If You Were Mine

If you were mine

Aku ingin selalu tetap berada di nafasmu

Menjadi seseorang yang selalu membuatmu hidup

Dan senantiasa menjaga nadimu

Yang berdetak setiap saat dengan cintamu

Lalu kubuat engkau selalu bersamaku

Dengan bungkusan kain sutera ini

Yang menyelimuti kita setiap saat

Dengan kehangatan cinta kita

If you were mine

It will be our miracle

NB: BLOGGER CONTEST “IF YOU WERE MINE” a novel by Clara Canceriana 

20th Day: 3 Years ago in Tokyo

26th March 2010

Aku kembali lagi ke kota ini saat bunga-bunga sedang bermekaran indah. Tepat pada saat itu, bunga-bunga ini seperti penghias pohon-pohon ini. Berterbangan jatuh saat terhembus angin yang menambah suasana indah pada musimnya. Tiga tahun sudah ku meninggalkan kota ini, lebih setahun dari dugaanku.

Saat itu aku berada di sini, sebuah taman dengan hamparan bunga-bunga sakura yang bertebaran. Di sini ada sekumpulan makam juga, aku melangkahkan kakiku ke sana. Bunga-bunga itu menghiasi makam-makam itu, mengatakan bahwa ‘di sini aku berada’ menemanimu yang kesepian.

Aku menatap satu makam dengan ukiran nama yang indah itu. Memandang batu yang berdiri tegap dengan kediamannya yang berbicara. Berbicara bahwa ada kehidupan lain setelahnya.

“Mengapa kau tidak memberitahuku?” ucapku datar, menyimpan rasa bersalah dengan beratnya setelah mengetahuinya. Aku memandang ke atas, pohon sakura yang bermekaran, mengingat semua yang ada taman ini. Tiga tahun yang lalu.

26th March 2007

Aku bersandar di pohon sakura yang sedang bermekar indah. Warna merah jambu itu menghiasi seisi taman ini. Aku melihat punggungmu yang sedang duduk bersimpuh di depan bongkahan batu yang berdiri tegak itu. Aku melihat kau sedang menundukkan kepalamu. Aku tahu kau sedang berdoa untuk mereka. Orang tuamu.

Saat itu aku memejamkan mataku, merasakan hembusan angin musim semi yang teramat sangat indah namun juga meninggalkan jejak-jejak langkahku di kota ini. Tiba-tiba ada yang mengacak-acak rambutku, aku membuka mataku dan kamu berada di depanku dengan sedikit berjinjit. Saat itu ia hanya tersenyum.

“Ada bunga di rambutmu.” Katamu yang seakan sudah mengetahui apa yang ingin kutanya padamu.

“Sudah selesai?” tanyaku dan memandang kumpulan makam itu. Kamu juga memandang ke arah yang sama. Kamu hanya mengangguk dan berkata “Sudah.” lalu tersenyum padaku.

“Kamu benar-benar akan pergi kesana? Apa tidak bisa diundur?” tanyanya saat kita berjalan ke luar taman. Aku melihat segurat kesedihan tersirat di wajahnya.

“Ya, waktuku di sini sudah selesai, aku harus kembali ke negaraku. Tidak bisa pertukaran pelajar ini diundur beberapa tahun lagi.” Jawabku, aku tahu ini akan menjadi perpisahan yang menyulitkanku. Diapun semakin terlihat sedih mendengarnya.

“Tapi tenang, aku akan ke sini lagi. Dua tahun dari sekarang.” Ucapku semangat untuk menghiburmu, dan aku berhasil. Kamu terlihat sedikit senang mendengarnya, tapi kemudian kamu murung kembali.

“Janjimu yang terakhir kemarin itu tidak kau tepati.” Ucapmu seakan kau telah memberi poin jelek padaku. Aku hanya tersenyum membiarkanmu yang sudah berceloteh tentang janji-janji ku yang tidak kutepati.

“Sudah-sudah, kali ini aku janji.” Aku menyakinkannya.

“Janji?”

Aku mengangguk dan tersenyum, dan aku melihatnya tersenyum juga. Saat itu kau menunjukkan jari kelingkingmu. Aku mengerutkan keningku.

