Inilah Aku, Tanpamu

Tak kuasa ku membendung semua yang telah ku dapatkan, semua duri-duri dari sang mawar nan indah itu menusuk dalam. Sakit itu terasa amat perih, merobek semua lapisan-lapisan kenangan dari awal.

Ku merogoh semua hati yang tertinggal di dalam kenangan-kenangan itu, membuangnya hingga tak terlihat lagi olehku. Bila perlu akan kusiapkan bara matahari untuk membakarnya menjadi abu dan asap.

Sangat butuh waktu yang lama untuk membersihkan semua kenanganmu, sangat susah untuk melakukan itu semua dengan jumlah banyak yang telah kita buat. Aku tak dapat melupakanmu dengan waktu singkat.

Apakah aku perlu melawan takdirku, untuk melupakanmu dengan sangat singkat. Tak peduli untuk bagaimana nantinya, aku terlalu jauh untuk menjadi normal. Semua hampir gila, tak memikirkan dengan akal sehat. Semua menambah rasa sakit ini perih.

Inilah aku, tanpamu. Semua merasa tak normal, ku berlari seperti berjalan, ku menulis seperti menghapus. Semua tentangmu masih bersarang di dalamnya lapisan kenangan ini.

Aku sudah tak bisa berakal sehat lagi, ini semua salahmu. Bila disana nanti ada pertanggung jawaban atas ini, aku akan menyalahimu. Dan semua menjadi gelap gulita, aku benar-benar melupakanmu. Bukan hanya kamu, tapi semuanya. Aku melawan takdir-Nya.

Advertisements

One thought on “Inilah Aku, Tanpamu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s