After Time Flying

“Mengapa kau kembali lagi kesini?”

Entah pikiran apa yang menggerogoti kepalaku sehingga memutuskan kembali ke restoran Italia yang lumayan tua umurnya, La Trattoria. Dinding-dindingnya yang terbuat dari batu bata merah, meja dan kursi kayu hitam yang terletak di seisi restoran, serta lemari yang penuh dengan botol-botol wine tersebut  membuat kesan klasik tersendiri.

Sekian lama meninggalkan kota ini dan sekarang aku sudah menginjakkan kaki kembali di sini, sudut kota Paris yang hanya bertemaram lampu-lampu jalan pada malam hari, kios-kios kecil, serta La Trattoria ini. Sepi, tak begitu ramai orang-orang melewati jalan ini.

Dan pemuda yang tadi bertanya dengan nada emosi menjadi alasanku kembali kesini, Roberto. Pemuda keturunan Italia yang bertempat tinggal di Paris ini selalu mengunjungi restoran ini di akhir pekan. Sekedar untuk lunch bahkan dinner serta mencicipi wine yang disediakan La Trattoria.

“Tak adakah kata sapaan yang baik untuk sekian lama kita tidak bertemu?” ucapku sambil melihat segelas red wine yang berada di mejanya.

Dia tetap mengacuhkanku, memandang ke arah dinding yang memajang lukisan salah satu sungai di Paris. Akupun langsung berinisiatif duduk di hadapannya. Aku memperhatikan wajahnya yang tampak sekali belum berubah sejak kumeninggalinya. Rambut-rambut halus di sekitar dagunya terpangkas rapi, hanya itu saja yang terlihat berbeda sejak terakhir kali bertemunya.

“Sejak kapan kau meminum red wine? Seingatku kau tak pernah meminumnya,” tanyaku. Aku yakin selama kumengenalnya dia tak pernah meminum red wine, bahkan waktu kumenawarinya ia pun menolaknya.

“Bukankah ini satu-satunya yang membuatku mengingatmu dalam setahun ini,” jawabnya sendu seraya menatapku. Berbeda sejak pertama kali tadi ia menatapku dengan sinis.

Tak kupercaya atas jawabannya, dengan wine kesukaanku itu caranya untuk mengingatku. Dan dengan cara apa aku mengingatnya? Setelah dua bulan lalu aku mempunyai cara untuk mengingatnya. Aku mengigit bibirku, tak sanggup dengan niat awal aku menemuinya.

“Pergilah denganku dari sini,” kataku seraya menahan nafas saat mengucapkannya.

Ia hanya mengkerutkan keningnya, tak mengerti apa-apa. Aku bahkan tak tahu harus menjelaskan seperti apa, sejak dua bulan lalu bahkan saat setahun yang lalu.

“Maksudku, pergi dari kota ini,”

“Maksudmu apa Maura? Jangan berbelit-belit,” ucapnya yang mulai tak mengerti tentang kedatanganku kembali.

“Iya, pergi dari kota ini… Pergi ke tempat anak kita berada sekarang.”

Dia pun terkaget mendengarnya, bahkan aku tak bisa membaca ekspresinya seperti apa. Ya, di sinilah aku bertemu dengannya, meninggalkan dirinya, serta mengajaknya bertanggung jawab atas kejadian setahun yang lalu.