Di antara

Di antara rintik-rintik hujan ini aku berkata, menjemputmu itu susah

Di antara batu-batu kerikil ini aku berkata, merelakanmu itu sulit

Di antara rumput-rumput basah ini aku berkata, membencimu itu ragu

Di antara tanah-tanah kering ini aku berkata, menangisimu itu sakit

Di antara orang-orang asing ini aku berkata, mencintaimu itu anugerah

Advertisements

Sepotong Kenangan

Memori merapalkan doa-doa

Membentuk suatu aurora

Tak ada yang tahu

Semua menjadi abu

Secarik kertas hitam lusuh

Tertuliskan suatu nama

Tak ada yang resah

Semua menjadi percuma

Sepotong kenangan

Terasa duri menusuk

Tak ada yang rujuk

Semua menjadi angan

Menikahlah Denganku

Kamu berada di hadapanku berdiam diri menemani kesunyian malam yang membuat semua terasa bisu. Tak ada kata yang terucap, semua mulut kita terkunci. Aku hanya menikmatinya saja, setiap desir darahku saat melihat matamu dengan sunyinya malam sudah cukup menyenangkan bagiku.

Aku tak tahu maksud kau mengajakku hampir tengah malam ini. Seharusnya aku tak berpergian di jam dimana orang-orang pada tidur nyenyak, tapi aku menyanggupi permintaan ini karena kamu yang memintanya. Karenamu.

Sebenarnya aku sudah menyiapkan sesuatu untukmu, ya untuk kejutan.

“Rayan.”

“Diana,” ucap kami bersama-sama memanggil nama. Aku pun hanya tersenyum dengan kekompakan ini. “Ladies first!” aku menawarkannya untuk duluan berbicara. Tapi kamu malah menawarkan balik kepadaku, ya sudahlah aku pun segera mengambil sesuatu itu untukmu. Kotak beludru berwarna merah, ku serahkan di depan hadapannya.

“Menikahlah denganku!”

Kamu pun tiba-tiba malah menitikan air matamu, bahagiakah? Tapi aku melihatnya beda, ada yang tersembunyi di balik air mata yang terjatuh itu.

“Aku gak bisa,” ucapnya pelan sambil tersendu dan aku tak tahu alasannya mengapa. Kamu masih menangis dan aku tak tahu mengapa. Bisakah berhenti menangis, aku merasa tak bertanggung jawab karena telah mengeluarkan air matamu itu.

Kamu pun bercerita tentang pengalamanmu yang paling buruk yang pernah ku dengar. Aku tak tahu bagaimana membuat dirimu tenang dan tak khawatir seperti ini.

Apa merelakannya sudah membuat sedikit bebannya terangkat?

“Kalau cuma itu caranya, aku rela. Ya walau memang sakit bagaimanapun aku ingin kamu bahagia,” tak tahu darimana kalimat ini begitu lancar kuucapkan. Tapi ini memang untuknya, kebahagiaannya.

Kamu pun tak percaya mendengar ucapanku, apa terlalu bagus atau terlalu sedih, aku tak tahu itu. Setidaknya ini cara satu-satunya, aku merelakannya.

“Tapi…,” ucapmu ingin membantah karena aku telah memberikannya sebuah kotak beludru merah yang dipegangnya. Aku pun mengambil kotak itu darinya.

“Tak apa-apa, mungkin ini bukan takdirnya si kotak mungil ini. Dan bukan takdir kita juga untuk bersatu,” ucapku dan lagi-lagi aku membuatnya menangis, aku hanya mengelus-elus rambut panjangnya yang lurus itu untuk menenangkannya. Dan mungkin untuk yang terakhirnya.

Ya, untuk yang terakhir kalinya.

