Chocolate Jam

Awal bulan, biasanya ibu selalu belanja ke supermaket. Belanja bulanan untuk kebutuhan sehari-hari. Herannya aku selalu harus menemani beliau berbelanja. Selain untuk menjadi supirnya aku ditugaskan untuk mendorong-dorong trolley dari tempat satu ke tempat yang lain. Sebagai anak laki-laki satu-satunya aku harus menurut dengan beliau.

“Rayan? Tolong cari itu selai kacang sama kejunya,” ucap beliau tanpa melirik. Beliau sedang fokus dengan daftar belanjaan yang harus dibeli di notes kecilnya.

Aku pun segera menyusuri rak-rak dimana selai, keju, gula, dan kawan-kawannya diletakan. Mencari-cari selai kacang dengan merek yang selalu ibu beli. Tak sengaja aku melihat botol selai cokelat, kesukaannya. Masih suka kah dia? Aku pun mengambil botol selai cokelat itu rak paling atas entah mengapa.

“Mas tolong ambil yang itu satu lagi,” ucap seseorang perempuan di belakangku. Aku pun segera mengambil kembali botol selai cokelat itu lalu berbalik memberikannya.

Aku sedikit kaget melihat siapa yang tadi menyuruh ku mengambil botol selai cokelat barusan. Yang menyukai selai cokelat itu ada di belakangku sekarang. “Andien?”

Dia pun sama kagetnya melihatku. Aku memberikan botol selai cokelat itu padanya, ia belum juga mengambilnya. “Masih suka selai cokelat ya?” ucapku basa-basi

Saat itu dia baru mengambil botol selai cokelat itu dari tanganku dan memasukkannya di keranjang trolley. “Ya, begitulah. Segala kenangan itu ada di dalamnya. Setiap ku menikmatinya dengan roti atau bahkan donat aku selalu mengingat-ingat kenangan itu,” ucapnya sambil menerawang botol selai cokelat itu di trolleynya. Aku menatapnya nanar.

“Maaf, bahkan aku seperti menjadi sangat jahat berada di dalamnya. Padahal itu kesukaanmu bukan?”

“Ya memang benar, tapi di dalam kenangan pahit itu tersimpan manis rasa selai cokelat itu. Aku menikmatinya, setidaknya selai cokelat itu menjadi pemanis di setiap saat,” ucapnya sambil sedikit tersenyum. Masih sama seperti dulu.

“Aku benar-benar berasa sangat jahat padamu, maaf.”

There isn’t apology here.  Hidup memang begitu, berputar sesuai dengan takdir yang ditentukan. Tak ada yang salah di sini, dan tak ada pula permintaan maaf,”

Tiba-tiba ponselku bergetar, pesan singkat. Aku membacanya.

Rayan kamu dimana? Aku udah bersama Ibumu, masih di rak-rak selai?  

Tak ada beberapa menit, terlihat Ibu dengan Nissa berada di ujung lorong rak ini yang sedang mencari-cariku. “Sepertinya aku harus pergi sekarang, terima kasih bantuannya,” ucapnya sambil berjalan lawan arah dengan lokasi Ibu dan Nissa.

“Eh, Andien sebentar,” ucapku yang membuat dia berbalik badan. “Do you mind to attend about that my wedding, I already sent you a invitation card, get you?

Yes of course, wish you have a great wedding,” ucapnya sambil tersenyum berlalu pergi. Lalu Ibu dan Nissa sudah berada di sampingku sambil melihat arah pandangku.

“Dia baik-baik saja kan, Rayan?” tanya Ibuku yang masih memandangnya. Nissa yang di sampingku mengelus-elus punggungku, memberi suatu semangat. Nissa juga sudah mengetahui semuanya tentangnya

“Ya, sepertinya memang begitu. Bahkan saat Rayan menanyakan tentang akan mendatangi pernikahan Rayan dengan Nissa pun ia terlihat baik-baik saja,” ucapku sambil melirik Ibu dan Nissa.

“Rayan beli ini ya?” ucapku sambil menaruh sebotol selai cokelat ke keranjang trolley. Ya mungkin aku juga akan mencobanya.

Advertisements

One thought on “Chocolate Jam

  1. Pingback: List #7HariFFCokelat Chocolate Jam « gallerywords

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s