Maafkan Aku, Tuhan

Tuhan

Kau begitu maha pemurah

Saat ku berbalik arah

Kau masih mengingatkan ku arah

 

Tuhan

Kau begitu maha penyayang

Saat ku tersandung

Kau masih membantuku terbangun

 

Tuhan

Kau begitu maha pemberi

Saat ku sedih

Kau masih memberiku hiburan

 

Tak cukup sajak ini kuberikan

Karena dosa ini melebihi sajakku

Tuhan

Maafkan aku

I See You Standing There

Tak ada yang tak indah untuk pagi semendung ini. Awan hitam pekat tak ada tanda-tanda matahari akan bersinar selama pagi ini. Sunyi masih menyelimuti tempat ini, dan ku terkejut melihat kau berdiri di sana. Depan majalah dinding tak jauh dari tempatku berdiri terpaku melihatnya.

Gadis itu sedang memakai sweater biru kesayangannya, sama seperti yang sedang kupakai. Kau sedang asyik membaca majalah dinding itu seperti biasanya. Aku sampai terheran hanya dia yang hampir sering mengunjungi majalah dinding tersebut.

Aku pun menghampirinya, entah bagaimana ia tahu aku menghampirinya ia sudah mengalihkan pandangannya kepadaku. Kemudian tersenyum manis yang membuat rasa rindu itu tumpah dari gelasnya.

Aneh, kalau dia sudah berada di depan majalah dinding itu seharusnya tingkat sensor sensitifnya mengetahui ada orang di sekitarnya akan berkurang. Tapi ini?

“Hey, tumben datang pagi?” ucapnya saat aku berada di sampingnya, memandang majalah dinding itu berdua.

“Entahlah, aku hanya ingin melihatmu lebih pagi,” jawabku seraya membaca puisimu yang ternyata terpampang di majalah dinding ini. Mungkin baru kemarin ditempel di sini.

Orang-orang mulai berdatangan satu per satu, beberapa ada yang melewati majalah dinding ini. Diam tak ada yang menyapaku bahkan Mori. Ia sendiri masih tekun membaca satu persatu artikel tentang sosial media di internet. Aku melihat ia seperti tertarik dengan gambar burung biru lambang ‘Twitter’ yang di gambar ulang oleh penulis artikel tersebut.

“Kau masih ingat, aku pernah berkata kalau aku meninggal dan dapat reinkarnasi aku ingin menjadi burung. Terbang di angkasa melihat manusia berbagai jenisnya termasuk kamu,” ucapnya sambil masih menekuni gambar tersebut.

Dan aku masih teringat jawabanku dulu, “Mungkin kau harus pindah agama terlebih dahulu dan menyakini adanya reinkarnasi tersebut.” Tapi sekarang aku bahkan tak dapat menggerakan lidahku untuk berbicara. Kaku. Tersadar akan kenyataan.

Tiba-tiba kau menghadap padaku, masih dengan senyum manismu yang senantiasa tergantung di bibirmu. Aku memandangnya dan teringat oleh kenyataan. Perlahan kau seperti bayangan semu dan menghilang begitu saja saat ada seseorang yang memanggilku.

“Rayan! Ngapain lo sendirian di depan mading?” ucapnya tak santai, berteriak sepagi ini bukan hal yang perlu dilakukannya.

Aku menatapnya jengkel karena sudah mengagetkanku dan diliriknya kami dari penjuru arah. Sesampainya ia di sampingku sambil merangkul bahuku keras, ia mungkin tersadar sedang apa aku di sini karena tak lama kemudian dia hanya berkata, “Sabar, ikhlas, dan berdoa. Oke?”

Ia selalu perhatian kepadaku dan selalu menghiburku lebih dari teman-temanku yang lain. Aku cukup bersyukur karena ada dia di sampingku sebagai sahabat.

Tiba-tiba ia menggiringku pergi dari tempat tersebut, aku pun pasrah mengikutinya. Mungkin sudah cukup aku bermain dengan imajinasiku untuk yang satu itu. Tak lama setelah sampai dekat lapangan, tiba-tiba ada burung kecil yang terbang di depanku. Aku menatap burung itu terbang. Ia hinggap di atas genting bangunan ini.

Mungkinkah kau sudah bereinkarnasi menjadi seekor burung?