23rd Day: Halo, Siapa Namamu?

Empat tahun yang lalu, tak ada siapapun di taman yang begitu penuh rumput hijau serta sebuah gubuk ini. Bunga-bunga pun mengelilingi taman yang mungkin hanya dapat menampung tidak lebih dari 7 orang. Dan tak ada yang tahu tempat ini, kecuali aku dan juga Rany.

Rany, orang yang pertama kali membuatku tak bisa berpikir perempuan lain dan orang yang pertama kalinya membuatku menunggu selama empat tahun ini. Tak ada kabar selama ia pergi menuntut ilmu. Aku selalu ingat ia ingin sekali menjadi seorang lawyer, ia pun bermimpi ingin dapat kuliah di Belanda. Dan impiannya pun terkabulkan, ia mendapatkan beasiswa di sana.

Taman ini selalu menjadi tempat kami berdua menghabiskan waktu semasa SMA dulu. Setiap sabtu kami selalu lebih lama berada di taman ini dari hari-hari lainnya. Hingga sampai hari tersingkat kami berdua di taman ini saat dia akan meninggalkan taman ini untuk sementara selagi ia akan menuntut ilmu di Belanda.

“Rany,” panggilku saat kami duduk di gubuk taman empat tahun yang lalu. Dia hanya menoleh dan tersenyum.

“Maukah kau menjadi kekasihku,” ucapku saat sebelum kau akan pergi ke Belanda. Kau sedikit terkaget tapi masih meninggalkan senyummu itu. “Mungkin sebelum terlambat semuanya, aku mengutarakan ini padamu sekarang. Aku takut kamu akan menemukan cowok lebih keren dariku disana.”

“Kamu itu masih saja begini ya, gak pernah berubah,” dia tertawa, mungkin ini akan jadi tawamu yang terakhir yang ku lihat sebelum dia pergi. “Maukah kau menungguku dengan jawabannya nanti.”

Aku kaget mendengarnya, berpikir sebentar untuk mencernanya. Sulit menunggu selama kembali ke sini lagi, tapi apa boleh buat aku harus menunggunya. Mungkin dia ingin menguji kesetiaanku, aku menyanggupinya.

Setelah itu aku memberikan liontion untuknya. “Itu untukmu, bandulnya bisa dibuka.” Dia melihatnya dan membuka bandul yang berbentuk hati itu. Namaku terdapat di sana, serta foto dirinya di sana.

Dan ia memakainya, meninggalkan tempat khusus kami untuk sementara bersama keluargamu yang juga pergi ke tempat yang sama denganmu.

Hari ini sangat mengejutkan, tepat empat tahun yang lalu aku berada di taman dan melihat Rany sedang duduk di gubuk. Aku senang melihatnya ia kembali. Dia sudah terlihat berbeda dengan empat tahun yang lalu.

“Rany,” panggilku, dia hanya melihatku sedikit bingung.

“Halo, siapa namamu?” aku terkaget mendengarnya. Aku juga merasa de javu mendengar kalimat yang sama saat pertama kali ia menghampiriku saat masa orientasi siswa di SMA.

“Ini kamu Rany, kan?”

“Iya, namamu siapa?” tanyanya lagi. Aku makin bingung, apa ia lupa denganku?

“Kamu lupa denganku?” dia terlihat berpikir tapi tampaknya tidak ingat sama sekali tentang diriku. Ada apa ini?

Tiba-tiba ada seseorang sedang hati-hati membawa semangkuk makanan, mungkin ia beli di jalan seberang sana.

“Kak Rico?” panggilnya tak percaya. Bayu, aku ingat anak ini, dia adiknya Rany.

“Rico? Jadi kamu Rico?”

“Ya, masa kamu lupa?”

“Maaf Kak Rico, Kak Rany tak bisa mengingat semua masa lalunya, dia lupa ingatan setelah kecelakaan yang menimpa Kak Rany.” Aku pun tercenang dan tak dapat berkata apa-apa lagi mendengar fakta yang menyakitkan ini.

Advertisements

2 thoughts on “23rd Day: Halo, Siapa Namamu?

  1. Pingback: [#15HariNgeblogFF] Daftar tulisan judul [1] Halo, siapa namamu? « Philophobia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s