada mereka.

Mengapa aku harus peduli? Mengapa aku harus mengetahui mereka? Apa mereka peduli padaku? Mengetahui aku? Tidak!

Aku mulai melihat Sungai Musi ini dengan seksama. Mengapa masyarakat sini membanggakan sungai ini? Mengapa ia begitu istimewa? Mengapa, mengapa, mengapa? Mengapa tidak padaku?

Aku mulai berdiri di tepi jembatan, menatap hamparan air sungai di depanku. Orang-orang mulai berteriak-teriak panik, tapi mereka terlambat. Aku tak peduli mereka.

Dan aku meringankan badanku, angin sore mulai mendorongku. Terakhir yang kulihat adalah senja.

Pagi Kuning Keemasan

Terdiam sejenak, ku menatap lautan yang tak berujung itu. Ku melirik jam tanganku, masih beberapa menit lagi untuk menikmati sunrise di pulau yang pernah menjadi latar film Indonesia.

Pantai sebelah timur pulau ini sangat strategis untuk para wisatawan bila pagi menjelang. Aku melihat beberapa dari mereka berada di pantai ini sedang duduk santai di atas pasir yang lembut ini.

Akupun melakukan apa yang mereka lakukan, duduk santai di pantai ini. Kemudian mengambil mp3 untuk mendengarkan lagu dan juga kamera digital untuk mengabadikan suasana pantai.

Dan tibalah pagi, dengan matahari yang bersinar terang kuning keemasan itu. Tapi tunggu.

Mana mataharinya?

Orang-orang di sekitar pantai pun mengapa berteriak panik?

Aku melepaskan earphoneku sambil mendengar teriakan-teriakan tersebut.

Barat? Ada apa dengan barat? Sayup-sayup aku mendengar itu.

Sinarnya semakin menyengat, aku tetap terduduk diam memandang lautan yang seharusnya menjadi batas horizon itu.

Perlahan aku melihat sudah mulai berlari panik. Mereka seperti tak mengenal satu sama lainnya. Seperti orang tak berakal menurutku.

Dan sinar makin silau dan menyengat saat aku melihat barat, keringat mulai membasahi mukaku. Dan semua menjadi gelap.

***

Aku terduduk dengan tiba-tiba. Mengatur napas dengan memburu. Keringat membasahi hampir seluruh tubuhku. Sinar matahari menghalangi pandanganku.

Dan aku mulai teratur mengatur napas, tak lagi terburu. Aku mulai menyeka keringat di mukaku.

“Ternyata mimpi.” Aku menghela napas lega, tak kusangka aku bermimpi seperti tadi di pulau yang menjadi latar salah satu film Indonesia yang populer ini.

Menunggu Lampu Hijau

Mungkin gak hanya dia yang protes tentang angka empat di Jam Gadang ini, tapi itu pertama kalinya aku melihat seorang perempuan yang terlihat ingin menghancurkan Jam Gadang ini hanya karena angka empat tersebut.

“Angka empat romawi tuh ya gini, bukan kayak yang di atas itu,” katanya sambil memperlihatkan tulisan angka romawi di bukunya.

Tapi memang di situlah uniknya dimana angka empat romawi itu tertulis IIII di tempat wisata Bukit Tinggi ini.

Aku hanya bisa menjelaskan mengapa bisa terjadi seperti itu, ya walaupun gak tau benar asal-usulnya yang penting dia gak lagi mempersalahkan hal itu.

Aku dan dia berencana untuk menunggu hingga malam tiba di tempat ini. Menunggu lampu-lampu hijau di atas Jam Gadang itu bersinar.

Selama menunggu itu aku hanya menikmati setiap obrolan kami. Tak hanya itu kami juga menyantap jajanan di sekitar lokasi Jam Gadang. Berkeliling sambil bercanda ria di antara para wisatawan lokal maupun non-lokal.

Hari itu sangat berharga bagiku, ya setidaknya itu yang tetap terjaga di memoriku ini.

Hingga malam tiba, lampu-lampu hijau yang berada di atas Jam Gadang pun bersinar. Lampu-lampu hias di sekeliling pun menambah suasana menjadi sangat indah dan romantis. Setidaknya menurut mereka.

“Raihan!” panggilnya, kami sedang duduk menikmati keramaian malam. Aku hanya bergumam membalasnya.

“Kamu tahu kan aku mengajakmu kesini untuk apa?”

Aku terdiam sejenak, kemudian ku menoleh padanya. Ya aku tahu, tidak hanya sekedar untuk menunggu lampu-lampu hijau dan kawan-kawannya itu. Tak hanya membincangkan masalah angka empat romawi saja, menikmati berada di tengah-tengah wisatawan.

Tiba-tiba ia memberikanku secarik kertas.

“Mungkin kau akan membutuhkan itu.” Kemudian dia berdiri dan berjalan meninggalkanku.

“Rena!” panggilku, ia berhenti dan berbalik badan menghadapku.

Kata-kata yang akan ku ucap tidak dapat keluar. Lidahku membeku. Tapi ternyata ia paham karena kemudian ia hanya tersenyum. Dan aku mengerti senyumannya itu. Dan ia pun berlalu.

Dan kini aku menungu lampu-lampu itu kembali setelah beberapa tahun itu. Sambil melihat postcard yang baru diterimanya tadi pagi.

Hai Raihan

Sudah lama tidak kita berinteraksi. Kau tahu aku kangen padamu. Oh iya aku disini baik-baik, bagaimana denganmu? Ku harap kau baik-baik saja disana. Oh iya apa angka empat romawi itu sudah diganti? Haha kuharap sudah, tapi aku kangen tempat itu. 

Oh aku mengirimkan foto-foto ku disana, aku harap kau sudah melihatnya. Ah iya, mungkin aku akan kesana saat libur tiba. Dan berharap aku akan bertemu denganmu. Ini saja dariku, kutunggu balasan darimu. 

Rena, Paris, April 16th 2000

Aku melihat foto-fotonya disana, begitu memukau tempat tersebut. Dan berhenti di foto terakhir. Bayi laki-laki yang menurutku sangat menggemaskan. Aku membalikan foto itu dan terdapat tulisan darinya.

Namanya Ray, Kuambil dari namamu. Anak yang akan penuh sinar hangat seperti dirimu. 

Aku kembali mengambil salah satu dari foto-fotonya itu. Foto dengan keluarga kecilnya, ia terlihat sedang menggendong Ray.

Dan tak sadar malampun tiba, lampu-lampu sekitar Jam Gadang pun nyala bersaut-sautan. Termasuk lampu yang menghiasi atas Jam Gadang tersebut. Menikmati beberapa tahun yang lalu itu, sebuah perpisahan yang tak terlupakan.