Tentangmu yang Selalu Manis

Tak ada yang terbuang, semua ku simpan baik-baik di dalam loker kasat mata. Kenangan-kenanganmu yang terasa begitu mirip dengan madu. Tak heran bila dia begitu lekat dengan ingatanku.

Kini semua terasa berbeda, tak seperti yang sudah kita lewati sebelumnya. Aku berada di sini dengan tegang menghadapi apa yang akan terjadi nanti. Menunggu persiapan yang sudah ditentukan.

Sesekali menunggu, aku benar-benar mengingat kembali kenangan-kenangan bersamamu. Saat pertama kalinya dengan tidak sengaja kau menabrakku, terlihat sekali seperti adegan-adegan yang sering ditonton ibuku di televisi. Kau bersedia membantu barang bawahanku yang jatuh. Di kantin kampus itu beberapa mata dari teman-temanmu menyorakimu. Kau pun hanya tersenyum dan pergi ke tempat meja temanmu.

Dan kenangan yang begitu indah di saat kau menyatakan cintamu dengan sederhana mungkin. Tidak terlalu muluk, dan itu hanya dilakukan olehmu. Ciri khas darimu.

Dan hingga pada kenangan yang begitu susah untuk dilupakan maupun dibuang.

“Diana, siap-siap ya sayang,” ucap Ibuku saat membuka pintu. Aku pun berdiri dan bercermin kembali. Siapkah aku melakukan semua ini? Aku pun hanya menghelakan napas yang sepertinya akhir-akhir ini sering kulakukan.

Aku keluar ruangan, di luar sudah ada orang yang menantiku menuju ruangan utama. Akupun langsung diantarnya menuju ruang utama. Setiap langkah, kenangan-kenangan itu berputar di kepalaku seperti layaknya film.

Aku sudah berada di depan ruangan utama, perlahan ku buka pintu ruangan ini. Begitu banyak orang di dalamnya. Menanti acara akbar yang akan segera mulai. Aku melihatmu di antara para pengunjung itu. Rayan. Kau mengenakan jas hitam, tak pernah ku melihatnya memakai pakaian tersebut.

Rayan melihatku tersenyum, tak terasa bahwa semua ini sudah berbeda. Aku pun hanya membalas senyumnya. Aku melangkah ke depan perlahan, menghampiri seorang laki-laki yang sedari tadi sudah menanti.

“Apakah Saudari Diana bersedia …..?”

“Ya saya bersedia,” ucapku membalas, tak begitu sadar memang kalau begitu kuucapkan kalimat ini semua berubah total. Ya, kuputuskan untuk menikah dengan laki-laki yang dijodohkan demi kehidupan keluarga selanjutnya begitu melihat keadaan keluargaku sangat kritis.

Rayan pun tak segan untuk merelakanku demi aku. Tapi kenanganmu tak akan kulupa. Terima kasih untuk semua cinta yang kau berikan,  kamu berhak mendapatkan perempuan yang lebih baik dariku.

Advertisements

One thought on “Tentangmu yang Selalu Manis

  1. Pingback: Menikahlah Denganku « gallerywords

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s