It’s Moved, Baby~

YUP! GALLERYWORDS pindah ke platform Blogspot dengan semangat baru! It’s nice to be here at wordpress, tapi kali ini saya memutuskan untuk meninggalkannya.

Kalian bisa melihat tulisan-tulisan saya di blog sana, mungkin sedikit berbeda tetapi punya core yang sama seperti di sini. Silakan dilihat langsung dan kalau perlu di-follow atau berkomentar di sana.

http://gallerwords.blogspot.com 

Bye wordpress, bye guys, see you on my new blog there~

Lepaslah

dan katanya setiap bait menghasilkan memori yang indah, dan katanya setiap larik menghasilkan emosi yang kuat, dan katanya setiap puisi menghasilkan sesuatu yang abadi.

Deras angin membasahi bumi
Gelap, kelam, menghiasi langit
Dingin yang menusuk jantung
Kini hujan bukan sekadar memori

Biarlah tetes-tetes air menari sepi
Begitu juga dengan kenangan pahit ini
Segalanya terasa perih menyayat
Dingin masih menusuk-nusuk

Bisakah hujan menyepi
Bersama dengan segala perih
Melepaskan segala kenangan yang hinggap
Lalu menghilanglah seperi debu-debu
di tengahnya deras angin yang masih membasahi bumi

-Sektor 7, Desember 2014

Pahami Liberal Arts, Dapatkan Inspirasinya

“Berikan yang kamu punya. Bagi seseorang, bisa jadi itu berguna baginya melebihi dugaanmu.” -Henry Wodsworth Longfellow (Show Your Work by Austin Kleon)

It’s been a while sejak terakhir saya menuliskan sebuah puisi di bulan Maret. Tidak terasa sudah di penghujung akhir tahun dan kini saya menyempatkan untuk menulis kewajiban yang saya dapatkan. Jangan tanya mengapa saya baru muncul lagi dengan tulisan bukan fiksi, bukan review novel atau film, dan hanya berisi artikel. Jangan khawatir, saya rasa topik artikel ini akan sangat menarik dan membantu proses kalian untuk mencari-cari ide dan inspirasi (begitulah yang mungkin terjadi).

Kali ini saya ingin berbagi mengenai Liberal Arts. Rasanya banyak dari masyarakat kita atau bahkan pelajar-pelajar Indonesia yang tak mengetahui liberal arts ini. Begitu pula saya pada awalnya, saya bertanya apa ini, seni kebebasan kah? Seni yang liberal kah? Ya, saya pikir liberal arts ini adalah sebuah seni. Kalau kalian berpikir hal yang sama, kalian salah besar. Lalu apa sih Liberal Arts ini?

Liberal arts ini semacam konsep pelajaran studi, iya pelajaran. Jadi dahulu kala di Eropa liberal arts ini menjadi cabang ilmu yang dipelajari di sekolah. Dulu yang namanya belajar itu sudah merupakan keharusan untuk bisa bebas dari budak. Maka dari itu liberal arts ini salah satu caranya untuk mempelajari ilmu dan juga dianggap penting saat itu. Apa sih yang membedakan dari pelajaran atau ilmu yang lain?

Liberal arts ini mencakup semua ilmu yang ada dan kita hanya mempelajari dasar-dasarnya. Dulu mereka membaginya dalam tujuh bidang, antara lain ada tata bahasa (grammar), logika, retorika, geometri, aritmetika, musik, dan astronomi. Melihat tujuh bidang ini di jaman dahulu memang pantas menjadi ilmu-ilmu yang perlu dipelajari. Kini mungkin saja kita tidak membatasinya dengan tujuh bidang ini, kita tahu ilmu pengetahuan kita sekarang dapat berkembang seiring jalan dan mungkin ada ilmu-ilmu baru lainnya. Liberal arts kini tak mengenal batasan, kita bahkan bisa dengan bebas memilih untuk mempelajari yang mana saja.

Saya pribadi mengartikan liberal arts ini sebagai wadah dari ilmu-ilmu. Kita bisa memasukinya dengan ilmu-ilmu yang kita inginkan dan mempelajari dasar-dasarnya. Kemudian kita bisa saja menghubungkan dengan ilmu yang kita dalami atau profesi kita.

Nah lalu apa sih manfaatnya?

Menurut saya setelah memahami dan sedikit belajar tentang liberal arts ini yang saya dapatkan adalah wawasan yang lebih dari sekadar dasar. Bahkan saya ingin lebih mengetahui dari apa yang dipelajari. Kenapa? Pertama, saya mendapatkan beberapa inspirasi di dalamnya. Entah kenapa ada saja ide yang muncul beberapa bulan ini, saya rasa karena liberal arts ini membantunya. Kedua, kalian mungkin jadi tertarik di berbagai hal setelah memahami dan belajar tentang liberal arts.

Intinya sih, kalian dapat wawasan luas saat belajar liberal arts ini. Memahami apa yang kita gak tahu selama ini. Mungkin juga kita akan lebih peka terhadap isu-isu yang ada di masyarakat.

