24th Day: Dag Dig Dug

Awan hitam sedang melayang-layang di langit sana, angin pun mengoyang-goyangkan kumpulan ranting pohon-pohon. Tak lama lagi proses sirkulasi air dari laut akan turun. Aku pun masih tetap bersedia menunggu di depan sekolahnya. Walau terasa dingin, aku masih menunggunya.

Tak lama kemudian ia berlari kecil menghampiriku, rambutnya yang terurai itu berantakan terbawah angin. Bukan membuat dirinya tampak berantakan, tetapi membuat dia semakin elegan menyelusuri jalan. Ia selalu membawa senyumnya itu kemana-mana, hingga sudah berada di depanku ia masih tersenyum padaku.

“Sudah lama ya? Maaf ya, ada kegiatan sebentar tadi jadi rada lama,” ucapnya dengan singkat dan padat, dan tak lupa senyumnya yang semakin menjadi hingga berubah menjadi tawa kecilnya. Aku tercengang dengan seluruh senyum dan tawanya.

“Gak apa-apa, sudah tugasku untuk menunggu,” jawabku sekenanya seraya menyerahkan helm padanya.

***

Rintik demi rintik turun menghantam semua yang ada di bawahnya. Jalan tampak basah serta warna tanah yang tercampur air menggenang di sana. Aku meminggirkan motorku ke suatu ruko di tepi jalan. Tak ada pilihan lain selain menunggu proses sirkulasi ini berakhir reda.

“Maaf ya, lupa bawa mantel hujan. Jadi nunggu di sini sampai reda dulu ya?” ucapku padanya yang sedang membasuh mukanya yang terkena air hujan. Lalu kembali menyisir rambutnya yang berantakan menggunakan tangannya.

“Iya gak apa-apa, lagian sekarang hujan susah diprediksi. Wajar kalau banyak yang lupa bawa mantel hujan di musim panas seperti ini,” ucapnya dengan senyum maklumnya itu. “Buktinya mereka juga berada di sini,” ucapnya seraya memandang orang-orang di sekitarnya.

JDAAR

“Aaaah,” teriaknya ketakutan mendengar suara keras yang menghantam gedang telinga barusan. Dia memeluk tanganku gemetaran. Aku merasa detak jantungku berbunyi keras sekarang, mungkin suara tadi itu kalah dengan detak jantungku.

Dag dig dug dag dig dug…

“Maaf,” ucapnya malu seraya melepas tangannya yang melingkar di tanganku tadi.

Hujan mulai reda dan tampak sudah awan putih melenyapkan awan hitam di birunya langit. Kami melanjutkan perjalanan kami kembali. Detak jantung ini semakin menjadi-jadi saat ia berada di belakangku walau tak ada kontak fisik semacam tadi.

***

Tiba pada tempat yang dituju, aku mematikan motorku di depan gerbang putih rumahnya. Menunggu ia turun serta merapikan rok yang ia pakai. Ia mulai melepaskan helm dan memberikannya padaku. Aku menggantungkannya di stang motorku. Aku melirik ia membuka tasnya dan mencari sesuatu.

“Ini, kata mama buat bulan ini,” ucapnya seraya memberi amplop putih polos.

“Oh iya, makasih. Titip salam buat Ibu,” ucapku sambil melipat amplop itu serta memasukkannya di kantung celana. Kemudian ia memasuki rumahnya dengan riang. Aku pun mulai menghidupkan motorku lalu melanjutkan kembali perjalananku.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s