“Tradisi.” Ucapmu, dan aku baru menyadarinya. Tradisi yang sering dilakukan anak-anak sekolah dasar hingga yang remaja ini. Aku mengaitkan kelingkingku padanya dan berkata “Janji.”

Dan kita sudah di luar kompleks taman, dan terlihat sebuah mobil taxi yang sudah siap. Membawaku untuk ke Bandara. Sudah waktunya ku meninggalkan kota ini.

“Time to go,” Ucapku, ku memelukmu dan mencium keningmu lembut. “Hati-hati.” Pesanku.

Aku melangkah menuju taxi dan kau memanggilku. Aku berbalik badan dan melihatmu yang ingin kau katakan, seperti kau menyembunyikan sesuatu. “Hati-hati.” Ucapmu setelah berdiam diri. Aku hanya mengerutkan kening, berpikir bahwa kata-kata itu sudah ia ucapkan tadi setelah kumemeluknya. Tapi aku hanya tersenyum dan meninggalkanmu.

26th March 2010

Aku menatap kembali bongkahan batu ini. Menatap nama yang terindah seumur hidupku, namamu. Kenapa kau tidak bilang saat itu, mengapa kau tidak bilang kalau kau menghidap penyakit mematikan itu? Andai saja ku tahu aku pasti tidak akan tidak menepati janjiku atau mungkin aku tetap tinggal di kota ini sebagai penduduk gelap.

Andai ku tahu itu semua dan menemanimu hingga dua bulan lalu. Mengapa kau tidak memberitahuku?

Musim semi ini berubah menjadi musim dingin bagiku. Aku hanya menatap kembali bongkahan batu tersebut. Tak sadar ku sudah menitikkan air mataku, mengingat semua tentang dirimu.

Semoga engkau berbahagia di sana, Emi.

19th Day: 5 Years ago in Paris

14th January 2010

Musim dingin Paris tahun ini terasa lebih menusuk kulitku walaupun aku sudah mengenakan jaket lapis dua ini. Aku terduduk di Cafe de Flore, menikmati uap panas yang terbawa dari panasnya secangkir kopi di mejaku ini. Sore ini salju turun, menambah dinginnya kota ini. Ternyata tahun ini benar-benar dingin dari tahun-tahun sebelumnya ku kesini.

Terakhir kali aku kesini tepat setahun yang lalu. Empat tahun belakangan ini aku sering mengunjungi tempat ini secara rutin. Tidak terasa waktu sudah berjalan sangat cepat, sudah lima tahun berlalu sejak semua kenangan terindah yang kumiliki di kota ini diakhiri dengan suatu kenangan yang memilukan itu.

Aku memandang keluar jendela dekat tempatku duduk. Melihat orang-orang yang berlalu-lalang dengan memasukkan tangannya di saku jaket mereka. Dan tepat hari ini, lima tahun sudah kejadian itu berlalu. Aku menghirup udara dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan. Ku mulai perlahan menutup mataku, membiarkan semua imagi tentang lima tahun yang lalu terpapar jelas di benakku.

14th January 2005

Aku menyeruput sedikit kopi yang terlihat masih panas dengan uapnya yang terangkat ke atas. Melepas panasnya dari secangkir kopi tersebut. Tadi siang saat masih menikmati sebuah buku dari serial Dan Brown itu di flat apartemenku, Dia meneleponku untuk datang ke Cafe de Flore, entah untuk membicarakan apa, tapi perasaanku tidak enak.

Dan aku sekarang di sini, menanti dia yang belum kunjung datang. Tidak seperti biasanya, ia tak pernah terlambat, bahkan dia sering sudah berada di tempat duluan. Saat seperti ini aku membuka buku serial Dan Brown yang tadi belum selesai ku baca itu.

Baru ku menghabiskan 3 halaman yang penuh dengan pencarian makam Sir Issac Newton, dia datang dengan jaket hitamnya tersebut. Menyapa dengan lembut walau terdengar seperti ada rasa takut di dalamnya. Dan tak melakukan ciuman seperti biasa saat kita bertemu, aku semakin heran dan mempunyai perasaan yang tidak enak dengannya, dengan kita.

