Ada Manis di atas Kepahitan

Ada Manis di atas Kepahitan

            “Pak, bagaimana untuk design-design yang sudah ada? Perlu diperbaharuikah?” ucap salah satu di antara orang-orang yang sedang duduk dan berdiskusi.

“Seperti yang saya bilang tadi, design yang sudah ada tak perlu diperbaharui. Yang perlu kita lakukan hanya sebuah trendsetter dari product kita.” Ucap pemuda yang memimpin diskusi di sebuah cafe itu. Mereka adalah orang-orang yang berbakat dalam bidang-bidangnya. Satu designer, satu sekretaris, dua humas, tiga divisi periklanan dan beberapa karyawan lainnya.

Diskusi yang santai dari diskusi-diskusi yang formal dan penuh kehikmatan yang penuh. Menurut pemuda yang memimpin diskusi tersebut, diskusi yang seperti itu sudah dianggap kuno.

Diskusi dibuat santai sedemikian rupa. Itu pula alasan diskusi diadakan di sebuah café. Pendapat-pendapat pun ditampung dengan baik oleh pemuda tersebut dan terkadang pemuda itu juga mengajak sedikit bercanda supaya tidak jenuh.

Pemuda berkacamata mengangkatkan tangannya, “Ya, silakan!” ucap pemimpin diskusi tersebut.

“Bagaimana dengan design yang saya kasih kemarin?”

“Oh iya, sepertinya ada beberapa perbaikan di beberapa desain. Nanti saya akan diskusi langsung di kantor besok.” Jawab pemuda tersebut. Ia melihat pergelangan tangannya, lalu ia meminum kopi yang sudah hampir habis.

“Ada lagi? Kalau tidak ada kita tutup rapat kali ini.” Ucap pemuda tersebut. Dan rapat diskusi pun  berakhir, mereka langsung merapikan barang bawaan mereka.

Laki-laki tersebut mengaktifkan ponselnya tersebut, memeriksa ada pesan masuk atau tidak. Bukan pesan yang masuk, tetapi notif dari situs jejaring sosial twitter. Lambang ‘t’ kecil dengan bintang diatasnya muncul di screen. Dengan sigap laki-laki tersebut membuka applikasi twitter di ponselnya.

@rastiera11: wah bapak yang satu ini super sibuk sepertinya 😀 RT @resxian: Meeting w/ my employers at cafe feurion my fav place…

Laki-laki tersebut mengerutkan keningnya, merasa baru pertama kali dapat mention atau re-tweet dari username rastiera11. Lagipula avatar dari account tersebut belum terlihat jadi ia belum tahu siapa orang itu. Segera iya melihat profile dari account tersebut untuk mengetahui siapa pemegang username rastiera11.

“Pak, ini semua bapak yang bayarkan?” ujar salah satu pegawainya yang ternyata membawa bill ke laki-laki tersebut. Pegawai yang lain sudah menunggu di depan kasir.

Melihat pada sudah siap semua, ia mengurungkan niat untuk melihat profile account tersebut. Ia menganggukkan kepala pada pegawainya tadi dan mengambil bill tersebut. Membawanya ke kasir dan membayarnya.

Setelah itu, mereka semua meninggalkan cafe tersebut. Selang beberapa menit mereka mengobrol, para pegawainya berbisik-bisik. Jelas membuat laki-laki tersebut mengerutkan keningnya.

“Hey! Ada apa sih, kok bisik-bisik?” tanya laki-laki tersebut pada para pengawainya.

Para pengawai pada lirik-lirikan, ada yang saling tunjuk menunjuk entah untuk apa. Laki-laki tersebut makin bingung. Tak lama kemudian salah satu pegawainya –yang sepertinya pasrah ditunjuk oleh teman-temannya menjawab, “Hmm, gak ada apa-apa, Cuma kami melihat Bapak lagi gak semangat saja.” Ucapnya. Laki-laki tersebut hanya manggut-manggut.

“Hmm, begitu yaa? Mungkin saya sedang kecapaian saja. Jadi kurang bersemangat seperti yang kalian lihat dan pikir. Tapi sebenarnya saya tidak kenapa-kenapa kok.” Respon laki-laki tersebut sambil tersenyum, merasa bangga punya pegawai-pegawai yang perhatian dengannya.