-Kejadian sebelum judul Tentangmu yang Selalu Manis

Tak terasa sudah 15 hari saya memposting Flash Fiction untuk yang pertama kalinya. Jujur ini pertama kalinya selama 15 hari menulis FF dan itu menyenangkan. Setiap judul yang diberikan setiap harinya berusaha untuk mengolah otak saya untuk menulis. Sangat kreatif atas ide #15HariNgeblogFF nya dan begitu banyak juga partisipan yang mengikutinya. Beberapa dari mereka sangat luar biasa karyanya bahkan bukan beberapa saja, tapi hampir semuanya. Saya pun sedikit demi sedikit belajar dari tulisan-tulisan mereka itu. Terima kasih untuk @WangiWS serta @momo_DM yang setiap harinya sudah share link para partisipan termasuk saya.

Sukses terus untuk proyek selanjutnya, ditunggu. πŸ™‚ Salam Kreatifitas dan Keep Writing!

Sah

Sungguh mengejutkan, aku tak ingin mempercayai kata-kata yang ia ucapkan. Tapi ini suatu kehidupan dimana air mengalir dari tempat yang tinggi ke tempat yang rendah. Mengalir mengikuti wadah yang menampungnya. Semakin tinggi tempatnya semakin cepat mengalir, mungkin itu juga terjadi pada darahku ini.

Bila ada syair ‘Pecahkan saja gelasnya’ mungkn ini yang disebut dinginnya hidup. Pecahan gelas itu berterbangan, menusuk kulit. Darahnya tak keluar, ia ingin lebih bersemayam di alirannya.

Begitu juga denganku, kau memecahkan gelasmu oh bukan, gelas kita. Pecahannya menusuk hatiku yang bersemayam di hatimu, walau sudah kau pecahkan gelasnya hatiku masih ingin bersemayam di hatimu.

“Kau benar-benar serius dengan ucapanmu barusan, Maora?” ucapku dengan sedemikian tenangnya, walau hati ini sudah tidak tenang berada di hatinya. Hatiku masih berusaha berada di sana walau hanya semenit saja.

“Ya, aku serius! Maaf, tapi aku menganggap ini sebuah permainanku.”

Ya, hati ini pun terpaksa keluar di samping hatinya, hanya sebuah mainan. Mungkin sudah rusak dan hatinya ingin beli yang baru. Tak bisa kupercaya memang, tapi dia sudah sah menjadi mantanku.

Ini Bukan Judul Terakhir

Tak cukup bagiku untuk bisa membuatmu tersenyum, tak cukup bagiku untuk membuatmu begitu perhatian padaku. Hidup selalu berputar walau tak terasa kita telah mengalami suatu perubahan tertentu. Tak cukup dengan berputar, kali ini hidup terasa jungkir balik.

Aku terdiam untuk beberapa lama melihat dirimu dengan wajah yang penuh senyum di setiap saat itu. Tak menyangka kau akan mengatakan kata-kata yang mungkin akan menjadi kata yang paling indah yang pernah ku dengar.

“Terima kasih atas setiap judul bab yang kamu tulis, Dany.”

Aku pun masih terdiam dengan memperhatikan wajah manismu itu di sampingmu. Kamu mengucapkannya dengan sangat susah payah, aku tahu itu.

“Happy ending, yah?” ucapmu sambil menerawang ke arah jendela yang memperlihatkan sudut taman kecil. “Andai itu sad ending, mungkin akan lebih pas.”

Aku tahu maksudmu, aku tak tahu harus bagaimana untuk menghiburmu. Bisakah kamu singkirkan wajahmu yang sedih itu? Aku muak melihatnya.

“Lupakan niatmu yang waktu itu, Dany! Kamu berbakat, tanpa aku pun kamu pasti bisa, Dany.”

“Aku tak yakin dan ini semua tak akan boleh terjadi. Aku butuh kamu,” ucapku membantahmu, aku melihat kau menghelakan nafas panjangmu. Dan kau terlihat sangat lelah, aku tak tahu apa, tapi ini yang tak ingin ku impikan.

“Ini permintaanku, Dany. Kamu bisa tanpa aku, kau berjanji?” ucapmu dengan sisa-sisa kekuatanmu. Aku benci melihat itu, aku bahkan menyerah dan berjanji karena kau sudah terlihat sangat ingin pergi.

