Kamu, Aku, Dulu, Saat Ini

Masih sama seperti dulu, gak ada yang berubah. Hanya umur saja yang membentang lurus pada waktu itu ke saat ini. Saat ini ku menatap ke arah belakangku, masa lalu, pada waktu itu. Menikmati setiap scenes pertemanan kita waktu itu. Aku merindukan hal itu

Banyak yang terjadi 1 tahun itu, aku menikmatinya. Dan mungkin aku bersyukur telah mengenal dan berteman denganmu. Aku rindu kamu. Dan saat ku melihat masa itu, aku mengingat kesalahan fatalku. Aku pengecut. Aku membiarkanmu pergi tanpa suatu yang jelas.

Selama itu aku selalu memperhatikanmu. Aku selalu ingin berbicara suatu hal padamu. Urusan kita. Tapi selalu tak bisa tanpa alasan apapun. Hingga sampai dimana waktu tak dapat lagi memperhatikanmu dari jarak terdekat dan terjauhku. Dan saat itu aku merasa sangat kehilanganmu.

Dan sampai saat aku menemukanmu kembali. Dan tetap saja tidak dapat seperti pada waktu itu. Bercanda,bertengkar, apapun itu. Tak bisa. Aku tak dapat mengungkapkannya, tak dapat. Itulah aku. Selalu bersikap pengecut dan takut pada kemungkinan apapun. Sulit.

Saat ini aku kembali mengingat masa-masa itu. Aku ingin seperti saat pertama kalinya. Dan tak ingin melepaskanmu sedetikpun. Tak mau mengulang kesalahan yang sama. Yang terpenting aku ingin mengungkapkannya. Sangat ingin supaya kamu tahu.

Sejak itu hanya kamu yang dapat mengisi kekosongan ini. Membuatku selalu ingin penasaran tentangmu. Kamu tahu? Aku cinta kamu. Konyol? Ya, sangat konyol. Tapi itulah yang ingin aku ungkapkan. Supaya kamu tahu. Hanya itu. Tapi sayang aku hanya menulisnya disini.

Bukan di depanmu langsung. Ya benar, aku sangat pengecut. Dan karena suatu hal tertentu juga. Aku tahu, kamu telah memilih hatimu, bukan? Biarlah, kini mungkin aku akan menyimpannya. Di dasar suatu yang abadi. Dan yang terpenting, aku tak pernah melupakanmu.Dan perasaanku tak akan pernah berubah bila suatu saat aku menemukan yang lain. Kamu tetap nomor satuku. Bahagialah sebagaimana kau bahagia!

Suatu yang Hilang

Suatu yang Hilang

Apa kau tahu bagaimana merasa kehilangan? Entah itu kehilangan barang berharga kalian atau pula kehilangan seseorang yang kau cintai. Aku merasakannya, tetapi bukan pada kedua aspek tersebut. Barang berharga serta orang yang kucintai masih ada. Lalu apa? Kau tahu, bagaimana merasa kehilangan suatu yang mendasar pada orang yang sangat dekat padamu? Pada orang yang kau cintai?

Aku merasakannya, orang yang aku cintai tiba-tiba sekarang menjadi seperti orang lain. Aku tak melihat dirinya seperti biasanya, seperti yang kukenal. Seperti halnya kali ini, aku mengajaknya makan siang di tempat yang sering kami kunjungi hari ini. Seharusnya ia datang lebih cepat dariku. Tapi kali ini tidak, aku masih menunggunya di warung yang menjual bakso malang ini. Tempat favorit makan siang kami.

Masalah ia lebih cepat datang atau tidak itu masih aku anggap wajar. Aku harus mengerti sibuknya ia dalam menjalankan bisnis kecilnya yang mungkin sebentar lagi akan menjadi besar. Ia membuka semacam distro di bilangan Jakarta Timur. Aku pernah dengar darinya, ia akan membuka cabang di berbagai kota, sepertinya bakal sampai di Bandung.