Mendengar hal tersebut, para pegawai tadi kembali berbisik-bisik. Merasa takut mereka mencemaskannya over, ia kembali berbicara, “Hey, hey! Sudah saya gak apa-apa kok, gak usah cemas gitu.”

“Bukan begitu, Pak,” ucap sekretaris kali ini “Maaf kalau kami lancang bertanya, Apa Bapak udah punya calon pasangan hidup? Pacar? Mungkin Bapak perlu didampingi oleh seseorang biar lebih bersemangat, Pak.” Jelas sekretaris sedikit rada gugup bila bagaimana salah berbicara.

Laki-laki tersebut tercengang juga mendengar pendapat para pengawainya. Pegawai-pegawai pilihannya yang selalu siap sedia. “Hmm, begitu ya?”

“Ya Pak, Bapak masih terbilang muda loh, masa belum punya pacar sih Pak? Saya juga mau kok Pak jadi pasangan Bapak.” Ceplos salah satu pegawai perempuan. Pegawai yang lain terlihat merespond perkataan tadi. Dan tertawa bersama.

Laki-laki tersebut langsung merenungi perkataan para pegawainya. Apa benar ia butuh seseorang perempuan di sampingnya? Sebenarnya pertanyaan yang tak perlu dijawab karena kita semua pasti akan didampingi oleh seseorang yang kita cintai.

Tak lama kemudian terdengar suara memanggil nama laki-laki tersebut.

“RESTIAAAN.” Teriak seorang gadis, orang-orang disekitar langsung memandang gadis tersebut dengan rasa bingung. Ada pula yang berbisik-bisik melihatnya.

Para pegawai pun kembali membentuk formasinya untuk saling berbisik. Mereka langsung membicarakan gadis tersebut.

Orang yang dipanggil pun mendelik kaget melihat gadis yang sedang melambaikan tangannya beberapa meter di depannya. Menyuruh orang yang bernama Restian tersebut datang.

“Kalian duluan saja,” ucap Restian pada para pengawainya “Ini kunci mobilnya. Oh iya satu lagi, kalian semua boleh pulang lebih awal, bilang sama yang lainnya!” suruh Restian.

Para pegawai terlihat senyum-senyum penuh arti dan sekaligus gembira karena mereka diizinkan pulang awal oleh Restian karena hanya seorang gadis saja.

“Siap Pak! Goodluck ya Pak Restiaaan.” Ucap kompak para pengawainya dengan tertawa dan meniru cara memanggil gadis tersebut.

“Huh, kalian ini, sudah sana!”

Setelah melihat para pegawainya beranjak pergi, Restian segera menghampiri gadis yang memanggilnya tadi. Terlihat gadis itu tersenyum jahil seperti yang Restian tahu selama ini.

Restian teringat oleh notifikasi twitternya tadi, rastiera11 yang me-retweet update tweetnya. Sesampainya di depan gadis itu, ia langsung meninju pelan kening gadis tersebut.

“Sepertinya Ibu yang satu ini sudah dapat mengoptimalkan situs media sosial ya? Sudah tidak kampungan lagi.” Ucap Restian sambil tertawa mengejeknya.

Gadis tersebut mengusap keningnya yang sudah lama tidak ditinju oleh laki-laki di depannya itu. Ia pun langsung melakukan serangan balik dengan meninju lengan Restian.

“Enak ajah, lu kira gw orang pedesaan gitu? Sialan, masih ajah sama kayak dulu, mukul-mukulin jidat gw, bisa berbekas kalau setiap hari lu pukul.” Gerutu kesal gadis tersebut.

Setelah itu, gadis tersebut menatap sungguh-sungguh laki-laki di depannya selama beberapa detik. Kemudian ia tiba-tiba memeluk Restian. Restian yang sempat terkaget atas hal ini pun membalas pelukan gadis di depannya. Rindu yang mereka endap pun menguap di hangatnya pelukkan tersebut.

“Apa kabar?” ucap gadis tersebut masih dalam keadaan memeluk Restian.

“Baik, kamu?”

“Nano-nano.”

Mendengar itu, Restian melepaskan pelukkannya, memandang gadis di depannya lekat-lekat. Gadis tersebut juga terkaget melihat Restian melepaskan pelukkannya tiba-tiba. Restian pun masih mencari apa yang dicari dari wajah gadis tersebut. Merasa sudah menemukannya ia hanya menggelengkan kepalanya ringan.