Sebagai penulis saya tahu dan paham akan mengetahui banyak macam hal, wawasan penulis harus luas. Liberal arts ini adalah salah satu cara untuk membentuk wawasan yang luas tersebut dan mengetahui banyak macam hal. Sebagai penulis mungkin kita perlu yang namanya riset untuk menulis artikel, buku, atau novel, liberal arts ini mungkin dapat cukup membantu untuk mendapatkan sebuah ide atau inspirasi. Seperti yang saya terangkan, kalau kalian dapat memanfaatkan wawasan yang kalian dapat saat atau setelah mempelajari liberal arts ini, ide itu tinggal kalian pilih. Saya yakin dengan hal itu, wawasan yang luas adalah sumber inspirasi.

Saya selalu percaya bahwa kita itu diharuskan memahami banyak ilmu. Saya bahkan dulu pernah bertanya mengapa harus mendalami satu ilmu bila kita bisa memahami banyak ilmu walau hanya sebatas dasarnya? Melalui liberal arts ini kalian diwadahi untuk itu. Di Indonesia sendiri sudah sedikit mulai mengarah ke arah sana, beberapa universitas sudah memakai konsep liberal arts ini. Saya juga pernah baca salah satu siswa yang sharing pengalamannya saat belajar di salah satu universitas liberal arts luar negeri, kalian bisa search di google.

Terakhir dari saya “Janganlah terpaku pada satu hal bidang, luaskan wawasanmu!”

Teruntuk Cinta

Untuk teramat nama cinta
Bisa tinggalkan aku bentar waktu
Memahami apa yang tak bisa kulakukan
Biar waktu yang menjemputmu nanti

Tak butuh alasan
Tak butuh dusta
Aku ingin merasakan dunia
Setiap elemennya serta skenarionya

Satu langkah aku maju
Satu langkah aku mundur
Kembali, setiap insan merasakannya
Dunia merancangnya

Cinta, apa waktu mempermainkanku
Atau aku yang mempermainkan waktu
Kembalikah aku walau tak ingin
Cinta, bawa aku pergi
Jemput aku dengan waktumu

Peramu Hujan

Source: bagusjuga.com

Akulah peramu hujan
Pencipta sang sendu
Terkadang membuat tangis
Sejak matahari terbit hingga terbit kemudian

Akulah peramu hujan
Hati, perasaan, dan cita sebagai bahan
Sejuk dan dingin sebagai pelengkap
Angin dan badai pun menemani

Akulah peramu hujan
Di setiap hujan kau dapat melihatku
Dengan satu syarat dan jaminan
Patah hatilah dan berikanlah cintamu

Aku peramu hujan
Siap memberi kehangatan
Kala sedih hingga riang
Di tetesan butir air yang terakhir

Review: Private Eye in the Distant Sea

Balik lagi dengan review film anime, kali ini saya review dari serial karangan Aoyama Gosho, Detective Conan. Setelah lama menunggu hasil subbing dari dctp, minggu lalu akhirnya menonton movie ke 17 ini, fansub by The Moonlighters. Sedikit kecewa karena pada akhirnya saya berharap banyak dari dctp. Kedua kalinya sejak tahun lalu menonton dengan fansub yang berbeda, tidak dari dctp lagi.

Sejak April sudah berharap banyak tentang movie ke 17 ini. Terlebih lagi melihat trailer video-nya yang di mana terlihat Conan meneteskan air matanya. Peristiwa yang langka sekali dalam serial Detective Conan, seingat saya Conan/Shinichi tidak pernah menangis sama sekali. Oh iya, jika kedua movie sebelumnya bersangkutan dengan bom, berbeda dengan movie kali ini yang menyangkutkan tentang pertahanan sebuah negara.

Diceritakan Conan dan kawan-kawannya mendapat kesempatan untuk menaiki kapal Aegis yang merupakan kapal pertahanan di pesisir lautan Jepang. Mereka semua menyaksikan sebuah simulasi Aegis ini saat beroperasi. Dalam simulasi tersebut terlihat ada yang mencurigakan bahkan setelah simulasi selesai Conan dan Ran tak sengaja menguping staff yang menemukan potongan jasad. Sejak itu kasus dimulai secara diam-diam karena tidak ingin penumpang lain ikut terlibat.

Singkat cerita, setelah beberapa hipotesis dari beberapa orang hingga terungkapnya file data yang dicuri oleh seorang spy negara asing. File tersebut berisi letak kapal-kapal Aegis di beberapa pesisir Jepang. Jika hal tersebut diketahui oleh negara asing, akan menjadi masalah. Bersama pihak kepolisian dan beberapa staff dari badan pertahanan Jepang mereka mencoba mencari siapa spy tersebut.