Berpikir positif, entah mengapa kalimat itu susah untuk dipraktikan. Kau tahu mengapa? Kalian pikir diantara semua pikiran yang positif apa selalu positif? Aku yakin pasti setitik pikiran negatif itu ada di antaranya. Mau bukti? Ya, itu terjadi padaku kali ini. Aku bingung dan sedikit merenung hingga tak terasa berapa lama tiba-tiba ada yang menyentuh pundakku. Dia.

“Hei, udah lama? Udah pesan?” tanyanya sambil melepas jaketnya lalu melipatnya asal. Ia duduk di sampingku.

“Hmm, belum. Aku nunggu kamu.” Jawabku, aku melihatnya sedang mengambil ponselnya. Sepertinya membuka pesan singkat seseorang. Aku tahu karena nada deringnya nada dering untuk pesan singkat. Ia membalasnya cepat. Ini salah satu dari yang hilang juga.

Ia selalu menanyakan kabarku, kali ini? Hmm, biasanya pertanyaan itu setelah menyapa. Tapi sekarang? Aku masih menunggu ia menanyakannya.

“Porsi biasakan?” tanyanya, bukan kabar tetapi porsi. Aku hanya mengangguk menjawabnya.

Ia pergi meninggalkan meja menuju tukang bakso untuk memesan pesanan. Aku melihatnya, ia sedang berbincang dengan tukang baksonya sambil menunjuk-nunjuk entah itu bakso, tahu, pangsit goreng, mie, di gerobak tersebut.

Setelah itu aku masih memperhatikannya dari tempat ku duduk. Ia terlihat merogoh kantung celananya, mengambil ponsel. Ada yang meneleponnya, ia segera mengangkatnya lalu berbicara dengan lawan bicara entah berada dimana. Cukup serius hingga sampai dimana ia merespon dengan senyum lebarnya yang sedari tadi belum muncul sama sekali.

Siapa yang meneleponnya? Ada apa? Kenapa dia tersenyum berbicara dengan lawan bicaranya? Kembali lagi harus berpikir positif. Mungkin saja itu dari bawahannya yang mengabarkan kabar baik padanya. Mungkin. Dalam pikiran positifku itu kata ‘mungkin’ yang menggangguku. Kata itu berkeliaran liar menuju kearah kiri garis bilangan. Semakin ke kiri semakin bertambah intensitas di bawah nol.

Mungkin saja bukan bawahannya, tapi siapa? Ibunya? Adiknya? Temannya? Atau jangan-jangan seorang perempuan-bukan ibu dan adiknya. Teman perempuannya? Dari situlah, kata itu semakin liar berlari-lari di pikiran yang awalnya positif itu. Tak hasil menduga-duga, aku termenung memikirkannya. Tak sadar dia telah usai menelepon dan kembali duduk di sampingku.

Lelah untuk menduga-duga, akhirnya aku menanyakan padanya, “Aku tadi sempat lihat kamu menerima telepon, siapa yang meneleponmu?”

Ia sedikit terkejut mendengar pertanyaanku, aku melihat dari wajahnya. Tak salah lagi ia sedikit shock mendengarnya. “E-eh… I-itu tadi hm… Bawahanku, tadi ia bilang udah dapat tempat di Bandung.” Jawabnya sedikit terbata-bata.

“Benar?” Tanyaku meyakinkan, masih sedikit ragu atas jawabannya. Aku melihatnya baik-baik raut wajahnya. Sedikit terlihat seperti menyimpan sesuatu yang besar.

Ia menelan ludahnya, suatu kebiasaan bila dia sudah susah berbicara dengan lawan bicaranya, aku tahu itu. “I-iya…” Dan jawaban yang tidak bisa menyakinkanku pada pernyataannya tadi.

Bertepatan ia menjawab, pesanan bakso kami sudah datang. Aku masih melirik-lirik gerak-geriknya sembari menuangkan sambal pada mangkukku. Entah sambal yang kutuang sudah benar cukup atau kelebihan. Tetapi saat kucicip sedikit sepertinya sudah pas.

