Senyum Untukmu Yang Lucu

Andai saja waktu itu aku tidak berbuat yang membuat diriku tersiksa ini, mungkin aku masih tersenyum untukmu. Betapa aku tak bisa hidup dengan tenang bila kau tidak ada di sisiku. Ku hanya perlu kamu di sampingku, tak peduli ikatan apa yang ada pada kita.

Tak seperti sekarang, aku benar-benar kehilangan dirimu yang selalu lucu padaku. Leluconmu yang selalu kau lontarkan pada waktu aku sedang berpikir keras untuk kerjaanku, itu sudah tak kulihat lagi.

Dan beberapa jam yang lalu kau memintaku menemuiku. Hatiku sudah lompat bungee jumping, tak karuan detak jantungku.

“Hai,” ucapku rada canggung, dia pun tersenyum kembali seperti biasa. Aku pun hanya membalas senyumnya dan duduk di kursi hadapannya.

Dia menyeruput minumannya, aku masih menunggu dia berbicara. “Minum?” tanyanya. Aku hanya menggelengkan kepalaku, niatku ke sini hanya untuk melihatmu saja itu sudah cukup daripada untuk minum. Kau terasa seperti kafeinku.

“Aku minta maaf telah menjaga jarak darimu sejak waktu itu, aku sangat marah waktu itu. Kau tahu itu tak sekedar gila untuk memaksaku putus dengan orang yang kucintai demi kau yang ingin memilikiku.” Kesunyian mulai tercipta kembali, aku seperti mendapat ribuan pisau untuk ucapannya tadi.

“Aku minta maaf juga, aku memang gak berhak untuk melakukan itu, gak berhak untuk mencintaimu. Aku minta maaf.”

“Kau tak perlu berbicara seperti itu, semua orang berhak mencintai siapapun . Yang perlu disadari adalah kita harus mengetahui apakah orang tersebut patut dicintai atau tidak,” ucapmu menanggapiku. Aku tak pernah sadar kau punya kata-kata seperti barusan.

“Sepertinya kau tipe orang yang tidak patut ku cintai, aku sadar aku salah. Maafkan aku untuk waktu itu,” pinta maafku padanya. Dia pun tersedikit tersenyum.

“Kau pikir aku ini bukan temanmu? Tak perlu minta maaf pun aku sudah memaafkanmu.”

Aku pun tersenyum melihat dirimu dengan tawa kecilnya. Kemudian dia mengulurkan jari kelilingnya padaku. Aku hanya mengerutkan keningku, tak mengerti maksudnya.

Friend maybe better than be lover,” ucapnya dengan mimik muka leluconmu itu.

Akupun mengaitkan jari kelilingku dengan jarinya. Membentuk ikatan persahabatan yang tak akan pernah putus. Setidaknya aku masih bisa tersenyum untuknya yang selalu lucu saat menjadi seorang teman dekatnya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s