Dan perasaanku terbukti saat ia mengucapkan panjang lebar dan bermuara ke hubungan kita. Ia mengucapkan selamat tinggal pada hubungan kita. Aku tak mempercayainya, aku masih mencerna-cerna ucapan panjang lebar tadi dan ku tak menemukan apa yang menjadi keputusannya itu.

“Tapi mengapa, James. Kita sampai saat ini baik-baik saja. Mengapa?” ucapku dengan sedikit bergetar. Orang-orang yang sedang menikmati hidangannya, satu per satu mulai melihat ke arah kita.

“Ini untuk masa depanmu, Tiara. Aku tak bisa.” Jawabnya dan mulai meninggalkan meja. Aku mengejarnya dan dia mulai berlari. Aku tak memikirkan apa-apa lagi tentang mereka yang mulai melihat kita, bahkan pelayan cafe tersebut yang menagih bill.

Aku berlari mengejarnya walau ia lebih cepat dariku. Aku berteriak-teriak namanya di antara kumpulan orang yang berlalu-lalang. Dia mulai berlari menyebrang jalan. Dan saat itu aku sudah terduduk capek dan melihat lampu merah yang ternyata belum hijau untuk penyebrang jalan. Aku mulai menangis teriak melihatnya…

14th January 2010

“Tiara! Tiara!” aku mendengar namaku dipanggil. Aku mulai membuka mataku dan mendapatkan temanku–setidaknya sampai dua tahun yang lalu–yang sudah berada di depanku dengan muka cemasnya.

“Kamu menangis lagi?” tanyanya. Aku meraba pipiku yang sudah berlinang air mata. Aku tidak menyadari bahwa aku menangis lagi. Aku mengusap pipiku dan mulai tersenyum kepadanya.

“Sudah selesai?” tanyanya kembali. Sepertinya ia benar-benar sudah tahu ritualku setiap tahun ini selama empat tahun terakhir. Aku mengangguk dan membalas senyumnya.

“Lanjut keliling lagi?” ia kembali bertanya. Aku hanya tersenyum kembali dan memanggil pelayan untuk meminta bill-nya.

Lima tahun sudah memori ini tetap kujaga. Tak akan pernah ku lupakan semua cintamu. Aku sudah mengerti semuanya, mengerti mengapa kau memutuskan hubungan kita. Dan kamu benar-benar orang yang baik serta sangat mencintaiku. Aku tahu itu.

Merci, James…

18th Day: Sekali Saja, Hingga Waktunya Tiba.

Bagaimana hidup dengan cara seperti ini. Hidup di antara orang-orang yang senantiasa memberikan cinta pada setiap pasangannya.

Sedangkan ku sendiri.

Bagaimana cara bertahan di dalam keadaan seperti ini. Dimana orang-orang ini selalu memberikan perhatian pada pasangannya masing-masing.

Sedangkan ku tak ada yang menemani.

Bagaimana cara dapat melihat disaat kenyataan ini menyakitkan. Dimana ku melihat orang-orang ini saling bergandengan tangan.

Sedangkan ku tak punya pegangan.

Iri, ku melihat mereka berpasangan,

Iri, ku melihat mereka saling melengkapi,

Iri, ku melihat mereka menautkan takdir di tangan mereka.

Tuhan, sekali saja ku iri kepada mereka hingga seseorang datang padaku untuk saling melengkapi dan menautkan takdir kita. Dan saat itu pun aku ikhlas melihat mereka-mereka bahagia.

17th Day: Jarak Tak Terhingga, Jarak Kita

Sebentang tali yang mengukur jarak kita yang terlalu jauh

Yang menyusahkanku untuk meraihmu

Walau kita dekat, tetapi jarak yang kau ciptakan ini benar-benar membuatmu jauh

Kau benar-benar menyusahkan aku

Jarak apa ini? Aku bertanya-tanya, apa dalam teori fisika ada keterangan ini?

Bagaimana bisa seseorang terasa jauh walau ia ada di samping kita?

Fisika pun tak bisa menjawabnya

Lalu apa ini?