Pada akhir terjadilah twist yang di mana jasad yang ditemukan tidak ada kaitannya dengan spy. Cerita tak selesai dengan penjelasan dari Kogoro Tidur. Mereka semua mencari Ran yang hilang di lautan. Dan di sinilah momen Conan meneteskan air mata itu.😀

Secara keseluruhan, movie kali ini berada di rata-rata. Mengapa? Menurut saya terlihat tanggung sekali. Kasusnya terlihat tanggung, timeline cerita hanya berlangsung sehari saja, itu pun tidak penuh sehari. Dan hanya terjadi di kapal tersebut. Peran Heiji dan Agasa yang mencari data di luar kapal tersebut hanya sebagai supporting saja.

Mungkin ini juga movie Conan yang pertama yang timeline-nya kurang dari 24 jam. Seingat saya belum ada di movie-movie sebelumnya. (Kasih ralat bila salah mengenai hal tersebut :p) Setidaknya di movie ini kita sedikit diberi info tentang pertahanan di Jepang sana dan ini berkaitan dengan pertahanan lautnya. Coba saja Indonesia bisa belajar dari Jepang, mungkin pulau-pulau kecil yang di ambil negara tetangga tak pernah terjadi. Secara Indonesia dan Jepang sama-sama negara kepulauan.

Poin plusnya adalah diperlihatkan hubungan Heiji dan Kazuha yang mulai terlihat sedikit akrab. Tidak seperti biasanya. Khawatirnya Kazuha melihat darah pada Heiji dan Aksi heroik Heiji menyelamatkan Kazuha dari tembakan. Di lain pihak, Ran yang hilang di lautan membuat Conan/Shinichi cemas bahkan tak dapat mencari tahu bagaimana menemukan Ran di lautan. Begitu pentingnya Ran bagi Shinichi.

Walau tak begitu ramai, movie ke 17 ini harus banget ditonton karena sedikit melihat sisi yang berbeda dari movie-movie sebelumnya. Entah mengapa saya melihatnya seperti itu, mungkin karena kasus terjadi di satu tempat (walau ada support chara di luar kapal) dan timeline-nya kurang dari 24 jam.  Saya masih berharap akan ada movie yang sebanding dengan The Raven Chaser, Full Score of Fear, The Private Eyes’ Requiem, dan Captured in Her Eyes. Lima movie tersebut masih berada di peringkat teratas bagi saya sendiri.

Untuk Movie 18 saya berharap banyak sekali karena membawa aksi karakter-karakter baru seperti Sera, Okiya, dan Amuro. Mungkin juga bersangkutan dengan FBI dan juga mungkin muncul beberapa anggota Black Organization. Let’s see maybe kebenaran tentang Akai akan dimunculkan di movie ini atau bahkan sebelum/sesudah movie ini rilis.

And this is the pict teaser for Movie 18

Judul The Sniper from Another Dimension, tapi entah ini sudah resmi atau belum. Melihat sudah banyak yang menyebutkan judul tersebut sepertinya sudah resmi. Judul jepangnya Ijigen no Sniper. Untuk berita lengkapnya check http://www.animenewsnetwork.com/news/2013-11-29/detective-conan/ijigen-no-sniper-film-opens-in-april. 

Jadwal rilis di Jepang: April 19, 2014.

Untuk sekuel Lupin the 3rd vs Detective Conan juga akan rilis di Jepang Sabtu tanggal 7 Desember 2013. Mungkin Kaito Kid akan muncul juga di film ini. :p

See you in next review🙂

Untuk Kamu

Bisakah kita menjadi satu bila jarakmu terlalu jauh.

Sudah setahun terakhir ini kita berpisah. Banyak sekali momen yang terlewatkan bersamamu di sini. Seperti sebuah reuni SMP kita dulu, hampir semua alumni datang dan mereka mencarimu. Di reuni itu aku jadi tahu ternyata banyak sekali penggemar rahasiamu. Mereka berterus terang dan bercerita padaku, aku tersenyum mendengarnya.

Aku juga bertemu dengan teman-teman band-mu saat SMA. Kau ingat Fredy? Dia sekarang berada di Jepang, menjadi sound engineer. Mereka semua berkumpul saat tanggal di mana kalian perform untuk pertama kalinya di panggung. Mereka mengundangku sebagai perwakilanmu.

Terakhir saat pergantian tahun. Aku hanya pergi sendiri melihat pesta kembang api. Oh iya, Ibu juga meneleponku. Menanyakan kabar tentangku dan mengucapkan selamat tahun baru. Beliau sangat baik, tak lama setelah itu aku bertemu dengannya. Menemaninya jalan-jalan di pusat perbelanjaan.

Dan kini sudah setahun kita berpisah. Entah kenapa aku selalu merasa kamu masih berada di sampingku. Apa kamu juga merasakan hal yang sama? Kemungkinan gaya magnet kita juga menipis, aku merasakan itu. Perlahan mulai redup dan mungkin akan hilang.

Aku rasa sudah waktunya aku menjalani lembaran baru. Semoga kamu senang dengan keputusanku.

Terakhir dariku, jangan cemaskan aku di sini. Semoga istirahatmu di sana masih selalu damai bersamaNYA.

Di pusaramu, 01-12-2013.