BASELOVE – Karena Cinta Mempunyai Tempat Berpijak (Prolog)

Prolog

            Pagi yang dingin, sisa-sisa salju yang mencair membuat udara semakin dingin. Tercium bau bunga-bunga bermekaran tanda mengakhiri musim dingin. Seorang anak perempuan mungil bertas ransel itu sedang menggenggam bola kecil putih pemberian temannya. Ia melihat bola tersebut dan termenung.

Laki-laki disebelah anak perempuan tersebut terlihat sedang memeriksa beberapa kertas lembaran. Merasa sudah benar yang dimaksud, laki-laki tersebut memasukkannya di kantung jaketnya.

Otosan,” panggil anak perempuan di sebelahnya. Anak tersebut sedang melempar bola kecilnya pelan di tangan kirinya berkali-kali.

Nani?” tanya laki-laki yang dipanggil otosan tersebut.

“Apa aku boleh ke sini kembali?” tanyanya sambil menangkap bola putih tersebut dan memandanginya. Terlihat ada suatu tulisan kecil di sana.

Laki-laki tersebut memandanginya. Dengan sigap ia mengelus rambut berponinya itu, “Iya, boleh. Asal kamu sudah bisa mengurusi diri sendiri nanti.” Jawabnya pada anak tersebut dengan seulas senyum di wajahnya.

Anak tersebut langsung memandang laki-laki tersebut tak percaya, “Hontou?” ucapnya dengan ekspresi meminta jawaban yang dia harapkan.

Laki-laki tersebut hanya menganggukkan kepalanya menandakan jawaban iya. Anak kecil tersebut lompat kegirangan, laki-laki tersebut hanya memandangnya dengan tersenyum. Padahal ia tadi ingin mengatakan suatu hal kembali.

“Tapi tunggu dulu,” ucapnya membuat anak tersebut berhenti melompat. “Kamu harus belajar mandiri di Indonesia nanti, jangan manja seperti sekarang!” katanya sambil tertawa terbahak-bahak.

Otosan!” serunya kesal. Anak itu kembali menatap bola putih yang sedari tadi digenggamnya. ‘Ya, aku akan kembali ke sini lagi.’ Batinnya.

Tiba-tiba terdengar suara operator stasiun. Kereta baru saja berhenti, laki-laki tadi memeriksa kembali barang-barang yang ia bawa. Ia melihat anak perempuan yang masih tetap melihat bola yang berada di genggamannya.

“Sebagai awal belajar mandiri, tolong bawakan kantung plastik ini!” seru laki-laki tinggi tersebut.

“Hah? Otosan!” ucap anak itu kesal, “Otosan malas!” ejek anak tersebut. Laki-laki tadi hanya tertawa mendengarnya.

Mereka berdua masuk ke dalam kereta dan meninggalkan stasiun. Anak tersebut duduk di sebelah jendela kereta. Menatap seluruh pemandangan di belakangnya yang semakin menjauh.

Sayonara.” Ucapnya sambil melambaikan tangannya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s