“Minum apa?” Tanyanya, ia merogoh kantung belakang tempat dompet berada. Mengambil uang kertas berwarna biru.

“Es teh manis saja.” Jawabku singkat.

Dia terlihat memanggil seorang pelayan dan menyebutkan pesanan minumku dan juga dia. Dia mengasih uang yang barusan diambil serta menunjuk kedua mangkuk di atas meja. Setelahnya pelayan menganggukkan kepala dan pergi.

Satu lagi aku merasa suatu yang hilang. Dia sekarang menjadi pendiam. Biasanya saat makan bersama begini dia pasti cerewet minta ampun tentang apapun. Entah itu tentang adiknya yang membuat sibuk dirumahnya, bawahannya yang susah diatur, pekerjaannya yang sedang mengalami kemajuan, dan lain sebagainya. Tapi sekarang? Ia terlihat pendiam sekali, sekarang dia gelisah melirik-lirik jam tangan yang aku kasih pada ulang tahunnya tahun lalu.

Sekarang apa? Aku makin liar dalam pikiran-pikiran yang aku jelajah. Kenapa ia gelisah melihat jam tangannya? Apakah ada yang menunggunya? Siapa? Aku makin curiga apa yang terjadi. Aku memasukkan bakso ke dalam mulutku sambil meliriknya curiga dan dengan pikiran-pikiran yang makin liar.

“Bayu, kamu ada apa? Dari tadi lihat jam terus.” Tanyaku, aku harap pertanyaanku tadi tidak menunjukan ada unsur kecurigaan padaku. Sebisa mungkin aku menanyakan dengan baik.

Bayu malah terkaget aku menanyakan hal tersebut. Aku bahkan berharap dia tidak melihat aku curiga padanya. Bayu terdiam sejenak, entah untuk apa, mungkin untuk menjawab dengan baik, menjawab dengan baik kebohongannya.

Lagi, pikiran negatif kembali memasuki akal pikiranku. Aku tetap saja berusaha berpikir positif, tetapi kembali lagi. Dalam pikiran-pikiran positif itu tak mungkin selalu positif.

“A-aku pengen melihat tempat yang di Bandung tadi. Aku memikirkan apakah sempat bolak-balik Jakarta-Bandung sebelum sampai di rumah sebelum makan malam.” Entah itu jawaban yang menyakinkan atau tidak. Tapi semakin lama aku makin curiga padanya.

“Ah, kamu berlebihan. Sekarang Jakarta-Bandung gak sampai 2 jam. Kamu mau kesana sendirian? Aku boleh ikut? Mumpung hari ini aku libur.”

Bayu semakin aneh melihat respondku untuk ikut dengannya ke Bandung. Makin lama pikiran positif ini terganti oleh negatif semua.

“E-eh ja-jangan Ver, a-aku lagi pengen sendirian saja. Kamu mau dibelikan apa? Nanti aku belikan di sana.” Jawab Bayu tak menyakinkan. Aku hampir saja ingin memaksanya untuk aku ikut dengannya, tapi aku urungkan niat itu. Aku hanya menghela nafas.

“Gak usah, terima kasih.” Jawabku.

Setelah itu kami hanya terdiam menikmati makanan yang terhidang di depan kami. Tidak seperti biasa yang selalu ditemani dengan ocehan-ocehan. Kali ini sangat sunyi. Aku banyak mendapat kehilangan dari sosok dia. Bayu.

Ada apa denganmu? Kenapa denganmu yang sangat berbeda akhir-akhir ini? Apa aku melakukan kesalahan padamu hingga kau marah denganku? Ada apa? Aku kehilangan sosokmu yang dulu.

Aku melihat dirinya sedang merogoh kantung celananya, mengambil ponsel yang berdering nada pesan singkat. Ia membacanya serius. Lalu ia memasukkan kembali ponselnya tersebut.

“Maaf Vera, sepertinya aku harus segera berangkat ke Bandung. Pemilik tempatnya ingin segera ketemu denganku.”

