Senja Hilang

Suatu yang tak pernah terjadi akhirnya terjadi. Ia sangat tidak ingin melihat kenyataan yang dulu sudah ia ketahui. Ia pura pura tidak mengetahui hal tersebut.

Bagai serangan pisau pisau kecil di dalam dadanya saat akhirnya kenyataan itu datang. Suatu yang tidak ingin ia lihat, layaknya ia melihat senja yang selalu ingin dilihat tapi akhirnya senja itu perlahan menghilang dan digantikan oleh malam yang gelap.

Ia sekarang melihat malam, bukan senja. Malam yang dingin, gelap, dan kelam. Ia menangis di hadapan malam. Terakhir kali ia menangis di hadapan senja, tetapi bukan tangis kepedihan tapi tangis kebahagiaan.

Selama di hadapan senja ia selalu bahagia, tertawa, tersenyum, dan hal hal lain yang indah menurutnya. Tapi sayang senjanya hilang sekarang ia sedang di hadapan malam. Menangis, cemberut, sedih, dan hal hal lain yang pilu.

Tapi ia melupakan satu atau dua hal di hadapan malam. Senjanya hilang dan tergantikan malam. Ia lupa dengan malam yang indah, layaknya senja yang pernah ia miliki. Malam yang bertaburan bintang yang berkelip serta bulan lengkung yang melengkung indah.

Ia sekarang memiliki malamnya. Seperti senja yang ia miliki. Ia bahagia di hadapan malam. Malamnya.

Suatu yang hilang akan mendapat gantinya. Mau itu sama ataupun lebih dari yang hilang tersebut.