Di kamar ini aku berjanji dan nampaknya kau sudah pergi dengan cepat. Aku memegang tanganmu erat, tak terasa kulitnya sudah hampir dingin. Wajahmu terlihat senang karena aku sudah berjanji denganmu. Aku tak kuasa menahan apa yang ingin ku keluarkan, tak begitu mudah meninggalkanmu di sana.

“Ya, aku berjanji, ini bukan judul yang terakhir seperti niatku dulu,” ucapku sambil memegang tanganmu yang dingin erat. Air mata ini menjadi pengantar kebahagianmu di sana. Selamat jalan Fera…

Kalau Odol Lagi Jatuh Cinta

Tak semudah bermain kelereng, cinta tak bisa dengan mudahnya menyentil hati untuk mengenai hati orang lain.

Berbeda lagi dengan odol yang selalu senantiasa menemui sang sikat gigi, tapi apa yang terjadi bila odol itu habis? Sikat gigi pun mengganti odol tersebut dengan odol lain.

Kau bertanya “Apakah ada odol yang selalu senantiasa menemui sikat gigi tanpa mengganti odol itu dengan yang lain?”

“Hmm, kalau aku?”

“Kamu? Hmm, apa isi odolmu tak akan habis untuk sikat gigi?”

“Ya, odolku tak akan habis bila sikat giginya secantik ini,” jawabku sambil melihatmu tersenyum simpul.

Aku tak ingin menjadi odol yang nantinya akan diganti dengan yang lain bila sudah habis. Kadang belum habis pun, masih sisa sedikit sudah diganti.

Cinta memang bukan perkara mudah, perlu dirasakan serta dihayati. Layaknya kita menyikat gigi, rasakan sensasi odolnya, hayati dengan bernyanyi.

Merindukanmu itu Seru

Rindu memang begitu terasa bila kau tak ada di sisiku. Tak begitu ingin rinduku lalui, karena aku selalu berharap kau berada di sampingku setiap saat. Mungkin bila rindu benar-benar kualami tak akan mungkin bila ku tak begitu mencemaskanmu setiap saat. Meneleponmu bila kau berada di luar kota, menceramahimu bila kau belum bisa menemuiku, dan mengirim pesan singkat untuk menjagamu.

Tak kurasa memang rindu itu terasa mengasyikan, walau terkadang terasa sepi bila tak ada kamu di sampingku. Bila rindu datang semua terasa dikaitkan denganmu. Makan ingat kamu, tidur ingat kamu, mandi pun ingat kamu. Layaknya sebuah lirik lagu yang dibawakan oleh dua penyanyi perempuan.

“Bagaimana aku merindukanmu?” tanyaku waktu kau ingin pergi ke luar kota dalam waktu dua minggu.

“Kamu tinggal meneleponku saja, bukannya sekarang sudah jaman modern,” ucapmu yang diselingi oleh humormu yang agak garing.

Memang pertanyaan tadi itu sangat konyol untuk jaman modern sekarang. Semua serba cangih, kau bisa berbicara dengan orang yang berada di puluhan ribu kilometer bahkan lebih.

Tapi pertanyaan itu ku ulang kembali.

“Bagaimana aku merindukanmu?” tanyaku. Aku tak tahu lagi bagaimana caranya aku merindukanmu. Kau tetap tak menjawab pertanyaan, kau berdiam diri. “Bagaimana?” tanyaku kembali dengan air mata yang mengalir dari pelupuk mataku.

Aku tak bisa meneleponmu bila kau tak bisa mengangkat ponselmu. Bagaimana aku merindukanmu sekarang, saat kau tak bisa mengangkat teleponku? Aku ingin dengar suaramu saja, mungkin rinduku ini akan terhapus perlahan dengan suaramu. Bagaimana caranya bila kau tak bisa berbicara lagi?

Bagaimana aku merindukanmu?

Mungkinkah aku harus mengunjungimu setiap hari di tempat pemakaman ini?