Aku terkaget mendengarnya, tidak pernah dia pergi di sela-sela makan bersama seperti ini. Bila pergi ia biasanya menunggu hingga selesai. Tapi sekarang. Berbeda dengan sebelumnya.

“Eh? Harus buru-buru kah? Kita selesaikan saja dulu makan kita.” Respondku benar benar kaget tadi. Aku merasa ada yang salah di sini. Terutama Bayu.

“Maaf, aku memang harus buru-buru. Pemiliknya ingin ke luar kota beberapa jam lagi, jadi aku harus ke sana segera.”

“Tapi …”

“Kenapa?” tanya Bayu, Aku ingin menanyakan kenapa harus terburu-buru dan harus di sela-sela makan bersama ini. Tapi aku benar-benar kehilangan otot lidahku untuk mengatakannya. Semua menjadi berat dengan pikiran-pikiran liar ini.

“So, Am I must go home alone?”

“yeah, kenapa? Kau bisakan?” Bukan itu Bayu, bukan masalah bisa atau tidak. “oh, kau gak punya  ongkos?” Bukan itu juga Bayu. Why you can feel my feeling?

Aku menghelakan nafasku panjang, sudahlah ia sudah benar-benar berubah, setidaknya untuk akhir-akhir ini saja. Ya, semoga saja begitu.

“Tidak, bukan itu. Ya sudahlah, kamu hati-hati ya! Jangan ngebut!”

Dia menganggukan kepalanya. Dia memakai jaketnya dan merapikan keseluruhan penampilannya. Setelah itu dia kembali memanggil pelayan untuk meminta kembaliannya.

“Kau juga hati-hati, cepat pulang ya.” Ucapnya, aku hanya mengangguk pasrah. Dia bahkan tidak berminta maaf untuk tidak mengantarkannya pulang.

Setelah mendapatkan kembaliannya, ia bergegas keluar menuju mobilnya. Sebelumnya  ia sempat melambaikan tangannya. Aku membalasnya dari tempat dudukku. Setelah itu aku memandang mobilnya hingga tak terlihat lagi dari pandanganku. Aku menghelakan nafas entah sudah berapa kali aku melakukannya siang ini.

Entah apa yang sekarang atau nanti akan terjadi, aku hanya menduga-duga dari pikiran-pikiran yang akhir-akhir ini menggangguku. Apa aku melakukan hal yang sewajarnya atau tidak? Aku mendiamkan dan menyembunyikan semua yang ada di pikiranku pada Bayu. Apa aku melakukan hal yang benar? Aku cuma bersikap percaya padanya. Dari dulu. Bahkan sampai sekarang saat dimana dia agak berubah.

Aku menghelakan napas –lagi. Entah kenapa sering sekali aku melakukannya pada saat dimana semua merasa berat. Seperti itulah, saat menarik udara di sekitarku lalu menghembuskannya pelan dan panjang, aku merasa sedikit dari berat itu berkurang sedikit.

Jadi aku sendirian sekarang? Ditinggal di warung bakso saat sela-sela makan dengan kekasihku. Tunggu! Bukankah sedari tadi aku merasa sendirian? Iya betul, sedari tadi aku merasa sepi dan sunyi walau Bayu –yang sekarang berada di sampingku.

Merasa sudah tak ada minat lagi untuk menghabiskan makananku itu, aku segera keluar dari warung tersebut. Dan akhirnya sedikit merasa menghirup udara yang bebas, warung tersebut terlalu ramai oleh orang yang menikmati makanannya. Maka dari itu kadar oksigen di dalamnya harus direbut oleh banyak orang.

Ah, bagaimana kalau aku berjalan-jalan sebentar di tempat perbelanjaan? Sedikit merilekskan pikiran, mungkin akan sedikit ampuh cara ini. Apalagi kalau tidak salah tempat perbelanjaan favoritku itu sedang diskon besar-besaran. So, siapa yang gak tergiur untuk pergi ke sana.