“Ada apa lagi dengan Nona Rasti ini, heh? What’s your problem? Setidaknya ada sedikit tujuan untuk mengarah kesana, karena itu lu bela-belain ke sini. Am I right?” ucap Restian sambil meninju kembali kening Rasti.

Rasti sedikit kaget mendengarnya, setidaknya Restian tahu apa yang ia maksud. Rasti mengusap-usap keningnya dan tersenyum lemah. Restian yang melihatnya langsung merangkul pundak Rasti dan membawanya pergi. Selagi merangkul pundak Rasti, Restian iseng dengan lengannya yang dilingkarkan ke leher seakan mencekik leher Rasti.

Rasti hanya mengerang kesakitan sekaligus menikmatinya. Sudah lama sekali ia tidak mendapatkan hal-hal seperti ini oleh Restian. Tepatnya setelah Restian melanjutkan pendidikannya di luar negeri dan saat itu Rasti baru saja duduk di bangku Sekolah Menengah Atas.

Hubungan Rasti dan Restian sangatlah dekat. Mereka bertetangga, waktu kecil mereka sering bermain bersama, menginjak remaja mereka sudah mulai melakukan keisengan bersama. Sering kali Rasti curhat dengan Restian tentang apa saja, entah itu sekolah, pelajaran, cowok yang disukainya, dan sebagainya. Terkadang Rasti menganggap Restian itu kakaknya dan juga mentor sekaligus temannya. Hubungan yang sangat kompleks diantara mereka.

Restian pun menganggap Rasti seperti adiknya sendiri. Sejak kecil ia ingin sekali mempunyai adik perempuan, tetapi itu tidak terwujud. Yang ada adik laki-lakinya yang super menyebalkan, walaupun begitu ia tetap sayang dengan adik semata wayangnya tersebut.

Sesampai di tempat tujuan Restian memanggil pelayan dan memesan makanan dan minuman. Restian membawa Rasti ke tempat café yang seringkali ia kunjungi dengannya dulu. Di sini pula Rasti sering mencurahkan isi hatinya dengan Restian.

“Wah udah lama kita gak ke sini, gak ada yang berubah dari tempat ini.” Ucap Rasti basa-basi.

“Jadi mau cerita apaan? Masalah cowok lagi?” tanya Restian tanpa mempedulikan ucapan Rasti tadi.

Rasti sedikit kesal mendapatkan pertanyaan langsung dari Restian tersebut. “Apa gak perlu basa-basi dulu nih? Terakhir kita tuh ke sini waktu…” Rasti berpikir mengingatnya

“Sehari sebelum gw pergi ke Paris, masa lupa?”

“Gw bukan lupa. Gw Cuma test ajah si cowok yang super sibuk ini, masih ingat atau tidak?” ucap Rasti sambil tertawa merasa dirinya menang dari Restian.

Bersama dengan itu, pesanan yang mereka pesan datang. Satu kelebihan cafe ini adalah sangat cepat dalam menyajikan makanan dan minuman. Tapi untuk pesanan Restian dan Rasti memang super cepat karena mereka hanya memesan french fries dan dua vanila milkshake.

Mereka menyantap french fries yang masih panas tersebut. Restian memandang Rasti, mimik wajahnya sedikit berubah. Merasa dilihat Restian, Rasti meminum minumannya, setelah itu ia langsung berkata, “Gw hamil.” Katanya langsung ke inti permasalahan.

Restian sedikit tersedak dan melotot mendengar pernyataan Rasti. Bagaimana bisa anak perempuan yang baru masuk semester satu kuliahnya itu hamil? Restian bingung “Are you married?” tanya Restian. Hanya itu yang masuk akal baginya. Restian menduga Rasti menikah dini.

Rasti sedikit menundukkan kepalanya, ia tidak bisa meminta bantuan lagi selain dengan Restian. Ia pun sedikit terisak mengingat apa yang telah ia lakukan. “No, is an accident.” Ucapnya sedikit terisak, Rasti pun menangis.

Restian langsung duduk di sampingnya dan mengelus bahu Rasti untuk menghibur seperti yang sering ia lakukan dulu saat Rasti punya masalah dan curhat dengannya. Terakhir kali saat sebelum Restian pergi ke Paris untuk meneruskan pendidikannya. Rasti menangis karena mengetahui Restian akan pergi ke Paris.

