27th Day: Jadilah Milikku, Mau?

Ruangan ini mungkin akan menjadi tempat yang tak akan terlupakan seumur hidup. Mungkin bagiku, bukan bagi mereka. Entah mengapa tempat ini yang menjadi saksi cintanya padaku.

“Maukah kau menjadi milikku?” tanyanya, Rayhan. Dia berkata demikian dengan memegang tanganku erat. Tak ingin kehilangan diriku. Aku takjub melihatnya begitu, dan cinta ini pun menjadi cinta yang tidak bertepuk sebelah tangan.

Aku pun hanya mengangguk dan tersenyum menjawabnya, ia pun makin memegang erat tanganku. Bahkan ia pun mulai menitikkan air matanya, entah karena bahagia atau bersedih.

“Aku tak akan pernah lupa waktu yang pernah kita habiskan bersama,” ucapku menyakinkan jawabanku serta akhir dari berlabuhnya cintanya dan cintaku.

Waktu sangat berjalan cepat, aku pun tak merasa semuanya benar-benar sudah ku lewati. Bersamamu aku selalu bahagia, bersamamu aku selalu senantiasa memberikan senyum termanisku padamu.

“Kamu akan selalu ada di hatiku,” ucapnya dengan tulus. Aku bahagia mendengarnya. Bahkan aku tak kuat lagi menampung semua yang ada di pelupuk mataku ini.

“Iya, aku percaya itu. Kamu juga akan selalu ada di hatiku,” ucapku sambil menahan air mata ini. Bahagia, iya aku bahagia sekarang. Mungkin kelak aku akan bahagia juga.

Tak semuanya indah pada akhirnya, mungkin bagi mereka bukan bagiku. Aku merasa ini sudah cukup indah, Tuhan memang selalu memberi jawaban atas doa kita. Aku percaya itu dan aku merasakannya sekarang.

Tapi hanya lima menit inilah aku benar-benar merasa sangat bahagia berada di sampingmu. Kau yang memegang erat tanganku serta mengelus-elus poni rambutku.

Kini Β kau telah ditunggu, kau akan melewati waktu yang abadi kelak. Diriku tak kuasa menahan raga, aku masih tetap merasakan tanganmu yang erat memegang tanganku. Hingga sampai dimana aku tidak bisa merasakan tanganmu itu, Dia telah mengambil apa yang ia punya. Ini waktunya kembali, pada-NYA.

Advertisements

4 thoughts on “27th Day: Jadilah Milikku, Mau?

      • Coba saja blogwalking di daftar tulisan hari ini. πŸ™‚

        Cinta yang tak terbalas. Bukan karena yang dicintainya tidak bisa membalas. Tapi justru karena mereka memang sudah tidak punya ‘kesempatan’ lagi untuk membalasnya. Mereka sudah mati. πŸ™‚

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s