***

Kalian tahu, bagaimana kalau pikiran-pikiran negatif itu menjadi suatu kenyataan yang menyakitkan? Apa yang akan kalian lakukan? Kalian bisa membayangkannya? Aku sedang mengalaminya. Tidak perlu membayangkan, itu sudah terjadi dan terlihat oleh mataku sendiri.

Bayu. Ia terlihat dengan seorang perempuan di pusat perbelanjaan yang aku kunjungi setelah makan siang bersamanya. Tadinya aku ingin menenangkan pikiranku sejenak di sini, tetapi bukannya menenangkan tetapi malah memberatkan.

Kini aku ada di depannya dan sudah jelas juga di depan perempuan di sampingnya itu. Aku menatapnya dengan tajam, apa yang mereka lakukan di sini? Bukankah Bayu tadi bilang akan ke Bandung? Apa sekarang Bandung sudah berpindah tempat di sini?

“Bayu! Apa yang kau lakukan? Apa maksud semua ini hah? Apa BAYU? APA?” tanyaku membentaknya, tak menghiraukan orang-orang di sekeliling yang memperhatikan keributan ini.

“Ve-Vera? Kenapa kamu ada di sini?” tanyanya. Sedikit terkejut melihatku.

“Hah? Bukankah aku yang harus menanyakan itu padamu HAH? Kenapa kau di sini? Bukannya kau mau pergi ke Bandung? Atau sekarang Bandung sudah berpindah tempat di sini? Dan siapa dia? Kau bermain di belakangku selama ini? Sudah berapa lama HAH?” Tanyaku makin ingin sekali marah dengannya. Emosiku sudah berada di tingkat zona tidak aman.

“Ver, kamu salah paham, ini ….”

“Salah paham bagaimana? Kamu sudah membohongiku. Kamu bilang ingin ke Bandung, tapi apa? Kau pergi ke sini, dengan DIA.”

“Mbak Vera, maaf, benar kata Bayu, ini salah paham.” Ucap perempuan yang sedari tadi berada di samping Bayu.

“Kamu jangan ikut campur! Aku pikir kamu sekarang makin banyak berubah, Bayu. Aku pikir itu semua karena perkerjaanmu. Aku setiap kali menanamkan pikiran positif karena itu, tapi sekarang aku melihat pikiran negatif di sela-sela pikiran positifku.

A-Aku benci kamu, Bayu. Aku benci. Kamu tahu, semua ini sudah membuatku muak? Pikiran-pikiran ini, kamu yang berubah, kamu yang sudah berbohong, dan aku malah percaya dengan kamu. Ini semua memusingkan. Aku benci kamu, Bayu!” Air mataku pun keluar tak terkendali lagi. Sedari tadi ku menahan supaya tak keluar tetapi ternyata gagal. Air mata ini benar-benar jujur pada perasaan ini.

Aku pun meninggalkan mereka berdua, aku berlari menuju pintu keluar masih dengan ditemani air mata ini. Air mata yang mengandung banyak makna di dalamnya. Kecewa, marah, sedih, semua bercampur aduk di sana. Aku masih mendengar Bayu berteriak memanggil namaku. Aku tetap berlari keluar sambil menahan laju air mataku.

“VERA, VERA, TUNGGU!” Teriaknya, Bayu. Aku makin cepat berlari yang jauh dan sampai di sebuah taman kecil di tempat perbelanjaan itu, aku terjatuh.

Aku tak kuat lagi berdiri, apalagi untuk berlari menghindari Bayu. Aku menangis terduduk. Dan sampailah dimana Bayu sudah berada di sampingku.

“Kamu gak apa-apa?”

“Jangan sok peduli padaku lagi!” ucapku sinis padanya.

“Vera, tolong dengarkan aku. Ini semua salah paham.”

“Salah paham dimana? Aku gak mengerti, Bay. Kamu membohongiku pergi ke Bandung tetapi kamu malah ada di sini dengan perempuan lain. Salah paham dimana? Hah?”

Aku sangat marah padanya kali ini, bagaimana tidak marah kalau dimana orang itu percaya pada orang terdekatnya tetapi malah membohonginya. Sama sepertiku kali ini, mempercayai kekasihku tetapi malah dibohongi.