Waktu bergulir perlahan dengan cepat

Mengantarkan aku pada jawaban masalah ini

Ternyata hati kita sudah terlalu jauh berlawanan arah meninggalkan tempat yang saat itu kita bilang abadi

GEBYAR 100 PUISI PAHLAWAN – Mereka yang Dikenang

Garuda terbang mengitari Nusantara

Mengawasi  yang berjuang

Melawan butir-butir pedang

Yang menghunus jiwa merdeka

Darahnya mengalir deras

Saat bambu runcing di genggamnya

Jantungnya berdetak keras

Saat bergema teriakan “SERANG!”

Mereka bisa melihatnya

Sinar yang membawa kita

Pada suara yang mengudara

Ke pintu kebebasan

Mereka telah meraih satu jiwa

Berteriak satu kata

Berjuang  demi satu bangsa

MERDEKA!!

Jakarta, 13 November 2011

Biodata Singkat:  Riyan Raditya, seorang anak remaja yang tergerak hatinya untuk menulis yang  menemaninya dalam kesepiannya. Anak pertama dari dua bersaudara ini lahir di Jakarta, 26 Juli 1994. Dalam prestasi menulis belum ada yang diraih olehnya. Saat ini sedang mengembangkan premis untuk menjadi suatu naskah novel debutnya.

Menyemarakan HARI PAHLAWAN 10 November 2011, mari kita Gelorakan Api Perjuangan Para Pahlawan dalam dada sanubari anak bangsa dengan Puisi.

DL: 13 November pukul 24.00 WIB

Caranya:

  1. Terbuka untuk semua anak bangsa, umum dan anggota Writing Revolution.
  2. Puisi ditulis di Catatan FB atau Blog. Tulis di judul Catatan/Blog: GEBYAR 100 PUISI PAHLAWAN-JUDUL PUISI
  3. Cantumkan biodata singkat di bagian bawah puisinya, beserta informasi ini.
  4. Kemudian copas link Catatan/Blog ke Komentar Dokumen ini, klik di sini: http://www.facebook.com/groups/193036474070096/doc/282954575078285/
  5. Batas akhir partisipasi sampai 13 November pukul 24.00 WIB
  6. Sepuluh (10) puisi terpilih akan dimasukan dalam buku antologi Puisi Pilihan WR 2011 “Merah Darah, Putih Puisi”, yang akan terbit Desember 2011. Royalti hasil penjualan buku untuk biaya cetak buku puisi iven selanjutnya.
  7. Koordinator: Anung D’Lizta dan Nyi Penengah Dewanti.

Semangat Pagi…!

Salam Penulis…!

Satu cinta untuk Indonesia.

16th Day: Dirinya yang Kurindukan

Aku mengingat-ingat apa yang terjadi pada masa laluku, mengingat semua tentang kita. Apa yang selalu kuingat tentang dirimu, tentang kebersamaan denganmu. Kuingat tentang senyumanmu itu, sapaanmu dulu, kuingat selalu itu. Bagaimana dengan pertama kalinya hatiku bergetar melihatmu ditengah hangatnya pertemanan kita.

Cukup susah bagiku untuk mengungkapkannya. Mengungkapkan apa yang hati ini bicarakan tentang dirimu, yang selalu bersajak namamu setiap saat. Di setiap rongga-rongga memori otak ini, di setiap kaki ini melangkah mendekat ke arahmu, dan yang terakhir kalinya melangkah menjauhi dirimu.

Kini kusadar, diriku tak cukup untukmu. Kesempurnaanmu yang susah kugapai, tapi aku mengerti apa yang selalu dikatakan orang. Cinta itu tak perlu memiliki. Di awal aku mengerti dan berusaha untuk itu, tapi aku gagal.

Kini aku merindukan semua tentang dirimu, segala tentang kebersamaan denganmu. Semuanya. Aku ingin memilikinya dengan sepenuh hatiku. Rindu ini bukan lagi sebatas rindu, tetapi sudah meracuniku untuk dapat berada di sampingmu untuk menjagamu, hari ini, esok, lusa, hingga akhir dari perjalanan waktu.