Restian bingung dengan masalah Rasti kali ini. Masalah ini beda dengan masalah-masalah Rasti yang pernah ia tangani sebelumnya. Restian hanya menenangkan Rasti terlebih dahulu sekarang.

Dalam hati pun Restian sudah emosi sendiri, ia marah karena perbuatan Rasti yang menimbulkan masalah besar. Dan kali ini Restian tidak tahu akan berbuat apa untuk masalah ini.

Setelah Rasti sedikit agak tenang, Restian menyuguhkan air mineral untuknya. Dan membujuk untuk menceritakan semua kejadian dari awal hingga sampai bisa terjadi masalah ini. Dan ia pun menceritakannya.

Restian mendengarnya dengan hikmat dan penuh perhatian pada setiap ucapan Rasti. Rasti memulai ceritanya saat ia ditinggal oleh Restian ke Paris. Ia menceritakan betapa sepi dirinya tanpa adanya Restian, bahkan sampai tak bersemangat ke sekolah.

Dampak yang terlalu mengharukan bagi Restian, ternyata dirinya begitu penting bagi Rasti. Dan ceritapun tidak sampai disitu, Restian kembali terkejut dengan satu nama yang Rasti sebut. Adrian. Orang itu suatu hari mendekati Rasti yang begitu sedih. Ia menghibur Rasti dengan segala macam cara. Restian mengetahui dan mengenal baik Adrian, sama dengan Rasti, ia pun mengenalnya juga.

Restian lalu berpikir mungkin Adrianlah yang mempengaruhi seorang anak yang masih labil di usianya karena ia tahu sisi buruk Adrian. Sewaktu Restian berada di samping Rasti ia memperingati jangan sampai bergaul terlalu jauh dengan Adrian. Restian pun sudah berasumsi sebelum meninggalkan Rasti, pasti suatu saat Adrian akan mendekati Rasti.

Dan benar saja, Adrian telah terlalu jauh menyeret Rasti ke lingkungan yang salah. Rasti pun mencintai Adrian karena setiap waktu Adrianlah yang ada di sampingnya. Dan sampai ketika ia pun menyerahkan harga dirinya pada Adrian juga. Ia mau melakukan apa saja demi Adrian.

Itu sudah terlalu jauh, sampai hal itu pun terjadi juga. Rasti mengalami first making lovenya saat ia duduk di SMA dengan Adrian. Walaupun pada akhirnya mereka melakukannya dengan cara aman, ini membuat Restian kecewa dengan Rasti.

Rasti pun sudah terlalu cinta mati dengan Adrian, bahkan ia pun bertekad akan berkuliah di Yogyakarta menemani Adrian yang berkuliah di sana pula. Dan itu terjadi, Rasti bahkan tak mengetahui bahwa ia hanya dimanfaatkan oleh Adrian. Pada akhirnya sekitar dua minggu yang lalu mereka kembali bercinta tanpa pengaman. Dan beberapa hari kemudian Rasti mengetahui bahwa dirinya hamil.

“Begitulah.” Ucap Rasti setelah usai bercerita kronologisnya.

Restian menghelakan nafasnya panjang setelah mendengar semua hal yang mengecewakan dari Rasti. Ia pun bingung ingin membantu apa dalam masalah yang menyusahkan ini.

“Sudah kasih tahu Adrian?”

“Gak bisa, dia udah terlanjur pergi ke dunia yang berbeda dari kita,” jawab Rasti. Restian langsung terkejut mendapat jawaban tersebut. “Dia sudah meninggal. Over Dosis. Gw baru tahu semua hal buruknya setelah gw mencari-cari dia dan gw dengan bodohnya menyerahkan diri gw pada dia.” Lanjut Rasti mengeluh dengan semua yang telah terjadi.

Restian tambah bingung ingin melakukan apa untuk membantu Rasti, “Om Romi sama Tante Nita sudah tahu kalau…” belum selesai berbicara, Rasti sudah menggelengkan kepalanya lemah setelah mendengar nama kedua orang tuanya.