“Aku melakukan ini demi kamu, Vera.”

Aku terkaget mendengar pernyataan itu darinya. Apa aku tak salah dengar? “Maksudmu apa?” tanyaku.

Bayu menghelakan napasnya, ia seperti mulai mencari-cari kata yang susah untuk diucapkan. Aku mengerutkan keningku melihat ekspresinya. Tak seperti biasa.

“Sebenarnya aku akan bilang ini besok, tetapi situasinya seperti ini sepertinya terpaksa hari ini aku akan jelaskan semuanya.”

Bayu merogoh kantung jaketnya, mengambil suatu benda. Benda itu semacam kotak kecil dengan hiasan kayu yang di pesan khusus sepertinya. Dia memberikannya padaku. Aku menatapnya heran.

“Itu, itu alasan aku berbohong hari ini dan sedikit berubah akhir-akhir ini. Kamu boleh membukanya.”

Aku menatapnya heran dan memandangi kotak kecil ini, seperti yang ia bilang aku membuka kotak ini. Perlahan kubuka dan ternyata. Oh my god. Ini? Apakah Bayu? Aku memandangnya kaget dan menatap Bayu perlahan.

“Bayu … Ini?” Ucapku tak bisa melanjutkan kalimatku akibat terkagumnya dengan benda yang ada di tanganku ini. Cantik dan berkilau.

“Iya, aku berbohong untuk ini dan kalau masalah berubah itu karena aku berpikir keras untuk mempersiapkan matang-matang untuk besok, 2 tahun kita. Tapi nyatanya aku kasih itu sekarang, sayang sekali tempat yang udah di reserved gak digunakan.”

“Ah? Besok?” ucapku bingung dan aku melihat jam tanganku yang terdapat tanggal hari ini. 22 Mei, berarti besok. “Oh, gosh. I forget it.”

“Dan aku tahu kau pasti lupa itu, makanya aku ingin kasih surprise, tapi jadi begini.” Ucap Bayu sedikit pelan, mungkin dia sedikit berpikir bahwa rencananya jadi gagal. Aku merasa bersalah padanya.

“Maafkan aku.” Ucapku tulus, aku benar-benar merasa bersalah padanya. “Lagian kamu bawa-bawa perempuan lain itu. Dia siapa?”

“Owh, Rumi? Kalau itu karena ini.” Bayu mengambil kotak berserta isinya itu, lalu mengambil isinya yang terlihat berkilau dan berbentuk lingkaran itu. Dia meraih tangan kiriku dan memasangkan benda itu di jari tengahku. “Itu sepupu jauhku, aku cuma memintanya untuk menjadikan jari palsumu. Aku lihat jarimu dan jarinya hampir sama, so bukankah sekarang pas denganmu?” Ucapnya dengan senyum yang mengembang di wajahnya, itu senyum untukku, senyum yang kurindukan. Dia kembali, yang hilang itu kembali.

Sepertinya aku sudah menemukan Bayu yang kukenal dulu, sepertinya pikiran-pikiran negatif ini hanya sebagian ujian untuk mempercayai orang yang kusayang. Ternyata yang hilang itu suatu saat pasti akan kembali, dalam bentuk dan cara yang lain. Bukan begitu? Yah memang begitu, itulah yang terjadi sekarang. Owh iya mungkin aku juga harus meminta maaf pada Rumi sepupunya Bayu itu.

“Jadi bagaimana kalau acara yang kubuat besok untuk kita aku batalkan saja, kau sudah mempunyai itu sekarang?”

“EH?”

“Hahaha.”

Itulah Bayu yang kukenal.

 

The End

Matanya

Memandang matanya aku terhanyut

Deras arus sungai membuatku susah menepi

Memandang matanya aku membeku

Dingin Kutub Utara sampai ke negara tropis

Memandang matanya aku terbang

Balon udara ini tak kunjung turun

Hanya matanya yang membuat aku tak biasa

Mata seorang yang melebihi dewi kayangan

Matanya