Bingkainya

30 November 2009

Di penghujung akhir bulan November yang sudah mulai terasa berada di musim penghujan, pagi ini matahari tidak terlihat bersinar. Sekumpulan awan hitam menyelimuti hamparan biru langit, yang semakin menyiratkan kesedihan yang mendalam, khususnya Rasty.

Wanita ini kembali mengeluarkan air matanya saat ia terbangun dari tidurnya, yang berharap bahwa semua ini hanyalah mimpi buruknya.

Dari semalam Rasty terus menangis dan menangis, ia bahkan susah untuk tidur, yang pada akhirnya ia pun tertidur karena sudah tidak mampu lagi menangis. Pagi ini ia harus segera pergi ke suatu tempat. Tempat yang ingin ia luapkan semua bentuk kesedihannya.

Rasty pun bersiap-siap berpakaian rapi. Ini pertama kalinya ia akan mengunjungi tempat tersebut. Tempat di mana yang menyiratkan kehidupan yang akan datang.

Selesai bersiap-siap Rasty pun berangkat. Sesampai di ruang tengah rumahnya, Orang tuanya  melihat anaknya cemas. Mereka sudah tahu anaknya akan pergi kemana.

“Sarapan dulu, Nak!” ucap Ibunya, tetapi Rasty tetap diam tak menjawab. Bapaknya yang sedang meminum kopinya mengisyaratkan Ibunya untuk tidak memaksa anaknya.

Rasty pun berangkat dan menyusuri jalan yang ternyata sudah mulai basah karena gerimis. Udara dingin mulai memasuki kulit Rasty yang membuat kesedihannya semakin dingin dan pedih.

Sesampai di tempat tujuan, ternyata sudah banyak yang hadir di tempat tersebut. Mereka berkumpul dengan pakaian mereka yang seragam sama, dengan mimik wajah yang seragam pula.

Gerimis masih membasahi tanah di sekitar tempat ini. Bau khasnya pun masih tercium jelas. Rasty pun masih menunggu hingga kumpulan orang-orang itu bubar, dengan payungnya yang sudah ia pakai.

Rintik-rintik gerimis pun perlahan-lahan berubah menjadi titik-titik hujan. Sekumpulan orang-orang tadi pun sudah bubar, terburu-buru keluar dari kompleks tempat itu dengan payung mereka masing-masing.

Rasty masih tetap diam bergeming dengan payungnya. Menunggu dan memastikan tidak ada orang lagi selain dirinya dan seseorang yang wajahnya terlihat tersenyum tulus seperti biasanya yang berada di tempat kumpulan orang tadi.

Rasty masih ingat betul pertama kali senyum orang itu di tujukan padanya. Senyumnya saat menyanyikan lagu untuknya. Senyumnya saat sebelum menutup kaca helmnya saat berpamitan pulang, setelah mengantarkan Rasty pulang.

Senyum yang penuh cintanya itu untuk Rasty. Melihat itu Rasty kembali teringat memori-memorinya dengan kekasihnya itu.

Rasty menghampiri sosok wajah kekasihnya yang masih tetap tersenyum itu, beda dengan wajah orang-orang yang berkumpul tadi.

Sesampai di depannya, ia masih tetap tersenyum tak menyapa seperti biasa, yang selalu menyapa Rasty penuh dengan rasa cintanya itu.

“Hey.” Sapa Rasty pada akhirnya, orang yang disapa masih tetap diam tak menjawab dengan senyumnya itu.

Rasty pun menanti sapa kekasihnya itu, detik demi detik dinantinya. Hujan masih menguyur deras, menambah dingin yang ada. Rasty perlahan-lahan menitikkan air matanya, tersadar yang disapa hanyalah sebuah bingkai dengan wajah kekasihnya yang tersenyum. Kekasihnya pun sudah tertidur lelap di bawah bingkai tersebut.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s