Menikahlah Denganku

Kamu berada di hadapanku berdiam diri menemani kesunyian malam yang membuat semua terasa bisu. Tak ada kata yang terucap, semua mulut kita terkunci. Aku hanya menikmatinya saja, setiap desir darahku saat melihat matamu dengan sunyinya malam sudah cukup menyenangkan bagiku.

Aku tak tahu maksud kau mengajakku hampir tengah malam ini. Seharusnya aku tak berpergian di jam dimana orang-orang pada tidur nyenyak, tapi aku menyanggupi permintaan ini karena kamu yang memintanya. Karenamu.

Sebenarnya aku sudah menyiapkan sesuatu untukmu, ya untuk kejutan.

“Rayan.”

“Diana,” ucap kami bersama-sama memanggil nama. Aku pun hanya tersenyum dengan kekompakan ini. “Ladies first!” aku menawarkannya untuk duluan berbicara. Tapi kamu malah menawarkan balik kepadaku, ya sudahlah aku pun segera mengambil sesuatu itu untukmu. Kotak beludru berwarna merah, ku serahkan di depan hadapannya.

“Menikahlah denganku!”

Kamu pun tiba-tiba malah menitikan air matamu, bahagiakah? Tapi aku melihatnya beda, ada yang tersembunyi di balik air mata yang terjatuh itu.

“Aku gak bisa,” ucapnya pelan sambil tersendu dan aku tak tahu alasannya mengapa. Kamu masih menangis dan aku tak tahu mengapa. Bisakah berhenti menangis, aku merasa tak bertanggung jawab karena telah mengeluarkan air matamu itu.

Kamu pun bercerita tentang pengalamanmu yang paling buruk yang pernah ku dengar. Aku tak tahu bagaimana membuat dirimu tenang dan tak khawatir seperti ini.

Apa merelakannya sudah membuat sedikit bebannya terangkat?

“Kalau cuma itu caranya, aku rela. Ya walau memang sakit bagaimanapun aku ingin kamu bahagia,” tak tahu darimana kalimat ini begitu lancar kuucapkan. Tapi ini memang untuknya, kebahagiaannya.

Kamu pun tak percaya mendengar ucapanku, apa terlalu bagus atau terlalu sedih, aku tak tahu itu. Setidaknya ini cara satu-satunya, aku merelakannya.

“Tapi…,” ucapmu ingin membantah karena aku telah memberikannya sebuah kotak beludru merah yang dipegangnya. Aku pun mengambil kotak itu darinya.

“Tak apa-apa, mungkin ini bukan takdirnya si kotak mungil ini. Dan bukan takdir kita juga untuk bersatu,” ucapku dan lagi-lagi aku membuatnya menangis, aku hanya mengelus-elus rambut panjangnya yang lurus itu untuk menenangkannya. Dan mungkin untuk yang terakhirnya.

Ya, untuk yang terakhir kalinya.

-Kejadian sebelum judul Tentangmu yang Selalu Manis

Tak terasa sudah 15 hari saya memposting Flash Fiction untuk yang pertama kalinya. Jujur ini pertama kalinya selama 15 hari menulis FF dan itu menyenangkan. Setiap judul yang diberikan setiap harinya berusaha untuk mengolah otak saya untuk menulis. Sangat kreatif atas ide #15HariNgeblogFF nya dan begitu banyak juga partisipan yang mengikutinya. Beberapa dari mereka sangat luar biasa karyanya bahkan bukan beberapa saja, tapi hampir semuanya. Saya pun sedikit demi sedikit belajar dari tulisan-tulisan mereka itu. Terima kasih untuk @WangiWS serta @momo_DM yang setiap harinya sudah share link para partisipan termasuk saya.

Sukses terus untuk proyek selanjutnya, ditunggu. 🙂 Salam Kreatifitas dan Keep Writing!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s