Restian menggaruk kepalanya, menarik nafas panjang. Ia benar-benar tak tahu harus bagaimana untuk masalah ini, “Hmm, begini, gw gak tahu harus lakuin apa buat yang satu ini, gw belum pernah ketemu masalah yang seperti ini. Satu yang gw ingin ucapkan, kenapa gak ikutin nasihat gw dulu? Akibatnya begini kan, gw udah peringati berkali-kali untuk tidak bergaul terlalu jauh dengan Adrian.” Ucapnya sedikit emosi, walau ia tetap tenang berbicara.

Diam sejenak, Restian meminum kembali minumannya, Rasti masih berusaha menenangkan dirinya.

“Gw benar-benar menyesal, Res. Maka dari itu gw ketemu lu ingin meminta bantuan lu dengan ide gw. Kita nikah.”

“Apa? NIKAH?”

“Ya, nikah. Dengan begitu masalah ini gak perlu ada yang tahu.” Ucap Rasti mantap.

BRAAK

Restian memukul meja pelan. Rasti terkaget melihat aksi tersebut, semua orang disana melirik ke arah meja Restian dan Rasti. “Res, kenapa sih?”

“Apa? Kamu yang kenapa? Kamu ingin semua masalahmu gak perlu ada yang tahu, kalau begitu hidupmu tak akan tenang, Ti. Aku kecewa sama kamu, kalau ingin gak diketahui kenapa gak sama cowok yang lain? Kenapa harus gw? Gak disangka pengaruh Adrian sampai sebegini hebatnya,” ucap Restian emosian tapi tetap mengontrol untuk tidak terlalu kencang berbicara “Dan gw pun udah kepikiran untuk ide lu itu, tetapi setelah orang tua lu harus tahu. Karena gw sayang lu, aku cinta kamu, Rasti.”

Restian langsung bergegas memberaskan semua barang bawaannya. Mengeluarkan dompetnya dan mengambil selembar uang dan diletakkan di meja. “Eh, maksud aku itu…” ucap Rasti tapi Restian menghiraukannya. Dia langsung pergi meninggalkan tempat tersebut dengan masih membawa sedikit emosinya.

“RESTIAN!” teriak Rasti. Restian terus berjalan menghiraukan teriakkannya. Rasti pun tadi sedikit terkejut bahwa ternyata Restian cinta dengannya. Dan Rasti pun baru menyadari hal itu. Rasti sendiri pun baru mengerti perasaannya terhadap Restian, ia pun juga mencintainya.

Rasti langsung bergegas mengejar Restian yang mungkin masih dekat-dekat café tersebut. Ia langsung membereskan barang-barangnya dengan cepat tetapi semua barangnya pun terjatuh karena terlalu terburu-buru. Dengan panik dan terburu-buru ia berusaha mengambil kembali barang-barangnya yang terjatuh lalu keluar café tersebut.

Saat di luar café Rasti langsung memandang ke segala penjuru. Ia tidak melihat Restian di sekelilingnya. Ia pun langsung berjalan menuju pintu keluar departement store, ada kemungkinan Restian langsung pulang. Selagi dalam perjalanan ke pintu keluar, ia sesekali mengamati kanan-kirinya, siapa tahu Restian mampir ke suatu tempat terlebih dahulu.

Sesampai di pintu keluar Rasti langsung melihat kembali orang-orang yang berada di sana. Dan ia melihatnya. Restian. Ia langsung berlari menuju Restian. Sesampai di dekatnya, Rasti langsung memeluk Restian dari belakang.

“Maaf, maafin gw, Res. Gw tahu gw salah, tapi gw juga gak bermaksud begitu,” ucap Rasti sambil terisak menangis, Restian pun kaget mendapatkan Rasti berada di belakangnya, “Pokoknya gw sekarang akan mengikuti nasihat-nasihat lu, Res. Biar hidup gw tenang karena itulah gw juga cinta kamu, Res. Aku cinta kamu juga.”

Rasti mengeratkan pelukkannya saat ia menyatakan cintanya tersebut. Takut untuk kehilangan Restian kembali. Restian hanya tersenyum mendengarnya. Ia pun tadi sedikit bersalah telah membentaknya. Restian perlahan melepas tangan yang melingkar di perutnya. Melepaskan pelukkan Rasti.

“Maafin aku juga, aku juga gak berhak ngomong begitu tadi. Cuma emosi sementara. Mulai sekarang kita menata semua kehidupan pahitmu dulu menjadi manis kembali. Kita jalani bersama ya.” Ucap Restian lalu mencium keningnya dan memeluknya.

THE END 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s