3rd Day: Sweet and Bitter

Manis, satu kata yang cukup untuk mewakili sebuah senyum yang menawan hati. Manis, sebuah ungkapan yang hanya tertuju pada senyum khasnya. Cukup dengan manis, hidupku terasa sempurna. Manis bercampur dengan pahit akan menjadi manis.

Ibarat manis, engkau gulanya. Dengan senyummu itu yang membuat terasa manis. Dan aku kopi, dengan segala kediamanku yang membuat terasa pahit.
Andai kita berjalan seiring bersampingan, hidupku akan benar-benar sempurna. Saling melengkapi satu sama lainnya, membuat aku dapat bertahan dari semua kehidupan yang kujalani.

Tapi harapanku sirna. Manis itu telah bercampur dengan manis juga. Membuat rasanya sangat manis. Entahlah kehidupan apa yang akan mereka lalui itu. Tidak ada penyeimbang di antara manis-manis itu. Yang ku paham, manis sangat cocok dengan pahit. Seimbang.

Kini kuharus mencari manis yang lain, dan kutemukan kamu. Seseorang Dewi yang sudah berada di sampingku, dengan senyum yang melebihi senyum yang lain, dan mata yang indah.

“Aku yakin kita sempurna.” Aku berkata saat ia menanyakan padaku bila kita benar-benar tak bisa mendapatkan cinta sejati nanti.

Perjalanan ini masih panjang dan ku masih melihat senyumnya menggembang di wajahnya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s